Demi Si Bening

Biarpun orang menyebut Dia “Si Bunga”, “Si Mawar”, kekasih gelap atau apapun, saya tak peduli. Saya memanggilnya Si Bening. Dan demi Si Bening pula, saya rela menelusuri ratusan kilometer hanya untuk cari info kalau2 ada rumah dijual.

Ya…
Saya, sedang cari sesuatu buat Si Bening. Dia sudah jenuh tinggal di kos sempit bersama para mahasiswi. Dia pengin punya tempat sendiri, yang sunyi yang tersembunyi.

Ada 3 kriteria yang saya jadikan pertimbangan, yaitu harga, lokasi dan kondisi. Dengan berbekal acuan itu, mulailah saya lakukan perburuan untuk menemukan orang yang mau jual rumah.

Sasaran Pertama
Harga murah, lokasi nyaman, tapi kondisi rumahnya parah. Tak ada jendela, tak ada bunga2. Kasihan Si Bening kalau musti tinggal di tempat beginian.

Sasaran Kedua
Lokasi cocok, kondisi oke. Tapi harganya… Buat bayar uang mukanya saja anggarannya nggak nutup. Ngangsur memang bisa, tapi itu bermakna saya harus mengurangi frekuensi jalan2 bersama Si Bening. Dan saya nggak mau itu terjadi.

Sasaran Ketiga
Harga bisa dinego, kondisi rumah lumayan mewah. Tapi lokasinya?. Bukankah itu tepat di depan rumah mertua saya?. Bisa2 saya kena hukum pancung. Kalau yang dipancung kepala yang utama sich gak apa2. Lha ini yang dipancung adalah kepala yang satunya… 😀

Buat Si Bening…
Sabar ya… Mungkin sekarang belum saatnya kita dapatkan apa yang kita dambakan. Besok saya akan lanjutkan perjalanan untukmu, untuk kamu dan untuk kita…

54 thoughts on “Demi Si Bening

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *