Bunglon

Sempat bingung nulis judul. Semula saya tulis Bungklon, tetapi ternyata yang baku adalah Bunglon. Saya termasuk sedikit orang yang memiliki sifatnya, meskipun saya yakin bahwa yang mengatakan membunglon itu tidak baikpun kayaknya punya sifat bunglon juga

Bagi saya, membunglon itu tak sekedar kamuflase tapi lebih kepada penyesuaian. Ketika ada di warung lesehan, patilah duduk bersila. Nggak mungkin berdiri tegap kayak upacara. Sebaliknya jika upacara, amat aneh jika duduk bersila. Kita musti menyesuaikan diri, kita harus membunglonkan diri.

Dalam berbicara, berpakaian, berdandan dan bergaya kita harus menyesuaikan dengan lingkungan. Salah satu keuntungan dari penyesuaian diri adalah rasa aman. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika di mal berdandan ala ketoprak atau ketika di pasar tradisional berdandan ala Harajuku

Mari membuka wawasan, bahwa membunglon itu tak selalu negatif. Dan mari introspeksi, bahwa hampir semua kita pernah membunglonkan diri.

Kali ini tak ada gambar bunglon karena ketika saya pasang gambar cicak banyak sahabat yang pada jijik dan takut

27 thoughts on “Bunglon

  1. makasi mbahKung, gak pasang gambar yg begituan..
    etapi Ngai ini termasuk bunglon juga gak ya..? 😛


    Nanti saya pasang gambar kupu ajah

    [Reply]

  2. Bunglon adalah ….
    Kemampuan untuk beradaptasi …
    Dalam konotasi yang positif

    Salam saya


    Iya Om…
    Kita belajar mengubah paradigma bahwa mimikri adalah sebuah anugrah yang bisa dipakai untuk beradaptasi…
    Dan kemampuan beradaptasi akan menentukan kesuksesan…
    Salam Om…

    [Reply]

  3. bisa beradaptasi atau melindungi diri.
    saya yang kurang mudah beradaptasi sebenernya cukup iri sama orang2 yang bisa membunglon.. hahaha…


    Kalau saya sich mudah membaur dengan siapa saja Mbak…

    [Reply]

  4. Bener pak…lebih tepat, menyesuaikan
    Disaat ketemu teman dr tegal, mencoba berbahasa ngapak2…ktmu temen dr sby, mencoba berbahasa suroboyoan


    Ketiga bergaul dengan balita, kita musti menyesuaikan pola pikir kita dengan mereka

    [Reply]

  5. Tempo hari saya jalan-jalan di alun-alun kota kelahiran. Saat itulah saya merasa salah kostum, tidak bisa membunglon dengan bagus. Dengan topi rimba dan backpack, saya lebih tampak sebagai turis daripada warga setempat. Hasilnya? Tau sendiri lah… 🙂

    Salam kenal (lagi) Mbah Kung. Mohon ijin nulis link di kolom Tetangga saya.


    Wah, ramai pastinya…

    [Reply]

  6. Nice post. ^_^
    Setuju, Om, emang perlu banget adaptasi di segala suasana.
    Biasa membunglon kan dianggep negatif soalnya dianalogkan dengan orang yang pendapatnya suka mencla mencle. :p


    Kita musti melihat dari beberapa sudut pandang…

    [Reply]

  7. kadang2 sangat diperlukan sifat seperti itu pak


    Bukan hanya kadang2 tapi malah sering Mas…

    [Reply]

  8. Cuma jika SEMUA jadi bunglon, siapa yang menjadi acuan Si Bunglon untuk merubah diri????
    🙂


    Kalau semua jadi bunglon, acuannya ya diri sendiri Bu… 😀

    [Reply]

  9. seperti “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”


    Nah, itu ungkapan yg pas…
    Ketika di Jogja ya jadi WOng Jowo, ketika di Kalimantan ya membaur dengan orang sana

    [Reply]

  10. Sekarang orang yang jahat saja berhasil membunglonkan diri ya, Pak.
    Butuh sensor untuk pendeteksi Bunglon.

    Tergolong Bunglon yang baik atau jahat? 😆


    Bingung juga membedakan mana bunglon asli dan mana yg palsu

    [Reply]

    Idah Ceris Reply:

    Jangan bingung Pak, jika Pak Mars bingung nanti Idah tambah bingung. 😆


    Hahaha…
    Mari kita bingung berjamaah

    [Reply]

  11. Adaptasi sesungguhnya adalah bentuk pertahanan terlemah dari manusia, namun itu perlu dilakukan. Membunglon tidak sama dengan membeo kan Pak..? 🙂


    Kalau membeo itu lebih sempit Da, cuma omong dowang. Kalau membunglon kayaknya lebih luas lagi

    [Reply]

  12. Untung nggak jadi pasang gambar cicak, Pak.. iyy..! Mbayangin aja aku merinding.

    Mbunglon untuk yang positif malah kudu ya, Pak *membayangkan Pak Mars berdiri tegap di warung lesehan* 😀


    Hahaha…
    Kalau berdiri di warung lesehan sich masih mending Mbak, apalagi kalau pengunjungnya rame. Yang memalukan adalah upacara tapi nggelar tikar

    [Reply]

  13. betul tidak ada karya yang benar benar asli miliknya… pasti sebenarnya sudah hasil bunglon berkali kali gitu ya…. hehehehehhe


    Bunglonpun banyak dipalsukan 😀

    [Reply]

  14. Iya.
    Sebenarnya jadi bunglon itu ya lebih tepat bila disebut penyesuaian, karena kita kan gak manusia sosial, butuh penyesuaian tentu saja.


    Tapi sudah terlanjur di cap negatif ya Mas

    [Reply]

  15. Mimikri pada bunglon bagian dari adaptasi lingkungansecara positif ya Pak.


    Dan itu adalah keagungan Tuhan ya Bu

    [Reply]

  16. disadari atau tidak, iya sih kayaknya membunglon itu pasti pernah dilakukan deh … *sambil mencoba berapa kali pernah membunglon* 😀


    Salah satu cara aman adalah membunglon itu Ni…

    [Reply]

  17. Kalo yang lain udah mulai pada puasa terus kita ikutan puasa itu namanya membunglon juga gak pak?
    Hidup bunglon!!
    #Eh 😀


    Kalau ini lebih kepada membeo Mas

    [Reply]

  18. Pingback: metaMARSphose » Ideal = Idea + Deal
  19. Dan menurut beberapa teman, meski saya sangat pemalu tapi tergolong bunglonwati, karena mudah beradaptasi 😀 😛


    Pertahanan paling kuat adalah beradaptasi Mbak

    [Reply]

  20. Iya itu benar,
    seperti saat ini jika awal puasa pun bersamaan tidak ada yang berbeda akan sangat baik.
    Namun kenyataannya sangat begitu berbeda, dan tidak afdol… 🙂


    Lebih afdol memang kalau bisa sama2, biar keliatan kompak

    [Reply]

  21. Ke mall pake dandanan ketoprak? *dalam otak langsung terngiang lagu soundtrack Srimulat*


    Hahahaha
    Soundtrax khas Srimulat itu kayaknya sudah menjadi trademarknya
    Padahal instrumen Barat ya

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *