Bukan Pedagang

Kalau saya mau, bisa saja jual buku matematika ke murid yang harganya Rp. 75.000 untuk satu semester dan itu pasti laku. Tapi itu tidak saya lakukan karena saya yakin bahwa harga tak selalu mencerminkan mutu.

Untuk pegangan siswa saya pakai diktat sederhana seharga Rp. 12.000 setahun, itupun nggak cash. Murid ambil bulan Agustus 2010 tapi hingga Mei 2011 ada yang belum bayar, padahal mereka sudah nggak kesekolah karena UN telah selesai.

Nggak rugi?
Enggak dong. Saya kan bukan pedagang. Kalau saya pedagang mungkin merasa rugi, karena segala sesuatu menggunakan prinsip laba rugi. Saya lebih suka pakai hati.
Ini bukan pamer tapi curhat dowang

Semoga murid saya baca tulisan ini dan yang merasa belum bayar buku matematika segera melunasinya. Kalaupun tak tertagih, saya akan mengikhlaskannya.

Kepada murid2 saya, semoga nanti lulus semua. Tenang2lah kamu karena saya nggak akan mendatangimu, apalagi sampai pakai jasa debt collector.

Kalaupun saya rindu kamu, semata karena kita pernah bersama dan sama sekali tak ada hubungannya dengan uang buku. Kakak kelasmu dulu juga begitu. Saya sudah tabah dengan berbagai cobaan…

75 thoughts on “Bukan Pedagang

  1. Seandainya semua guru2 seperti ini
    berapa kerugian negara? nggak akan ada
    semoga rizki pak mars selalu diberi Allah. amin


    Makasih Mbak…

    [Reply]

  2. andai semua guru dan semua orang, kecuali yang pedagang, benar-bener pedagang, bisa seperti sampean pak……


    Semua tinggal niatnya Mas…
    Kalau mentalnya pedagang dan niatnya cari untung ya akhirnya yg dipakai buku yg mahal, karena diskonnya mencapai 35%

    [Reply]

  3. Wah, salut pak. Saya masih inget gimana sekolah saya dulu, tiap semester harus beli buku, dan hukumnya wajib! Gila aja, persemester bisa mencapai Rp.500.000 hanya untuk beli semua buku pelajaran.
    Oh, guru sambil berjualan..! 😀


    Kalau dipukul rata harga per semester 50 ribu, padahal kelas 1 ada 15 mapel, maka untuk 1 semester saja orang tua musti sediakan 750 ribu Mas…
    Lebih mahal drpd biaya buku kuliah

    [Reply]

  4. Alhamdullilah pak, kemarin paket bukunya sudah sampai kerumah.
    Sekali lagi terima kasih ya, sangat bermanfaat banget pak! 😀


    Smoga bermanfaat Mas

    [Reply]

  5. saya pernah nyaur utang buku LKS matematika kepada guru saya sewaktu saya masih smp,padahal saya sudah lulus sma,hanya 5000 dowang tapi itu adalah hutang,anehnya uang itu malah ditolak, lebih anehnya lagi malah saya dikasih ensiklopedia matematika,padahal beliau tau kalao saya ini sudah tidak sekolah.i love u bu yayuk, semoga Alloh melimpahkan banyak karunianya padamu.


    5000ne wis ra payu kuwi Mas

    [Reply]

  6. Hahahaha, pesannya membuat saya ingat istri yang selalu nyatet2 setoran LKS murid-muridnya. Rp1000 atau kadang cuma 500/bulan. 😀


    Kadang juga blas nggak ada setoran Mas

    [Reply]

  7. iya pak mars…anak sekolah sekarang klo orangtuanya ngga punya uang bener2 ngga bisa sekolah…bentar2 uang….

    untungnya jaman aku sekolah dulu, buku paket bekas punya kakak msh bisa dipake, jadi ngga harus setiap tahun beli buku paket yang harganya selangit….

    kadang kalo kakak dulu ngga punya buku paket, aku minjem punya temen trs di fotocopy…

    jaman sekarang apa masih bisa seprti ini pak Mars?


    Jaman saya malah nggak beli buku tapi disediakan dari sekolah

    [Reply]

  8. Hiks… jadi sedih bacanya. Semoga amal ini menjadi berkat bagi orang lain. Dan tentu saja Tuhan pasti akan melimpahkan berkat bagi Pak Mars.

    GBU


    Makasih Mas Dewo…

    [Reply]

  9. Hahaa..pengen ketawa lihat pesannya..
    Pak MArs Curhat ciyee..

    Tapi mungkin knapa mereka ga bayar,bener2 ga punya kale ya Pak,hiks kasian..
    Untuk punya Pak guru yang baik hati,..

    Sekarang tuh buku pada mahal,di sekolah Anakku aja katanya pake BOS,tetep aja harus beli buku sepaket sekian ratus ribu,lhawong pr,tugas ada di situ,mau ga mau di beli,suka kasian sama yang bisa beli,hiks..kasian anaknya..hiks..


    Itulah saya nggak tega nagih Mbak…

    [Reply]

  10. Nggak rugi?
    Enggak dong. Saya kan bukan pedagang. wah walau secuil tapi maknanya luar biasa, kadang kita sering mengukur segala sesuatu dari untung rugi yg sifatnya materi.
    dengan Pak Mars mengikhlaskannya saya yakin malah akan mendapatkan keuntungan yg berlipat ganda seperti prinsip2 dalam bersedekah, dan akan diganti/dibalas dg yg lebih dari apa yg dikeluarkan. tapi dari sisi murid dia tetap harus membayar apa yg telah disepakati sebelumnya walau Pak Mars sudah merelakannya …. mungkin untuk melatih kejujuran dan tanggung jawab, mudah2an tidak jadi kebiasaan heeee …..


    Iya Mas…
    Saya merasakan sendiri…
    Dengan jual buku mahal, saya nggak pernah merasakan kenikmatan diskonnya meski 35% lho…
    Dan dengan mengikhlaskan pada sebagian siswa, sayapun merasa nggak ada yang hilang. Bahkan kalau ada sedikit diskonnya, biasanya saya kembalikan pada murid yang mengkoordinir pembayarannya. Kalau kebetulan murid yg mbantu nariki itu nggak mau, diskonnya saya kasihkan ke kelas untuk dijadikan uang kas.

    [Reply]

  11. hiks…..gak tau kenapa , kok aku jadi sedih dan terharu biru membaca tulisan ini Pak Guru … 🙁
    😥
    salam


    Iya Bun…
    Jual buku mahal nggak menjadikan tambah kaya, mengikhlaskan yang nggak bayar tidak menjadikan saya bangkrut

    [Reply]

  12. Saya lebih suka pakai hati.
    Ini bukan pamer tapi curhat dowang …

    Dan semoga yang belon bayar … segera melunasinya ya Pak Mars

    Salam saya


    Sudah bener2 saya ikhlaskan kok Om…

    [Reply]

  13. Enaknya murid jaman sekarang, buku bisa dibeli dimana-mana ya mas dan umumnya punya dana untuk membeli buku.
    Sebaiknya guru juga membuat buku ringkasan pelajaran, yang praktis untuk menghadapi ujian dan bisa dimiliki oleh murid dengan harga murah seperti yang panjenengan buat.

    Kalau punya hutang sebaiknya bayar, kalau gak bisa membayar ya terus terang saja agar kelak tidak mempunyai hutang yang belum dilunasi.

    Selamat mas guru.


    Karena saya sudah mengikhlaskan, maka disananya nanti murid saya nggak perlu nyari saya Dhe…

    [Reply]

  14. dicicil sebulan 1000 rupiah, tiap minggu 250 rupiah, tiap hari misal 50 rupiah…
    ya gak kebayar… sekarang cari uang 50 rupiah susah …


    Sudah saya ikhlaskan

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *