Catatan Perjalanan

Dan inilah catatan perjalanan selama beberapa hari di Singapura dan Malaysia. Tujuan pertama berhubungan dengan kerja dan profesi saya. Ada dua sekolah yang saya datangi yaitu Pasir Ris dan Henderson, keduanya merupakan Sekolah Menengah.

Di hampir semua negara, sekolah menengah tidak terbagi menjadi SMP dan SMA tapi menyatu dalam satu sekolah dengan masa pendidikan 4 sampai 5 tahun. Jadi kelasnya juga kelas I s.d V. Dengan pembagian seperti ini, orang tua murid tidak kerepotan seperti di negara kita, yang selepas SMP mesti bingung nyari SMA buat melanjutkan.

Di sela2 kegiatan belajar berinteraksi dengan guru dan siswa, saya berkesempatan menikmati beberapa obyek yang ada di kedua negara. Di Singapura saya merasakan nikmatnya perjalanan dengan kereta bawah tanah, menonton pertunjukan Song of the Sea di Sentosa Island, jalan2 ke beberapa obyek seperti Patung Singa, Pasar Tradisional maupun Mall, sedangkan di Malaysia mengunjungi Istana, Tower Petronas, Genting Highland, naik skyway dll.

MENCARI ILMU UNTUK OTAK KIRI

Ada beberapa hal menarik yang ada di Sekolah Singapura tapi susah terjadi di Indonesia. Di depan sekolah terdapat dua tiang bendera yang masing2 dikibarkan bendera negara dan bendera sekolah. Apel dilakukan hampir tiap pagi dan posisi siswa duduk bersila di lapangan. Mereka hanya berdiri saat menyanyikan lagu kebangsaan dan membaca ikrar.




Di dalam kelas dan ruang yang lain tak ada foto pejabat semacam perdana menteri atau kalau di kita ya presiden dan wakil presiden. Yang ada adalah bendera yang ditempel di dinding. Berapa milyar bisa dihemat dari hal itu saja. Kalau dikita, tiap 5 taun musti ada panitia pengadaan foto presiden dan wakil presiden untuk sekolah dan kantor2 seluruh Indonesia. Alat pembelajaran berteknologi tinggi tersedia lengkap tapi dipakai secara proporsional. Sementara fenomena yang terjadi di kita, dengan adanya IT justru interaksi antara siswa dan guru menjadi lenyap.

Alasan kenapa kami memilih Singapura adalah lokasinya yang tidak jauh dan negara ini masuk dalam 10 besar negara termaju dalam dunia pendidikan

DIKIRA ORANG PRIMITIF

Ketika saya masuk di kelas 1 yang kebetulan di lab komputer, ada pengalaman menggelikan yang pastinya tak terlupakan.


Salah satu murid bertanya pada saya, apakah saya bisa komputer. Belum sempat saya jawab, dia berlagak menerangkan bagian2 dari komputer. Biar dia puas, saya jawab saja bahwa saya nggak paham komputer. Dia makin semangat pamer kebisaannya.

Lalu tibalah saat sang guru membagi soal yang harus dia kerjakan secara interaktif. Saya melirik anak tadi sambil nahan senyum, karena saya tau si anak itu kesulitan mengerjakan. Karena soal itu untuk kelas 1, tentu saja sambil merem saja saya bisa mengerjakannya. Tau kalau saya perhatikan, si anak tadi tanya apakah saya bisa. Saya pura2 mikir sambil tangan saya nggerakkan mouse komputernya. Dan pastinya, nggak sampai semenit soal itu selesai dengan sempurna yang ditandai dengan ucapan selamat yang muncul di monitor. Si anak tadi kaget setengah heran, lalu dia panggil2 gurunya sambil teriak. Kalau diterjemahkan kira2 seperti ini: “Mr. Lim… Mr. Lim… Orang ini hebat banget…”. Gurunya (Mr. Lim) tentu saja senyum2 karena dia sangat tau bahwa saya guru Matematika kayak dia…

JALAN2 UNTUK OTAK KANAN

Untuk keseimbangan, setiap selesai kegiatan di sekolah dilanjutkan dengan menikmati suasana lain yang bisa menghapus kepenatan dan kejenuhan. Saatnya jalan2 !.


Ternyata di Singapura ada Universal Studio yang konon mbangunnya pakai pasir Indonesia.

TEKNOLOGI DIKEMAS SECARA ALAMI

Ketika mengunjungi Sentosa Island, disana ada pertunjukan menakjubkan yang diberi judul Song of the Sea. Sesaat memasuki area pertunjukan, saya sempat bertanya2, kok cuman seperti perkampungan nelayan dengan sederet rumah gubug dowang. Setelah menunggu pergantian waktu dari sore ke malam, barulah semua terjawab. Ternyata di dalam gubug2 tadi tersimpan teknologi tingkat tinggi, tata lampu dan permainan sinar laser canggih, penyemprot air bertenaga hidrolik serta permainan kembang api modern, dipadu dengan cerita dan gerakan tari memikat.

BERIKUTNYA ADALAH MALAYSIA

Karena jaraknya yang tinggal selangkah, maka untuk melengkapi perjalanan saya mampir ke Malaysia. Selain Kuala Lumpur juga berlanjut menikmati pegunungan.

Untuk menghemat waktu, saya hanya melihat Menara Petronas dari luar karena perjalanan segera berlanjut ke Genting Highland. Taman hiburan yang dikonsep secara matang, dengan infra struktur yang mendukung, menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata yang menarik. Kereta gantung membentang panjang yang sekaligus bisa dijadikan sebagai transportasi turun ke terminal bis wisata.

NASIB SI KOPER BIRU

Ada pengalaman menyedihkan. Dengan sekian kali naik turun bagasi, maka retsleting koper saya jebol dan mau tak mau musti ganti baru. Dengan sangat terpaksa saya beli dengan harga 2 kali lipat dibanding di Indonesia. Dan koper biru itu saya tinggalkan di Malaysia.

Ada suka pasti ada duka. Saya yakin semua ada hikmahnya. Kalau koper nggak bisa rusak pabriknya akan bangkrut.

Masih ada beberapa cerita dan kejadian menarik lainnya yang akan saya tulis dikesempatan berikutnya. Terima kasih kepada sahabat yang setia mengunjungi blog ini dan meninggalkan komentar. Mohon maaf bila selama seminggu ini saya tak bisa berkunjung balik.

89 thoughts on “Catatan Perjalanan

  1. jadi ingat waktu dimalaysia pak mar, main ke genting highland, naik putraline dan tentunya ke menara petronas. memang asyik!!

    trus sekedar nambahin klo pasir yang buat bangun disingapore itu asalnya dari lumajang lho pak, pasir gunung semeru.

    [Reply]

  2. @mas aalam : Bundo pake tehnik tingkat tinggi, hanya orang tertentu saja yg bisa metode tersebut

    [Reply]

  3. kuru itu apa siyh Pak..? bukan kurus maksudnya? iya Pak Mars kurus 😀 soale ngga makan masakan Bu Mars selama seminggu.

    [Reply]

    Mars Reply:

    Betul Bun,
    Kuru itu kurus.
    Itu Bahasa Jawa.

    Bahasa Jawa kan mudah, tinggal membuang huruf akhir.
    Gemuk bahasa Jawanya Gemu
    Montok bahasa Jawanya Monto…
    Mudah kan?

    [Reply]

  4. Selamat datang kembali… wah coba tari-tarian Indonesia juga bisa dikemas dalam panggung yang spektakuler… dijamin gak kalah deh

    [Reply]

  5. lain kali beli koper yang berkualitas pak jadi ga repot di sananya, kalau perlu beli yang berlogo SNI.
    :p

    [Reply]

  6. jangan lihat dari kulitnya tapi lihat dari isinya. Biar dikira Udik, tapi otak kiri dan kanan tetap seimbang. itu prinsip saya. hahhaahha

    mantap pak, selamat atas kesuksesan acaranya.

    Saya harus lebih banyak belajar matematikan sama bapak, karena saya cinta matematika dan banyak ilmu lain di dunia ini.

    [Reply]

  7. Perjalanan yang mengasyikan pak mars …. tapi cerita tentang anak yang menganggap bapak ga thau komputer memberikan pelajaran berharga …..

    salam

    [Reply]

  8. Wah, astik nih ceritanya yg jalan-jalan ke negeri tetangga.
    Saya cuma bisa membayangkan, kapan ya Indonesia rapi dan tertata baik seperti keuda negera tersebut. 😀

    [Reply]

  9. kayaknya asyik banget neeh jalan-jalan nya..banyak pengalaman nya..thank telah berbagi pengalaman dan cerita …

    [Reply]

  10. wah selamat bertugas sembari jalan2 pak, aku jelas ngliat gambar pak mars..tak kira gendut ternyata nggak toh…haaaa..

    [Reply]

  11. Wahh pak..
    salut banget dengan perjalanannya…:)
    saat ini universal studio sudah dibuka… dan memang benar pasirnya itu dari Indonesia 🙁
    kalo pulang batam melalui spore lia sering melihat kapal2 bendera spore mengangkut pasir dari salah satu pulau di Indonesia.. dan itu secara legal 🙁

    Kalo kenal dari dulu kan bisa ketemu ya pak 🙂

    [Reply]

  12. wah asik bener upacara sambil duduk bersila…jadi bisa enjoy ya pak..coba disini tiap hari upacara weh bisa semaput kabeh murid-murid, hehe…oh di sana dah model secondary school ya pak..enak ya, ngirit waktu setahun kalo cm 5 tahun, kayak di Inggris ya modelnya gt juga.
    bener juga pak kalo pengadaan foto presiden itu ditiadakan bisa ngirit duit banyak yah pak..


    Kalau disana fasilitas ya yg perlu2 saja Mbak.
    Yang nggak penting nggak dipaksakan.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *