Colo, Desaku Tercinta

Mengenang desa tempat kita dilahirkan pasti punya taste tersendiri. Kali ini saya menulis sedikit tentang suasana desa kelahiran saya, Desa Colo yang terletak di puncak Gunung Muria yang berjarak 18 Km dari pusat kota Kudus. Dengan ketinggian ± 1.602 m di atas permukaan laut, Colo merupakan kawasan dataran tinggi dengan panorama alam pegunungan yang indah dan udaranya sejuk.

Disana banyak terdapat pesanggrahan dan penginapan yang dilengkapi dengan ruang pertemuan untuk acara penyuluhan, diklat, rapat dll yang termasuk kegiatan wisata MICE (meeting, incentive, convention and exhibition).

Di sekitarnya banyak terdapat warung makan dan kios cindera mata. Makanan khas Colo yang amat terkenal adalah pecel pakis, ayam bakar dan buah parijotho, sedangkan cinderamata khas Colo adalah tongkat dan kayu yang baunya harum dan dipercayai bisa mengusir tikus.

Ada beberapa tempat wisata yang menarik lainnya, yaitu:

  1. Air Terjun Monthel
    Tingginya 25 meter, dapat dicapai dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak kebun kopi sambil menikmati alunan musik alam dari gemericiknya air yang jatuh di bebatuan yang diselingi bunyi satwa liar khas pegunungan.
    Pengunjung bisa mandi atau bermain air sepuasnya.
  2. Makam Sunan Muria (Raden Umar Sa’id), salah satu Wali Songo.
    Letaknya tepat di puncak Gunung Muria, dapat dicapai dengan berjalan kaki melewati ± 700 trap.
  3. Sumber Air Tiga Rasa.
    Sumber air pertama memiliki rasa tawar2 masam (anyep2 kecut), yang kedua rasanya mirip ‘Sprite’ dan yang ketiga rasanya mirip minuman keras (tuak).
    Anehnya, jika ketiganya dicampur menjadi satu, rasanya menjadi tawar.

Parijotho
Salah satu tanaman khas di desa Colo adalah parijotho, tanaman yang memiliki ekologi dan penyebaran di lereng gunung atau hutan, yang sering dibudidayakan sebagai tanaman hias.

Tumbuh baik pada tanah yang berhumus tinggi dan lembab, pada ketinggian 800 m sampai 2.300 m di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan November-Januari dan waktu panen yang tepat bulan Maret-Mei.

Daun dan buah parijoto mengandung saponin dan kardenolin. Khusus buahnya juga mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tanin yang berkhasiat sebagai anti anti-bakteri, mengobati sariawan dan anti radang.

31 thoughts on “Colo, Desaku Tercinta

  1. Sudah hampir setahun saya gak ke sana.


    Kan cuma ngalor sitik Mas, lewat Nggembong

    [Reply]

    nique Reply:

    saya sama sekali blom ke sana pun mas Alam 😀


    Hahahaha
    Yo Mesti!!!

    [Reply]

  2. sungguh menarik, mbahKung.

    mengikuti penggambaran suatu tempat yang begitu dicintai oleh penulisnya
    memang memberi taste tersendiri bagi pembacanya.

    #Ngai tunggu jajah desa milang kori selanjutnya.


    Ea Ngai 😀

    [Reply]

  3. penasaran dengan pecel pakisnya seperti apa sih?


    Enak Bu…
    Pakisnya khusus, dan jarang ada ditempat lain.
    Jika saya kedatangan tamu penting, sering saya pesankan pakis itu langsung dari Kudus

    [Reply]

  4. Wah pak Mars duta wisata Colo yang efektif. Foto rumah ‘mendaki’ gunungnya indah sekali.


    Lha karena terlahir disana kok Mbak

    [Reply]

  5. belum pernah kesana pak jadi belum bisa membayangkan selain hanya melihat dari foto2 saja


    Hahaha
    Pastinya belum karena jauh Mbak

    [Reply]

  6. menarik sekali pak’e
    wajib kunjung nih klo mbaca tulisan di atas.
    pengen nyobain pecel pakis sama rasa air yg mirip sprite itu. kok bisa ya??? Subhanallah!
    Klo saya sampai di sana, mau ngambil Parijotho untuk Bapa yang sering sariawan gak jelas. Sapa tau manjur hehehe


    Biasanya diminati oleh yang lagi hamil. Katanya anaknya bakal cakep 😀

    [Reply]

  7. Aku tahu Gunung Muria awale seko plesetan UGM, Universitas Gunung Muria. Ono tenan rak sih pak kuwi?
    Aku rung tau tekan Kudus T.T
    Tau mampir nang WC terminal Kudus thok… *eh itu wis tekan ya*
    Kalau Pak Mars lahir di Desa Colo, aku lahir di Jalan Golo, Jogja 😀


    Kalau di Kudus sudah ada Universitasnya dan sudah lama.
    Namanya UMK, Universitas Muria Kudus

    [Reply]

  8. wah asyik juga di lokasi ya.. boleh nih kalau ke sana nyobaik makanannya ya… pecel lagi..


    Pecel khas Mas

    [Reply]

  9. Sama di desa kelahiran saya dunk, ada air terjun kecilnya.
    Tempat sejuk memang melahirkan orang yang adem2 🙂


    Daerah mana Mas?

    [Reply]

  10. wah pegunungan asri ya pak, klo desa saya itu dataran rendah penuh dgn sawah 🙂


    Kalo digunung udaranya masih lumayan bersih

    [Reply]

  11. desanya kok mengikuti struktur gunungnya yah Om:)
    ada air terjunnya lagi..
    Alam memang tidak pernah berhenti untuk membuat kekaguman.


    Iya Mas, dilereng gunung

    [Reply]

  12. kalo saya lahirnya di Jkt pak, tapi kl mudik ke kampung ortu tetep juga ada taste yang berbeda drpd ke tempat lain 🙂


    Pulang Kampung memang momen paling mengasyikkan Mas

    [Reply]

  13. saya belum pernah sampai ke sana Pak,,
    photo pertama menggambarkan perkampungan di lereng dataran tinggi nan adem, berpetualang sambil menikmati pecel pakis, seru untuk di coba.


    Itu dari Kudus masih naik gunung Mbak

    [Reply]

  14. Kalau monthel dan makam sunan muria sudah nggak asing lagi. Kalau parijotho aku malah baru denger namanya kang. Bentuknya aja ane baru lihat gambarnya di postingan ini.


    Parijoto amat disukai oleh pelancong

    [Reply]

  15. Beberapa terdengar baru dan mengundang penasaran buat saya pak mar …
    pecel pakis .. buah parijotho .. sumber air tiga rasa
    Khusus sumber air tiga rasa, kalau terdengar Cola Company bisa diakuisisi tuh hehehe ..


    Itu bener2 ajaib Mas
    Tiga rasa berbeda tapi ketika dicampur bisa jadi tawar

    [Reply]

  16. nama2nya masih asing pak Mars, alhamdulillah jadi tahu banyak hal baru 🙂


    Iya Mbak…
    Hanya dikenal oleh masyarakat sekitar.
    Kalau makam Sunan Murianya sich sudah cukup dikenal

    [Reply]

  17. pecel pakis? wah kok kayaknya enak ya pak mars … itu daun pakis direbus, lalu diberi sambel pecel?
    saya baru tahu tentang parijotho itu. baru dengar sekali ini, malah.


    Pecel pakis itu amat terkenal di tempat saya.
    Ada warung yg khusus jual pecel itu dan larisnya bukan main. Pembelinya kelas menengah keatas

    [Reply]

  18. Kampung wisata ternyata colo itu ya Pak..Bikin kangen kampung melihat foto2nya Pak Mars..


    Kebetulan letaknya dipuncak gunung dan disitu ada makam Sunan Muria Mbak, sehingga banyak villa2nya. Rata2 dimiliki oleh Pabrik Rokok

    [Reply]

  19. aku nomor satu naksir, pecel pakis nya…… hahaha
    (dasar tukang makan segala……. ) 😀
    lalu, panoramanya dan air terjunnya…….
    dan……………pingin nyobain semua rasa airnya yg 3 rasa itu…………. 🙂
    terus…………….kapan ya bisa kesana menikmati semua itu….. 🙁
    salam


    Sayang sekali jaraknya jauh ya Bun.

    [Reply]

  20. alangkah senangnya punya kampung halaman

    apalagi dengan alam pedesaan yang sejuk

    btw foto yang pertama keren
    rumah2nya kok bisa rapi gitu meliuk mengikuti gunungnya


    Itu rumah mengikuti jalan yang menuju Makam Sunan Muria Mbak

    [Reply]

  21. Sekali-kali kayaknya perlu ziarah ke makam para wali nich.
    Parijotho saya kira nama jenis padi lho.
    jadi sinom parijotho diambil dari tanaman ini ya mas.
    Salam hangat dari Surabaya


    Iya Dhe
    Sinom Parijoto itu terinspirasi dari nama buah2an

    [Reply]

    rusdiyono Reply:

    yang menciptakan sinom parijotho adalah kangjeng sunan muria pakdhe chol…


    Kayaknya iya

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *