Dluwang

Satu lagi koleksi kata dari bahasa lokal daerah saya. Namanya dluwang, benda yang amat dibutuhkan dalam aktifitas pendidikan maupun perkantoran. Dluwang adalah kata lain dari kertas, benda tipis dan rata hasil kompresi serat pulp. Serat ini alami dengan kandungan selulosa dan hemiselulosa.

Dluwang dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain. Uang, dokumen dan catatan penting lainnya juga terbuat dari dluwang. Dluwang juga merupakan revolusi baru yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia.

Masih banyak istilah lokal lain yang kadang ngangeni untuk didengar lagi, sekalian memutar waktu mundur kembali kemasa kecil, masa didesa kelahiran saya. Selain gendul dan dluwang, beberapa istilah lain misalnya glepung, pit, udut dll. Tinggal tunggu giliran.

17 thoughts on “Dluwang

  1. Klo ini istilah masa kecil saya pak :
    godog : main kasar
    jontlop : saat main kelereng, susah didefinisikan…wkwk
    manyak : terlalu maju dr garis batas…
    sekuk : saat main kelereng…, mff susah didefinisikan lagi….

    [Reply]

  2. Kalo denger kata dluwang, yang terlintas di kepala adalah uang kertas. Padahal dluwang kan artinya kertas ya, bukan uang kertas. Hehehe…

    [Reply]

  3. perbendaharaan kata bahasa jawa jaman2 dulu memang bikin kangen ya pak,,
    dluwang, ahirnya saya jadi inget juga, dulu juga pernah pake kata2 itu…

    [Reply]

  4. jauh amat ya pak dluwang sama kertas
    kalau di daerahku gampang … kertas itu karotes,
    karena orang Batak itu nggak bisa nyebut dua konsonan berdekatan he..he…, jadi ya tinggal nambahin sisipan aja

    mesjid aja jadi masojid ha..ha…, truk jadi toruk

    [Reply]

    LJ Reply:

    hampir mirip kak monda, di bukik kertas disebut karateh..

    jadi klo uang kertas bilangnya ‘Wang Dluwang’ ya pak..? 😛

    [Reply]

  5. dadi eling waktu nang ndesa pas numpak pit unto lanang songko samping soale durung iso numpak nang nduwur, pas ngebut nabrak pager tritis sirahku benjut

    [Reply]

  6. Saiki wis arang wong ngomong dluwang, pakdhe. Seperti sudah saya tulis kemarin, bahasa nasional sudah membunuh bahasa daerah secara perlahan-lahan.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *