Dikumpulkan Lalu Ditebarkan

Aktifitas yang banyak dilakukan manusia itu sejatinya hanya ada dua. Pertama mengumpulkan apa yang bertebaran dan yang kedua adalah menebarkan kembali apa yang sudah dikumpulkan. Ini sudah semacam hukum alam atau sebuah keniscayaan.

Seorang pekerja bekerja keras mencari uang. Setelah terkumpul nggak mungkin uang tersebut dilaminating, dipigura atau disimpan tanpa diapa2kan. Si uang pasti dibelanjakan, bayar listrik, beli rokok, dikasihkan pengemis dll.

Seorang guru pernah menuntut ilmu dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Setelah ilmu terkumpul, nggak mungkin si guru itu puas lalu tidur2an dirumah. Ia pasti akan menyebarluaskan ilmu itu ke murid2nya.

Air ditampung di bak penampungan. Setelah tertampung, nggak mungkin bak tersebut digembok lalu di las. Air tersebut pasti ditebar kembali. Untuk mandi, diminum, untuk menyiram tanaman dll.

Asam digunung, garam dilaut, jengkol dikebun. Disatukan dalam sebuah periuk. Setelah itu nggak mungkin dipertahankan untuk tetap disitu. Setelah dikonsumsi dan dicerna akan ditebar kemana2. Ada yang dibuang dirumah, di WC sekolah bahkan ada yang nggak keburu lalu ditebar dicelana.

Begitulah…
Hanya ada dua agenda. Dikumpulkan lalu ditebar kembali. Sayapun lagi mengumpulkan energi dan semangat untuk saya tebarkan lewat tulisan yang semoga berkenan dihati yang membacanya.

52 thoughts on “Dikumpulkan Lalu Ditebarkan

  1. Saya bukan manusia sejati tapi menurut saya. . .

    Manusia sejati tidak mengumpulkan atau membagi. . .

    Manusia sejati “melepaskan”/ “menyerahkan” sejatinya dan manusianya untuk melihat apakah yang tersisa dari nya. . . karena disanalah hukum semesta kehidupan paling dasar dan sejatinya Sejati berada.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *