Cobaan Nasional 2013

Ada yg bilang bahwa ujian dan cobaan itu sama. Oleh karena itu tak terlalu salah jika Ujian Nasional saya sebut dengan Cobaan Nasional. Untuk tahun 2013 ini Ujian Nasional benar2 jadi cobaan berat, sebuah catatan hitam dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Gara2 salah kelola, Ujian Nasional tak bisa dilaksanakan secara serentak padahal UN adalah agenda tahunan yang sudah rutin, bukan sesuatu yg tiba2 seperti tsunami. Aturan yang ditetapkan dalam SOP sangat ribet. Dari panitia, peserta maupun pengawas ujian punya keribetan masing2.

Untuk siswa, dengan 20 soal berbeda di tiap ruangan adalah sebuah pengalaman baru bagi mereka. Dia akan menerima paket soal yang menyatu dengan lembar jawabnya. Soal yang didapat hanya bisa dikerjakan pada lembar jawab (LJUN) yang menjadi pasangannya.

Soal dibagi secara acak. Meskipun demikian, pengawas dan siswa tak bisa membedakan soal yang satu dengan lainnya karena kodenya menggunakan barcode. Sedemikian itulah tingkat ketidakpercayaan pemerintah pada pengawas ujian maupun murid se Indonesia.

Yang ini keribetan yang dirasakan pengawas ujian.

Tahap Persiapan

  1. empat puluh lima (45) menit sebelum ujian dimulai pengawas ruang telah hadir di lokasi sekolah menerima penjelasan dan pengarahan dari ketua penyelenggara UN
  2. menerima bahan UN yang berupa naskah soal UN, amplop pengembalian LJUN, daftar hadir, dan berita acara pelaksanaan UN
  3. memeriksa kondisi bahan UN dalam keadaan baik (masih tersegel).

Tahap Pelaksanaan

  1. masuk ke dalam ruang UN 20 menit sebelum waktu pelaksanaan;
  2. memeriksa kesiapan ruang ujian;
  3. mempersilakan peserta UN untuk memasuki ruang dengan menunjukkan kartu peserta UN dan meletakkan tas di bagian depan sertamenempati tempat duduk sesuai dengan nomor yang telah ditentukan;
  4. memeriksa dan memastikan setiap peserta UN hanya membawa bulpen, pensil, penghapus, penajam pensil, dan penggaris yang akan dipergunakan ke tempat duduk masing-masing;
  5. memeriksa dan memastikan amplop soal dalam keadaan tertutup rapat
  6. membacakan tata tertib UN (khusus hari pertama);
  7. membagikan naskah soal UN dengan cara meletakkan di atas meja peserta dalam posisi tertutup (terbalik);
  8. memberikan kesempatan kepada peserta UN untuk mengecek kelengkapan soal;
  9. mewajibkan peserta untuk menuliskan nama dan nomor ujian pada kolom yang tersedia di halaman 1 (satu) naskah soal dan LJUN sebelum dipisahkan;
  10. mewajibkan peserta ujian untuk memisahkan LJUN dengan naskah;
  11. mewajibkan peserta ujian untuk melengkapi isian pada LJUN secara benar;
  12. memastikan peserta UN telah mengisi identitas dengan benar sesuai dengan kartu peserta;
  13. memastikan peserta ujian menandatangani daftar hadir
  14. mempersilakan peserta UN untuk mulai mengerjakan soal;
  15. mengingatkan peserta agar terlebih dahulu membaca petunjuk cara menjawab soal
  16. menjaga ketertiban dan ketenangan suasana sekitar ruang ujian;
  17. memberi peringatan dan sanksi kepada peserta yang melakukan kecurangan;
  18. melarang orang memasuki ruang UN selain peserta ujian

Tahap Akhir

  1. mempersilakan peserta UN untuk berhenti mengerjakan soal;
  2. mempersilakan peserta UN meletakkan naskah soal dan LJUN di atas meja dengan rapi;
  3. mengumpulkan LJUN dan naskah soal UN;
  4. menghitung jumlah LJUN sama dengan jumlah peserta UN;
  5. mempersilakan peserta UN meninggalkan ruang ujian;
  6. menyusun secara urut LJUN dari nomor peserta terkecil dan memasukkannya ke dalam amplop LJUN disertai dengan satu lembar daftar hadir peserta, satu lembar berita acara pelaksanaan, kemudian ditutup dan dilem serta ditandatangani oleh pengawas ruang UN di dalam ruang ujian;
  7. menyerahkan amplop LJUN yang sudah dilem dan ditandatangani, serta naskah soal UN kepada Penyelenggara UN Tingkat Sekolah disertai dengan satu lembar daftar hadir peserta dan satu lembar berita acara pelaksanaan UN.

Sekarang kita amati keribetan yang dirasakan Panitia manakala ada soal rusak atau tidak lengkap.

  1. Mengambil satu set naskah soal dan LJUN cadangan utuh yang terdapat di tiap ruang ujian
  2. Mencari satu set naskah soal dan LJUN cadangan utuh yang terdapat di sekolah terdekat.
  3. Jika naskah soal dan LJUN cadangan tidak mencukupi, maka panitia diperbolehkan memfotocopy naskah soal UN dan LJUN sesuai jumlah yang diperlukan, dan siswa yang bersangkutan diberikan tambahan waktu sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan untuk mengerjakan soal UN, serta dibuatkan berita acara.
  4. Jika terjadi kerusakan/ketidaklengkapan naskah soal dan diketahui sebelum ujian dilaksanakan, maka dapat diganti dengan naskah soal dan LJUN cadangan secara utuh.
  5. Jika terjadi kerusakan/ketidaklengkapan naskah soal, kekurangan naskah soal dan LJUN, dan diketahui selama ujian nasional berlangsung dan tidak ada mesin fotocopy, maka siswa yang bersangkutan diminta menunggu sampai peserta UN yang lain selesai mengerjakan soal. Siswa yang bersangkutan akan diminta untuk menjawab di naskah soal. Selanjutnya jawaban siswa yang bersangkutan akan dipindahkan ke LJUN oleh tim dari perguruan tinggi.

Itulah sebabnya Ujian Nasional tahun 2013 saya nobatkan sebagai Ujian Paling Ribet sedunia.
Ribetnya dari hulu sampai hilir, dari yang mengawasi hingga yang diawasi.

Yang unik adalah banyak sekali tim pemantau dadakan yang sebelum2nya tak pernah nongol ke sekolah. Ada dari Koramil, Polsek, LSM, Dinas Pendidikan, Anggota Dewan, wartawan dll.

Pertanyaan yang diajukan hampir sama, cuma nanya berapa jumlah peserta, ada masalah apa enggak. Sebelum pamit biasanya mereka mendoakan agar peserta lulus semua.

30 thoughts on “Cobaan Nasional 2013

  1. Ditambah lagi kualitas kertas LJK yg buruk: tipis, mudah robek dan sulit dihapus. Saya rasa Kemdiknas sedang terpuruk saat ini Pak. Dilihat dari “Cobaan Nasional” plus pemaksaan kurikulum 2013.

    Menterinya sibuk mempromosikan kurikulum barunya, sampai2 agenda rutin malah terabaikan Mbak…
    Pak Nuh nggak pantas jadi menteri…
    Kalaupun menteri ya jangan menteri pendidikan.

    [Reply]

  2. setelah membaca keluhan langsung dari seorang guru, rasanya benar benar kacau UN kali ini. Tadinya saya kira memang media saja yang tidak ada kerjaan membesar besarkannya seperti biasa.
    Semoga lekas sembuh pendidikan di negara kita ini ya Pak…

    Melihat kondisinya yang termasuk sekarat, untuk sembuhnya kayaknya butuh waktu lama Mas…
    Sudah parah sekali

    [Reply]

  3. Mangkanya pada menggelar Istigosah pak, ini bukan bencana nasional khan ya…

    Iya Mas…
    Banyak yang salah penempatan alias tidak pada tempatnya….

    [Reply]

  4. Iya semoga saja kejadian ini dpt diambil hikmahnya oleh semua pihak, terutama penanggungjawab UN…

    Tahun depan sudah ganti orang Mas…
    Atau malah nggak nunggu sampai taun depan

    [Reply]

  5. 20 soal berbeda pak? semoga saja yang menilai tidak salah ya

    20 soal berbeda2 Mbak…
    Dan lembar jawabnya nggak bisa semaunya.
    Tiap soal punya lembar jawab sendiri2…

    [Reply]

  6. dari dulu sejak dimulai aquwh rasa urusan per-UN-an ini adlh bencana, mbahKung.
    tapi bisa nak buat apa kita ini.. 🙁
    ah, yang penting anak2 tetap cool menjalaninya, semoga.

    Saya yg guru saja nggak terlalu setuju UN, apalagi yg murid ya Ngai…

    [Reply]

  7. jamanku SMA dulu pas…pertama pertamanya ditiadakan soal uraian dan cuma multiple choice (a,b,c,d)…duehhhhhh ancurrrrrrrrr langsung!!

    Soal pilihan ganda amat lemah jika dipakai untuk mengukur kemampuan anak, karena prosaesnya nggak bisa dinilai.
    Hanya dua kemungkinan, benar & salah.
    Padahal salah itu beda2. Ada yg salah total, ada yang salah sebagian

    [Reply]

  8. makanya aku kaget pak kok kt ananda ada pemantau independen di dalam kelas, apa2 an sih… bikin anak2 makin cemas aja

    Situasinya dibikin mencekam kayak mau ada perang Bu…
    Yang mantau banyak sekali. Giliran saat murid dan gurunya berjuang belajar persiapan UN, pemantau2 itu tak pernah keliatan

    [Reply]

  9. UAN yang semestinya menjadi ‘pesta’ mengukur pencapaian belajar koq jadinya malah ‘momok’…

    Gara2 UAN murid2 jadi UANEN 😀

    [Reply]

  10. Laaaah, njur pripun Pak kalau minggu depan aq tugas. Tidak diharapkan ya kehadiranku *hiks

    Kalau lembaganya Mbak Esti kan ada keterkaitannya…
    Jadi ya nggak apa2.
    Tapi kalau bisa jangan hanya saat UN saja

    [Reply]

    Esti Sulistyawan Reply:

    Seharusnya seperti itu Pak, tapi di dalam memantau ini saja ada intrik2nya *hadeeeh. Dan kita memantau ke sana memakai biaya sendiri krn sudah beberapa tahun ini tidak dilibatkan. Karena merasa punya tanggung jawab, kebijakan pimpinan kali ini kita turun walau tidak mendapat tugas.
    Sedih sekali saya melihat, pendidikan dijadikan bisnis 🙁

    Yg ke SMA 1 Kendal ada 2 orang yg dari LPMP…

    [Reply]

  11. tahun ini putra barep saya terkena system baru ini. Berharap dia dapat menyelesaikan UN dengan hasil baik…

    kalau satu ruangan memiliki soal yang berbeda-bedza, itu berarti tidak bisa nyontek ya mister??? (gk boleh nyontek, tapi kl nanya jawaban soal sama pengawas sich boleh 🙂 waduh enak tenan iki) xixixixi….

    Smoga ananda sukses dan nilainya bagus

    [Reply]

  12. ternyata seribet itu ya pak, tapi kok kadang masih bisa bocor juga ya berarti bocorin un itu jago banget

    Sakjane dicetakke ning Solo malah beres ya Mas

    [Reply]

  13. wah pak mars itu namanya cobaan dunia pendidikan nasional…heee…karena bukan hanya muridnya yang kena cobaan..gurunya juga musti 45 menit datang duluan…

    Kasihan guru2 pengawasnya.
    Berangkat dari rumah harus sebelum setengah tujuh Mas

    [Reply]

  14. xixixixi… sakke gurune, tambah gering ae Pak’e 😛

    Tujune aku ora temasuk sing ngawasi

    [Reply]

  15. Duuhh, kasihan anak-anak 🙁 Apalagi kalo sampai terjadi hal-hal yang di atas itu ya, Om. Gimana gak panik, temannya sdh mengerjakan dia masih bengong nunggu soal. Semoga tak ada kejadian demikian 🙁

    Namun di atas segalanya, melihat ketidakprofesionalan sistem ini, saya sangat menghawatirkan jika ada kesalahan memeriksa LJUN! Bisa jadi anak yang seharusnya lulus menjadi tidak lulus gara-gara kesalahan ini huwaaaa….. semoga tidak terjadi. Amit-amit.

    Selamat berjuang, Anak-anak…

    Siswanya jadi bahan obyekan percobaan

    [Reply]

  16. harusnya guru lah yang menentukan kelulusan murid, bukan mesin komputer/scanner….

    Mungkin sistemnya juga perlu dibenahi Mas…
    Jangan terpusat dan disamakan standarnya untuk seluruh Indonesia.

    [Reply]

  17. “Sedemikian itulah tingkat ketidakpercayaan pemerintah pada pengawas ujian maupun murid se Indonesia.” … benar-benar miris pk …
    tahun ini banyak banget permasalahannya …
    dipikir-pikir, rasanya UN kok lebih terfokus ke birokrasi dan politisasi tetapi justru mengabaikan essensinya …

    Mungkin hanya di Indonesia, soal ujian berbeda satu dengan lainnya dalam ruangan yang sama…

    [Reply]

  18. kalau boleh fotocopi soal yg kurang, berarti waktu ujiannya kurang banget dong pak? Atau ada tambahan waktu? Selesainya ngga bersamaan ya? Beuh Cobaan Berat Indonesia!

    Boleh fotocopy dan waktunya dihitung penuh Bu…
    Jadi waktu bersihnya tetap utuh 120 menit.
    Kalau tak ada mesin fotocopy malah nunggu soal milik temannya untuk dikerjakan setelah Si Teman selesai mengerjakan.

    [Reply]

  19. Ditempat saya di mundurkan waktu ujian. distribusi soal belom nyampe. kasian adek-adek yang mau ujian. udah mental siap eh malah nggak jadi ujian.

    Ikut prihatin dengan daerah di propinsi lain yang dikalahkan dan ujiannya ditunda

    [Reply]

  20. Kita berdoa saja agar Ujian Nasional tahun ini segera cepat berakhir dan jangan ada yang namanya pengunduran atau masalah soal ujian yang kurang lengkaplah dan lainnya.Kita berharap UN tahun ini lancar dan aman.

    Ini pertama dalam sejarah UN, dimundurkan bukan karena bencana alam tapi karena salah kelola

    [Reply]

  21. Dulu pas UAN SMP kelasku didatengin Herry Zudianto,
    batinku ngopooo dee ki jan…

    Ben kamu bisa cerita ke orang2, termasuk ke saya 😀

    [Reply]

  22. Ini pasti informasi yang sangat valid …
    karena disampaikan oleh orang yang berkompeten dan memang melakukan pekerjaan ini sehari-harinya secara langsung … selama bertahun-tahun terus menerus …

    Bukan musiman macam pemantau dadakan tersebut …

    Semoga masa-masa yang akan datang lebih baik ya Pak Mars …

    Salam saya

    Semoga tak ada UN lagi Om…
    UN hanya menghamburkan anggaran dan keterpakaiannya nggak jelas

    [Reply]

  23. Sedih bacanya perihal keruwetan dan kekacauan UN tahun ini 🙁

    Menyedihkan buat jutaan orang juga Mbak

    [Reply]

  24. Bapak saya kebetulan Guru. Sebelum meninggal, tugas beliau adalah sebagai Pengawas di Ciamis.
    Dengan Ujian Nasional yang semakin ribet dan semakin memburuk, beliau terakhir diskusi dengan saya yang ujungnya punya kesimpulan : Bagaimana kalau ujian kembalikan ke sekolah karena :
    1. Para Guru itu sendiri punya tanggung jawab yang berat yang tidak hanya memberikan pelajaran kepada muridnya akan tetapi juga selalu menjaga nama baik dan mutu sekolah.
    2. Para Guru itu sudah sekolah tinggi bahkan guru SD yang dulu cukup SPG sekarang seakan dituntut harus S1 ditambah sekarang ada sertifikasi.
    3. Sekolah sudah ada pengawas sendiri, kenapa harus ada Ujian Nasional. Kalaupun Negara membutuhkan indikator kecerdasan siswa, kan bisa mendapatkan data dari sekolah ?
    4. Dengan adanya UN maka peran negara terlalu besar untuk membuat para Guru tidak mandiri dan berkreasi dalam mendidik anak bangsa.
    5. Fungsikan kurikulum dengan semestinya dengan memberikan kewenangan lebih kepada guru yang kompeten dan berkualitas dengan Pengawasan yang maksimal dari Pengawas tadi.
    Intinya serahkan ujian ini kepada sekolah saja.
    Lainnya masih banyak cuman itu yang saya ingat. Bagaimana pendapat Pak Mars ?

    Dengan sistem seperti yang diberlakukan saat ini saya juga sangat tak setuju adanay UN Mas…
    Situasinya sangat didramatisir. Seperti di Tulungagung, knapa soal UN musti disimpan dalam sel Polres?.
    Apa sekolah sudah sedemikian tak mampu nyimpan soal?.
    Atau petugasnya sudah tak bisa dipercaya semua?
    Intinya kepercayaan sudah ada di titik paling rendah.
    Pemerintah tak percaya rakyat dan rakyatpun demikian juga.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *