Bicara Satu Satu

Seandainya setiap kita rela berbagi waktu, seandainya ketika ada yang sedang bicara kemudian yang lain memposisikan sebagai pendengar, maka seharusnya nggak akan terjadi peristiwa anggota dewan nggebrak meja pimpinan, nggak akan ada ricuh2 di pemilihan ketua umum PSSI dan sejenisnya.

Tapi ketika ada yang bicara lalu yang lain ikut bicara, maka yang terjadi adalah kejadian seperti yang selama ini kita saksikan. Setiap kita maunya didengar omongannya, tapi ketika ada yang ngomong kita tak mendengarkannya sama sekali. Kita belum terbiasa bicara satu satu.

50 thoughts on “Bicara Satu Satu

  1. napsu semua soalnya Pak
    Napsu bicaranya pada gede
    kuping yang udah dikasi 2 dari sonoNYa dianggurin
    engga dipake
    jadi ya gitu deh
    lagian emang luwih enak ngoceh ketimbang dengerin pak
    kan katanya klo udah tau *karena mendengar* dan tidak dilaksanain
    kan dosanya luwih gede ketimbang yang engga tau ..
    jadi kupingnya pada disumbat biar engga tau

    *kenapa saya jadi ngomel2 dimarih coba*


    Ngomel2pun, sepanjang dilakukan satu-satu nggak masalah, apalagi di blog ini, makin nggak masalah karena disini asyik2 ajah

    [Reply]

  2. ya terkadang itupun sudah membudaya. perlu pendidikan khusus berbicara mungkin,,hehe


    Kadang iri dengan budaya negara maju, yang serba teratur tiap mau usul atau berikan pendapat.
    Tepuk tangan juga teratur, seperti di pertandingan tenis

    [Reply]

  3. obsesi pengen masuk vocal group kuwi, Pak 😀


    Bener nDuk…
    Masyarakat kita baru cocok masuk vokalgroup atau playgroup

    [Reply]

    nh18 Reply:

    Vokal Group juga ada harmoninya lho Ram …

    Yang celaka kan … kalau sama-sama “nyanyi”
    Tapi lagunya beda-beda dan keras-kerasan …

    🙂


    Kalau nyanyi rame2 memang ada aturannya Om…
    Nah ini…
    Diskusi kok ngomong bareng

    [Reply]

    nh18 Reply:

    Dan lagunya …
    Salah syairnya pula …
    Sumbang pula

    (wah jadi curhat nih saya …)
    maap pak Mars


    Gpp Om
    Disini asyik2 aja kok

    [Reply]

  4. ngomongnya juga jangan bengok-bengok gitu ya… mengganggu tetangga..hehe


    Sudah mbengak mbengok, rame2 lagi…
    Kloplah!

    [Reply]

  5. saya yakin pak…ketika masa kuliah dulu, mereka “mbolos” tidak ikut makul “teori komunikasi” he…he…he…


    Udah mbolos, minum lagi 😀

    [Reply]

  6. Tuhan sudah memberikan isyarat mengapa manusia hanya diberi mulut satu dan dua telinga, tak lain adalah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

    Salam hangat dari Surabaya.


    Iya Dhe…
    Sudah ada saneponya

    [Reply]

  7. hehehe.. pasangan yg klop itu, pak mars. suka ngomong dan ga suka mendengar.
    sekalipun dalam persidangan yg memiliki tata tertib yang jelas, tetap saja jadinya tak jelas. apalah lagi dalam hidup yg aturannya tak macam sidang 😐


    Sempurnalah jadinya ya Pak…
    Semua maunya jadi pembicara.
    Trus pendengarnya siapa dong

    [Reply]

  8. Semua kalo “satu-satu” pasti berjalan tertib. Masuk tol satu-satu, masuk bioskop satu-satu, ke toilet satu-satu. Semua lancar.


    Siep…
    Begitulah seharusnya

    [Reply]

  9. Maen bolanya langsung sebelas orang, masa bicaranya satu-satu pak…


    Kalau itu kan mbengok Mas
    Kalau main bola bukan bicara namanya

    [Reply]

  10. aturannya sih emang satu-satu
    tapi org Indonesia kan mana ada yang taat aturan.
    Katanya aturan dibuat untuk dilanggar
    ya gitu deh

    EM


    Bener Bu.
    Aturannya memang sudah bener
    Yg mpraktekin yg norak

    [Reply]

  11. kalau bicara satu-satu lama selesainya pak he..he..
    jadi enakan keroyokan


    Kroyokan kalau kompak nggak apa2 Mbak…
    Kroyokan tapi kalimatnya beda2
    Nggak bisa didengarkan 😀

    [Reply]

  12. kalo berani maju satu satu..ehehe
    kayaknya masyarakat kita perlu didikan dan ilmu keberanian pak..
    masih pada penakut semua 😀


    Termasuk berani nunggu giliran ngomong Mas

    [Reply]

  13. Kadang kita sangat mahir untuk menjadi pembicara yang baik, namun seringkali gagal untuk menjadi pendengar yang baik. 🙂


    Betul Mas…
    Baru pinter ngomong

    [Reply]

  14. memang susah menjadi pendengar dan pengantri yang baik ya pak


    Iya Bang.
    Kapan ya semua bisa teratur

    [Reply]

  15. Betul Mas, … tradisi santun dalam berdialog belum tumbuh secara baik di masyarakat kita


    Harus kita mulai Mas

    [Reply]

  16. yah dasar mas pada egois , jadi bikin propokator aja tuh pemimpin nya, bingung kalo di pikir2mag negara indonesia mah


    Mau dibawa kemana ya?

    [Reply]

  17. Harus diajarkan sejak kecil sepertinya ya Pak, untuk belajar bicara satu-satu


    Butuh satu generasi untuk membudayakan itu Mbak

    [Reply]

  18. mungkin harus ada yg dibayar utk hanya menjadi pendengar ya Pak Guru? 😛
    salam


    Xixixi
    Mungkin itu salah satu solusi Bun
    Ada yg dibayar untuk ngomong, tapi ada juga yang dibayar untuk diam

    [Reply]

  19. setuju mister….anggota dewan itu seperti ibu2 yang doyang ngerumpi..berebut omongan yg gk bermutu… Mereka itu mewakili siapa ya?


    Mewakili Om Khay kaleee

    [Reply]

  20. Hmmm betul juga itu mas.
    Semua orang masih mau menang sendiri… agak susah kalau disuruh mengalah.


    Yg suka begitu biasanya malah orang2 yg punya kuasa Mas

    [Reply]

  21. betul pak… belum terbiasa bicara satu-satu…
    semuanya asal bicara.. banyak bac*t 😀


    Masih suka debat kusir & otot2an Mas

    [Reply]

  22. Wah,,, saya malah terbalik pak, tunggu orang diam baru saya ngomong..
    hihi..


    Nah seperti itu yg saya maksud

    [Reply]

  23. Itu memang bagian dari proses untuk bisa bicara satu-satu pak.


    Prosesnya nggak selesai2 Pak

    [Reply]

  24. Begini deh pribadi2 yg gak pernah dewasa. Kelakuan masih mending anak TK, betul pak? 🙂


    Yups, betul sekali Mas Darin

    [Reply]

  25. mau menang sendiri..itu manusiawi..but..ap kita bisa happy..so..it’s no 1 is toleransi..aku suka pohon ilmu pakguru..


    Matur nuwun Mbak Ning

    [Reply]

  26. Konon, untuk bisa menjadi pembicara yang baik memang harus belajar menjadi pedengar yang baik


    Setuju sekali Bi

    [Reply]

  27. Ya ilmunya juga masih segitu ya mau diapakan juga sama saja, kecuali kalau ada pembagian laptop baru mau satu-satu, Salam dari Pekalongan pak guru.


    Xixixixi
    Iya bener pak
    Kalau ada pembagian baru mau satu2

    [Reply]

    mediatangsel Reply:

    Avatar mas teguh ini mirip Tifatul Sembiring 😀

    [Reply]

    ImamS Reply:

    Avatar mas mediatangsel mirip Joshua “cicit cicit cuit” hwehehehehe… 😀

    [Reply]

  28. Ada bagi-bagi laptop? Mau dong. hehe…
    Benar sekali, pak. para dewan dan wakil kita harus belajar mendengarkan dengan baik sebelum berbicara. Paling sebel jika hujan interupsi. Tidak menghormati orang lain.


    Yg mau bagi2 laptop itu Pak Teguh Mbak 😀

    [Reply]

  29. Dalam keluarga juga harus begitu, ada yang mau mendengar. Tapi kalo nggak, maka tunggulah kehancurannya, tidak ada saling menghargai lagi namanya.

    [Reply]

  30. Apa itu bermakna bahwa yang dia inginkan hanya memiliki “mulut” tanpa mengharapkan memiliki “telinga” ???

    [Reply]

  31. emang susah ngajak orang untuk mengalah dan memberi kesempatan orang lain dulu. Mau bicara rebutan, pembagian zakat pun rebutan ampe keinjak-injak.
    Doh.. tepok jidat deh…

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *