Home > Ekspresi > Antara Takut Dan Berani

Antara Takut Dan Berani

February 25th, 2013 Leave a comment Go to comments

Jika ada yang mengatakan bahwa takut dan berani itu beda2 tipis, saya jelas tidak sependapat karena takut dan berani adalah dua perkara yg bertolak belakang. Dikatakan takut karena tidak berani dan disebut berani karena nggak takut.

Karena perbedaan itulah maka saya ingin mengatakan bahwa jika takut ya jangan berani2 dan kalau memang berani ya jangan takut2. Intinya dalam menjalani sesuatu jangan setengah2. Kalau takut jangan dipaksakan, kalau berani jalankan!

Banyak hal dalam kehidupan yang butuh perhitungan matang dan perlu ketegasan. Berani jangan asal berani, kalau takut harus cari solusi. Berani yang asal berani sama saja bunuh diri, takut yang terus menerus akan membuat peluang jadi pupus.

Saya agak takut mengatakan jika saya ini pemberani tetapi saya berani mengatakan bahwa saya ini sebenarnya penakut. Setakut2nya orang pasti ada beraninya, seberani2nya orang pasti ada takutnya. Jadi jika ada yang mengatakan bahwa takut dan berani itu beda tipis adalah benar adanya

Semoga yang membaca nggak takut dan berani mengatakan bahwa postingan saya ini amat sangat tidak konsisten, terutama antara paragraf pertama dan keempat

~ Grazie ~
Categories: Ekspresi
  1. February 25th, 2013 at 14:28 | #1

    ini kaya ungkapan tong sam chong di serial Kera Sakti, kosong adalah isi, isi adalah kosong :))


    Tong Sam Cong memang banyak kalimat filosofinya Mas

    [Reply]

  2. February 25th, 2013 at 14:43 | #2

    nice post 😀 salam kenal yaaaa


    nice comment…
    Salam kenal kembali

    [Reply]

  3. February 25th, 2013 at 14:45 | #3

    Hehehe bacanya serasa lagi belajar tasawuf…sipp pak


    Ini hanya attawasut Mas…
    Tulisan sederhana 😀

    [Reply]

  4. February 25th, 2013 at 14:53 | #4

    Kalau berani yah jangan ada kata takut itu namanya ragu melakukannya.

    Kalau takut yaudah pasti tergantung dari apa yang dihadapi. Karena ketakutan itu ada macam-macam kondisi dan situasi saat itu kita berada.


    Memang nggak boleh setengah2

    [Reply]

  5. February 25th, 2013 at 15:25 | #5

    benar mbahKung,
    sebaik2nya berani adalah karena benar, bukan asal berani.
    makasi atas sharingnya, yang berani anti biasa.


    Salah juga musti berani Ngai
    Berani mengakui dan berani memperbaiki

    [Reply]

  6. February 25th, 2013 at 16:04 | #6

    Katanya tidak sependapat, tapi akhirnya mengakui juga kalau berani dan takut itu BEda TIpis a.k.a BETI. 😀

    Salam kenal ya, Sob. 😀


    Untuk mengakui butuh keberanian luar biasa…
    Salam kenal kembali bro

    [Reply]

    cumakatakata Reply:

    iya nih…. #upppst…
    Salam kenal juga Pak..
    Kalau mau nyalahkan jangan nyalahkan saya ya Pak, salahkan Mbak Idah mawon… 😛


    Saya bagian membetulkan saja… 😀

    [Reply]

    Idah Ceris Reply:

    Om Cumakatakata mbuntuuut teyuuus…


    Dan yang dibuntuti cuma Mbak Idah…

    [Reply]

    Wong Cilik Reply:

    wah lama menghilang ternyata ada kabar baru nih … *kompor


    Ini sich bukan kabar Mas 😀

  7. February 25th, 2013 at 16:06 | #7

    banyak yang beraninya kepada yang sudah kalah, “gantung anaaas…” 😀


    Wanine karo ngisoran

    [Reply]

  8. February 25th, 2013 at 16:53 | #8

    Ada banyak kata takut dan berani di postingan ini pak 🙂


    Karena memang sedang membicarakan itu Mbak 😀

    [Reply]

  9. February 25th, 2013 at 17:09 | #9

    sebenarnya orang yang dibilang berani harus takut dulu…. kalau ga gimana coba, pasti jadinya biasa aja deh…


    Disebut berani karena ada yang takut 😀

    [Reply]

  10. February 25th, 2013 at 18:44 | #10

    antara takut dan berani juga nulis komen di blog pak guru 😀


    Antara takut dan berani itu istilahnya apa ya Mas 😀

    [Reply]

  11. February 25th, 2013 at 19:38 | #11

    tapi jangan sampai takut untuk berani


    Orang yang takut untuk berani akan jadi penakut seumur hidup

    [Reply]

  12. February 25th, 2013 at 20:08 | #12

    ditengah-tengahnya..ragu-ragu pakde yach


    Jangan pernah ragu Bli…

    [Reply]

  13. February 25th, 2013 at 20:36 | #13

    Kalau aku jg membedakan antara takut dan berani Pak Mars. TAkut bukannya tak berani dan berani bukan berarti tak ada takutnya. Dua konsep itudibedakan dari cara memenejnya…


    Kita harus bijaksana mengkomposisikannya ya Bu… 😀

    [Reply]

  14. February 25th, 2013 at 22:18 | #14

    jangan takut2 ikut kontes kami pak ..*menunggu foto pak mars yang dipangku eyang 🙂


    Hahahaha
    Fotonya bukan orang tua bersama anak tapi orang tua bersama orang tua sekali 😀

    [Reply]

  15. February 25th, 2013 at 22:32 | #15

    berani karena benar takut karena salah…


    Sayangnya banyak sekali pejabat kita yg berani berbuat salah

    [Reply]

  16. February 26th, 2013 at 02:00 | #16

    Saya setuju sekali dengan paragraf pertama dan saya juga sangat setuju dengan paragraf keempat Pak… 🙂


    Berarti sepakat untuk tidak konsisten ya Mas 😀

    [Reply]

    cumakatakata Reply:

    Asalkan itu baik Pak, why not 🙂


    Not Why Why…

    [Reply]

  17. February 26th, 2013 at 09:36 | #17

    memang paling enak mainnya di daerah abu abu pakde…hee…


    Main di SMA ya Mas 😀

    [Reply]

  18. February 26th, 2013 at 11:03 | #18

    tidak takut membaca postngan ini 🙂


    Makasih sudah berani ke sini…

    [Reply]

  19. February 26th, 2013 at 11:48 | #19

    saya berani untuk takut


    Saya takut bilang berani

    [Reply]

  20. February 26th, 2013 at 11:48 | #20

    siang pak mars,semoga sehat selalu
    hahahahahahaha…duh pak mars,saya baca ini ngakak daritadi hehe


    Selamat siang Mbak…
    Makasih doanya…
    Saya sehat saja.
    Salam…

    [Reply]

  21. February 26th, 2013 at 13:40 | #21

    seringnya denger kata – kata ini Pak : ‘ nek wani ojo wedi – wedi, tapi nek wedi ojo wani – wani ! ‘


    Tulisan ini juga terinspirasi dari kata2 dalam Bahasa Jawa itu Mbak… 😀

    [Reply]

  22. Imelda
    February 26th, 2013 at 14:49 | #22

    hahahha berani amat pak eM membuat paragraf yang sangat bertentangan spt paragraf 1 dan 4 itu 😀
    BUT aku sih maklum aja, wong pak eM itu ANTI BIASA 😀


    Dan ternyata kita ini amat dekat dengan apa yg dinamakan kontradiksi ya Bu…
    Dalam hati kita pasti banyak hal yg kontradiktif

    [Reply]

  23. Kucing Dolby
    February 26th, 2013 at 14:57 | #23

    salam kenal yah mas 😀


    Salam kenal juga Mas/Mbak 😀

    [Reply]

  24. February 26th, 2013 at 16:27 | #24

    Muter-muter jadi pusing, Pakdhe.
    Berani sama takut itu cuma tipis, Pakdhe. Sekali memutuskan berani maka rasa takut akan hilang, meski ga segampang itu juga sih.. 🙂


    ADa yg muter2 justru lagi nyari uang lho Mas…
    Contohnya pemain tong setan

    [Reply]

  25. February 26th, 2013 at 22:05 | #25

    Postingan Pak Em ini amat sangat tidak konsisten. [Ampun duko nggih Pak Mars, namung memBERANIkan diri co-pas quote].


    Saya jarang marah Mas…
    Takut Marah

    [Reply]

  26. Gunawan Wibisono
    February 27th, 2013 at 01:06 | #26

    Seorang penakut bahkan takut bilang ‘takut’ … dia beraninya bilang saya ‘gak berani’ …. 🙂


    Takut yang akut…

    [Reply]

  27. February 27th, 2013 at 07:19 | #27

    kalau menurut saya berani itu tetap berbeda dengan takut, pak..
    yang berani pasti tidak akan takut dan yang takut tidak mungkin akan berani. Konteksnya dibatasi. Tetapi keduanya memiliki persamaan yakni mereka memiliki satu poin utama yaitu seperti yang bapak katakan, lakukan dengan totalitas, jangan setengah2..


    Hahahaha
    Iya Mbak.
    Disebut berani kan memang karena tidak takut, begitu pula sebaliknya…
    Yg penting proporsional.
    Ada saatnya kita harus berani dan ada masanya kita harus takut.

    [Reply]

  28. February 27th, 2013 at 09:21 | #28

    “Lingua Gym” khas anti biasa

    Setakut2nya orang pasti ada beraninya, seberani2nya orang pasti ada takutnya

    Salam saya Pak Mars


    Hukum berkebalikan seperti itu berlaku untuk banyak hal Om…
    Segembira2nya pasti ada sedihnya, sesedih-sedihnya pasti ada gembiranya.
    Sekuat2 orang pasti ada lemahnya, selemah2 orang pasti juga punya kekuatan
    Salam Om

    [Reply]

  29. February 27th, 2013 at 10:51 | #29

    rodok mumet mocone. aku takut gak paham. tapi aku berani komen.


    Tulisan saya pasti gampang dipahami

    [Reply]

  30. February 27th, 2013 at 12:49 | #30

    Sampe tak ulang-ulang mbaca paragraf pertama dan terakhirnya itu. Ternyata diklarifikasi juga 😀

    Saya tau kalo OmMars takut di rumah sendirian. Dan saya juga tau kalo OmMars berani mengotak-atik kata sehingga seringkali menimbulkan ambiguitas 😛

    (kaboooorrr)


    Urusan takut menakut, apalagi tentang gelap dan sendirian amat susah dihilangkan Mbak…
    Mbuh piye kuwi carane ngilangi

    [Reply]

  31. February 27th, 2013 at 12:50 | #31

    orang berani karena bisa mengalahkan ketakutan… tapi kalau tidak punya takut, bisa langsung jadi berani nggak ya?


    Kadang orang berani karena tidak tau ya Mbak.
    Contohnya bayi berani deket2 buaya 😀

    [Reply]

  32. February 27th, 2013 at 12:51 | #32

    Lhadalah, komenku ditangkep satpam! Padahal aku gak takut-takut lho komennya 😛


    Sudah dilepas semuanya Mbak 😀

    [Reply]

  33. February 27th, 2013 at 20:46 | #33

    Berani (mengurangi) ketakutan, takut (mengurangi) keberanian, loh koq sama-sama mengurangi, mana ya +, x, : nya ya.


    Tambah Takut dan Kurang Berani 😀

    [Reply]

  34. March 1st, 2013 at 06:22 | #34

    membuat postingan tidak konsisten itu kan keberanian mas.
    Berani tampil beda juga meruapakan wujud ketidak takutan
    Salam hangat dari Surabaya


    Yang memprihatinkan ya kalau konsisten untuk tidak konsisten itu Dhe…

    [Reply]

  35. March 3rd, 2013 at 23:49 | #35

    setuju pk, ‘yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani’ kata2 yg dalam maknanya … 🙂


    Nah itu pepatah Jawanya Mas.
    Orang tua jaman dulu suka menasehatkan itu

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~