Baliho : Semarak Tapi Semrawut

Ketika awal kemunculan baliho, kota menjadi tambah semarak. Tapi seiring dengan banyaknya baliho yang dipasang tanpa didukung penataan yang baik dan aturan yang jelas, lama2 kesan semarak tadi berubah menjadi semrawut.

Selain penataannya yang sembarangan, ada kesan bahwa isi konten kurang terkontrol. Tak jarang terjadi perang kata2 antar pemasang baliho menggunakan kalimat yang terlalu vulgar. Memang ada yang tampilan dan materinya bagus, tapi itu bisa dihitung dengan jari. Selebihnya amat tidak mendidik dan bahkan nyaris kasar.

Bandingkan baliho pada gambar atas dengan yang dibawah ini…

Hal lain yang kurang mendapat perhatian adalah sisi keamanan. Pemasangan baliho yang asal2an tanpa didukung perhitungan teknis yang matang, banyak membawa korban saat tertiup angin lalu roboh dan menimpa apa saja yang ada dibawahnya. Bukan cuma sering tapi sangat sering.

Sudah saatnya para pengambil kebijakan tak cuma mikir pajak yang didapat dari tiap baliho yang terpasang, tapi juga harus memperhatikan segi keindahan dan keamanan.

32 thoughts on “Baliho : Semarak Tapi Semrawut

  1. ngeri liat baliho runtuh di gambar bawah pak mars, kalo kena pejalan kaki bisa celaka… , memang mesti diperhitungkan dari segi kemanan, lokasi, bahan baku dan teknis pemasangan yang tepat

    [Reply]

  2. kupu birunya luar biasa pakkkk…
    tunggu sriyono jadi walikota, balihonya harus seragam formatnya dan bahannya… merdeka…

    [Reply]

  3. Solus site … Estetika … Legal … and security …

    Ini syarat penempatan Out Of Home : Billboard placement yang baik …
    (halah malah ngasih training Om ini …)

    Salam saya

    [Reply]

    cerita budi Reply:

    Tidak salah Om…sependapat nich

    [Reply]

  4. wa kalau lagi musim kampanya mala parah….
    smoga mereka sadar..petingnya keindahan dan kselamatan
    btw gambar atas sendiri MANTAB hehe

    [Reply]

  5. Baliho koepoe biru itu ditaroh di mana saja tetap memenuhi standar estetika ya pak 🙂
    ** dan gak bakal rubuh krn kupu-nya bisa terbang.

    [Reply]

  6. Saya pernah mikir, daripada buat baliho yg tak betmanfaat, kenapa tidak memakai media lain sebagai iklan. Misalnya buat taman kota, iklan bisa dipasang di bangku, trotoar dll

    [Reply]

  7. Kalo ditata dengan baik sebenarnya baliho malah akan memperindah kota, tapi yang terjadi sebaliknya. Ya gitu deh akhirnya… 🙁

    [Reply]

  8. selain kotor bikin eneg ngeliatnya karena kadang mengganggu pemandangan berlalulintas dan entah bayar pajaknya bener atau nggak, termasuk gambar teratas 🙂

    [Reply]

  9. Pak Mars apa sudah izin mas Nakho, kok nampilin foto saya disitu? hehhehe… 😛
    kupu birunya bikin hatiku cenat cenut pak…

    kangen nanas n friends pak.. 🙂

    [Reply]

  10. Ada partai Koepoe biroe, ya mbak Imelda & Pak Mars? Wah, saya boleh ikut?

    Gambar yang terakhir ngeri banget, ya….. susah2 beli mobil, ringsek sedemikian rupa. Hiks… pengen nangis..

    [Reply]

  11. ya..”good governance”, seharusnya ketiga pelaku penyelengara pemerintahan (pemerintah, private, masyarakat) harus bisa saling mendukung dan bekerja sama untk menciptkan ketertiban…menjalankan peraturan yg telah dibuat..

    [Reply]

  12. konon pendapatan potensial bagi daerah .. cuman pengaturannya itu jadinya semrawut .. kurang memperhatikan keselamatan dan keindahan tentunya. Semoga ada penertiban ni kelak sehingga akan selalu terlihat indah dan memberikan rasa aman 🙂

    [Reply]

  13. setuju banget bang, untung rumah saya g tertiban tu baliho…kalau sampai tertiban balihu…bisa murka sa…n tak robohkan semua baliho di kota saya lalu tak ganti dengan pohon asem…lebih sejuk dan lebih rindang… 🙂

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *