Buku Wasiat

Selain Bapak, sosok yang ikut membentuk karakter dan sifat saya adalah Kakek (bapaknya Ibuk saya). Sebagai cucu laki2 pertamanya, maka perhatian dan kasih sayang beliau terhadap saya bisa dibilang yang paling besar, apalagi kakek saya tak punya anak lelaki.

Kakek saya bernama Mangoenkartiko, seorang guru tapi sangat mencintai seni. Tahun 1960 pernah menyusun semacam Buku Wasiat yang ditulis menggunakan huruf Jawa. Buku aslinya diserahkan pada Bapak. Kini beliau berdua sudah tiada, tapi buku itu masih tersimpan rapi di almari Bapak.

Inilah kata pengantar dalam Buku Wasiatnya yang ditulis tangan oleh Kakek

Sekitar tahun 1978, Buku Wasiat itu diterjemahkan dan diketik secara manual oleh Bapak. Karena disesuaikan dengan ejaan aslinya, maka sangat dimungkinkan ada kata atau teks yang tidak pas jika ditinjau dari sisi kaidah penulisan jaman sekarang. Inilah hasilnya

Dan ini terjemahan versi saya dalam Bahasa Indonesia, saya ketik pakai komputer tentunya…

Yang memiliki buku, dan menyusun isi buku ini saya
Mangoenkartiko Pandak Colo
Isi dan maksud surat / buku ini hanya sebagai pedoman untuk anak-anak saya, sesuai dengan pedoman yang sudah saya tetapkan menurut isi dan maksud saya yang sudah saya pikir dengan seksama dan adil, karena adil itulah yang akan bisa mewujudkan kerukunan dan ketenteraman.

Dibagian lain dari Buku Wasiat itu, kakek menulis seperti ini

Dan diterjemahkan oleh Bapak saya seperti ini

Lalu saya terjemahkan lagi seperti ini…

Barang siapa melanggar nasehat Bapak, Bapak tidak memperbolehkan dan pasti mendapat hukuman dari Tuhan. Maka janganlah menerjang sebuah kebenaran yang saya tulis tersebut. Maka saya sampai menuliskan suara hati ini karena merasa sudah tua yang mungkin saya dipanggil menghadap Yang Kuasa, tapi jika belum tiba waktunya, semoga tulisan ini sebagai pengingat keinginan saya dan bisa dijadikan tanda atau bukti dari sebuah kenyataan.

Selain berisi nasehat, didalamnya juga dirinci secara lengkap daftar kekayaan yang dimiliki kakek, mulai dari hal yang besar seperti sawah, ladang, rumah dll sampai hal sekecil2nya seperti lampu stromking aneka merk, dipan kayu, ranjang besi dan pernak-pernik lainnya.

Semoga saya bisa menjalankan wasiat yang ditulis oleh Kakek saya tersebut, yang salah satu poin pentingnya adalah bahwa adil itulah yang akan bisa mewujudkan kerukunan dan ketenteraman.

Untuk mengenang Kakek dan Bapak, berikut saya tampilkan koleksi foto beliau. Karena sedemikian lama tersimpan di almari Bapak, maka ada beberapa foto yang rusak dimakan ngengat.
Foto ini pastinya diambil ketika saya belum ada…

Kakek (paling kiri) dan Bapak (paling kanan) foto bersama peserta ujian tahun 1954

Kakek mengomandoi saat pembangunan rumah Bapak
Di rumah itulah nantinya saya lahir.

Kakek berpose sambil memegang senapannya…

Kakek dan rombongan piknik ke Semarang, naik truck tentara
Di tengah jalan musti berhenti sejenak untuk mendinginkan mesin

Kakek di Bandara Kalibanteng (sekarang bernama Ahmad Yani)

Kakek dan Bapak naik perahu di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang
Ternyata Kakek saya punya kacamata Rayban merk BL…

Kakek di Candi Borobudur

Bapak dan muridnya di depan Menara Kudus

Semoga Kakek dan Bapak mendapat tempat yang layak disisiNya…
Masih banyak lagi dokumen dan catatan unik tentang beliau berdua dan akan saya tulis dikesempatan mendatang.

66 thoughts on “Buku Wasiat

  1. kok bisa ya… nyimpen foto yg sebegitu lamanya, salut apalagi sudah di simpen di internet…


    Iya Mas…
    Kakek dan Bapak saya paling rajin mendokumentasi semuanya
    Sayangnya masih dengan cara manual sehingga rentan rusak

    [Reply]

  2. Jadul banget foto-nya. 😀 Tahun berapa ya foto berwarna mualai ada?


    Tahun berapa ya?
    Kayaknya dimulai saat Fuji dan Sakura masuk Indonesia

    [Reply]

  3. Sayangnya waktu itu belum ada blog ya mas 😉 luar biasa kakeknya…


    Iya Mas
    Semua dokumen hanya ditulis dalam buku tulis

    [Reply]

  4. rapi sekali y…
    sampe foto jadul bgt, masih ada pak….
    siip, tenan…:)


    Bapak dan Kakek saya rajin sekali nyusun dokumen itu Mbak. Koleksi foto2nya juga lengkap

    [Reply]

  5. Semoga Kakek dan Ayahnya Pak Guru , bahagia ditempat istimewa disisiNYA,aamiin

    hebat sekali ya Pak Guru, itu foto2 jadul, masih bagus dan keliatannya menjadi seorang guru , dalam keluarga Pak Guru sudah turun temurun ya…
    salut sekali , keturunan yang mencerdaskan bangsa ….betapa mulia….
    salam


    Makasih doanya Bun…
    Kenangan yang lain dari Kakek dan Bapak akan saya posting lagi

    [Reply]

  6. wah seneng liat kakek bikin buku utk anak cucu. kalau ninggalin duit setumpuk, bisa habis. tapi kalau mewariskan buku dan tulisan serta foto, akan ‘hidup’ selamanya.

    ada yang bilang: Words and pictures, once printed, has a life on their own. (siapa yang bilang itu ya, saya lupa…)

    Artinya: Kata-kata dan gambar yang sudah dicetak, akan mempunyai kehidupannya sendiri. Artinya: si penulisnya mungkin sudah almarhum, tapi kata yang tercetak itu akan terus dibaca, dan dikenang sepanjang masa.

    Kalau di kedokteran, ada banyak textbook yang ditulis oleh 1 orang (pada awalnya), tapi setelah si penulis meninggal, tiap 3-4 tahun ada update/ edisi baru, yang ditulis oleh tim dokter lain. Tapi nama buku itu tetap memakai nama si penulis awal Misalnya: Guyton’s Physiology Text Book. Pertama kali ditulis oleh Guyton.

    Jadi saya sering mikir, ini orangnya sudah mati, tapi masih memberi lapangan pekerjaan bagi penulis lainnya yang melanjutkan, dan masih memberikan ilmu utk mahasiswa kedokteran/ lainnya. Itulah hebatnya sebuah buku/ karya tulis.

    Termasuk juga buku/ ilmu kamasutra ya pakk???

    Wkwkwkwkwk…. pikirannya mesti ke situ ya pak??


    Hahaha…
    Pak Andi bisa aja..
    Saya kaget dapat kunjungan Pak Dokter.
    Sudah lama nggak ngobrol.
    Saya juga sudah lama nggak nonton dokter di TV.
    Gimana kabarnya Dok?
    Salam untuk keluarga ya

    [Reply]

  7. Ini asli wasit dari kakek ya, pak Mars. ternyata mencintai waktu, foto2 itu bak kenangan tersendiri 🙂


    Asli Mas…
    Tulisan tangan itu

    [Reply]

  8. Pak …
    Ini keren banget pak …
    ini sesuatu banget
    Ini sejarah !

    salam saya Pak


    Iya Om…
    Warisan Sejarah yang saya sendiri belum tentu bisa bikin dokumen serapi itu

    [Reply]

  9. saya mendapatkan pengetahuan tentang sejarah lama terimakasih banyak atas infonya sangat bermanfaat sekali untuk saya…..!

    [Reply]

  10. saya bahkan tidak punya foto kakek saya, karena kakek wafat ketika ibu saya masih kecil dan zaman dulu masih zaman belanda jadi gmn mau foto bareng keluarga , orang dy sibuk menjajah belanda untuk membela indonesia…

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *