Home > Realita > Dulu Dan Kini

Dulu Dan Kini

April 28th, 2011

Dua tahun yang lalu saya pernah menulis tentang empat kata kunci yaitu dahulu, sekarang, ada dan tidak ada. Seiring perjalanan waktu maka beberapa bagian dari isi tulisan tersebut ada yang sudah tidak sesuai dengan situasi saat ini sehingga perlu dilakukan update. Ini di Indonesia

Yang dulu ada dan sekarang tak ada atau hampir2 tak ada

  • pahlawan, kerajaan, empu, patih
  • kasti, benthik, dakon, galatama, jirak, dam2an
  • ketoprak, wayang kulit, ludruk, Gundala, Angling Darmo
  • kupat, lepet, es lilin, blondho, sayur lompong, cucur
  • kepedulian, toleransi, gotong royong, tenggang rasa

Yang dulu nggak ada dan sekarang ada

  • microwave, HP, laptop, ipad, sinetron, infotainmen,
  • raskin, BTL, tabung gas 3 kiloan, contreng
  • Briptu Norman, Malinda Dee, Megan Fox, Maria Ozawa
  • flu babi, flu burung, flu tikus, flu cacing, AIDS
  • mie instan, saus, burger, sandwich

Yang dulu ada dan sekarang tetap ada

  • ketidakadilan
  • kecurangan
  • kekerasan
  • perebutan kekuasaan
  • kolusi, korupsi dan nepotisme

Yang dulu nggak ada dan sampai sekarang belum kita rasakan keberadaannya

  • Ketuhanan Yang Maha Esa
  • Kemanusiaan yang adil dan beradab
  • Persatuan Indonesia
  • Kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dlm permusyawaratan perwakilan
  • Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Ada dan tiada adalah suatu keniscayaan yang musti harus begitu dan memang harus begitu. Tak bisa dihindari, tak bisa diprogram secara pasti. Yang ada hari ini bisa jadi tiada di esok hari, yang hari ini tiada bisa jadi ada atau diada2kan di kemudian hari…

Perlu dimengerti bahwa saya nggak anti Pancasila. Tentang blondho akan saya jelaskan dalam postingan mendatang

~ Grazie ~
Categories: Realita
  1. April 30th, 2011 at 05:13 | #1

    Salam menyapa Pak Mars !

    Justru yang antara ada dan tiada yang sekarang selalu bermunculan ditengah masyarakat Pak. >>>>> “KEPERCAYAAN”

    Sukses selalu

    Salam

    Ejawantah’s Blog


    Bener Pak…
    Amat sulit menemukan kepercayaan sejati

  2. mbah jiwo
    April 30th, 2011 at 05:55 | #2

    pagi mas, ini postingannya dalem banget ya, daleeeem banget…

    mudah2an bermakna bagi kita semua…


    Iya Mas…
    Semoga bisa kita maknai dan tindak lanjuti, meski selangkah selangkah

  3. April 30th, 2011 at 07:33 | #3

    Jiakakakakakka….. jreb dalem!


    Itulah kenyataannya Mas prim

  4. April 30th, 2011 at 07:44 | #4

    Blondo itu ampas pembuatan minyak klentik yo mas. soalnya suka makan itu waktu kecil.
    Benthik memang musnah karena ada hape dan TV plus internet yag menyediakan mainan macam-macam.
    Layang-layang saja di kampung saya sudah nyaris musnah.
    Ludruk juga idem dto. Kalau punya hajat lebih suka nanggap dangdhut daripada nanggap wayang kulit atau ludruk.

    Salam hangat dari Surabaya


    Bener PakDhe…
    Blondho yang saya maksud memang itu

  5. Ahmad
    April 30th, 2011 at 10:14 | #5

    yang aku pahami, hidup itu antara ada dan tiada dan suka naik turun..


    Iya Mas.
    Habis gelap terbitlah terang

  6. April 30th, 2011 at 10:29 | #6

    Hmm… kayaknya yang 5 item paling bawah itu ada sejak dulu kok, Pak… di buku tulis saya :D


    Di buku tulis saya malah nggak ada Mbak…
    Isinya rumus matematika semua

  7. April 30th, 2011 at 10:53 | #7

    kayak lagunya Utopia ya pak….antara ada dan tiadaa….:P


    Mari menyanyi Mbak

  8. April 30th, 2011 at 10:56 | #8

    Betul kata mbak kakaakin, keberadaan pancasila ada, ada di buku pelajaran PMP (sekarang namanya PPKN ya?) saya.


    Di buku pelajaran malah nggak ada, karena isinya rumus semua :D

  9. melly
    April 30th, 2011 at 12:30 | #9

    blondo apa glondo? sama yg dibilang pakdhe ampas minyak kelapa
    ini enak bgt loh pak mars :D
    klo dikampungku namanya gemok :D

    postingan ini pas bgt dgn keadaan sekarang dan telah berlalu


    Bener Mbak…
    Kalau ditempat saya namanya blondho…

  10. April 30th, 2011 at 12:43 | #10

    Salam Takzim
    Izin memperkuat tali silaturahim, agar tak kendor apalagi putus. Banyak khasanah yang didapat semakin hangat terasa, Terima kasih pak atas pembelajarannya
    Salam Takzim Batavusqu


    Sama2 Mas

  11. April 30th, 2011 at 12:54 | #11

    ternyata dengan ada dan tiadanya ini,,
    apakah negeriku makin maju atau mundur ya Pak..


    Kayaknya Maju Mundur Mbak

  12. April 30th, 2011 at 13:56 | #12

    Wah… kreatif, nggak kepikir sampai kesana…


    Makasih Mas

  13. April 30th, 2011 at 16:34 | #13

    Hahahaha, saya kok merasa sangat setuju sekali dengan apa yang Pak Mars tulis.
    Hmmm, Pancasila itu kapan sih bisa terwujud di negara berdasarkan Pancasila ini?


    Mungkin nunggu sekian generasi lagi Mas

  14. May 4th, 2011 at 08:57 | #14

    dulu ya dulu kini ya kini,,tapi kita jngan lupain masa lalu!!!

  15. May 27th, 2011 at 11:11 | #15

    bagus,

    postingan yang menarik,

    good job! :)

Comment pages
1 2 20160
@marsudiyanto
silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~