Efek Kebhinekaan

D

engan dalih hak asasi dan atas nama kebhinekaan, maka apapun bebas dilakukan oleh kita di Indonesia tercinta. Salah satunya adalah dalam hal pemberian nama. Ada nama yang singkat sesingkat2nya semisal Suud, Saodah, Abidin, Fadhel dll tapi ada yang panjang sepanjang2nya semisal Firstiara Elok Grasia Purintiani, Ganjar Priyambodo Adi Prabowo, Christina Novitasari Ayu Sejati, Muchammad Fahriza Zulfian Nugraha, Reylea Adrianda Kusuma Putra, Tonis Sukowidodo Filial Prima, Bella Putri Caesa Wijaya Kusumaningrum.
Sungguh nama yang variatif, mulai yang satu kata sampai yang empat lima kata.

Para orang tua yang memberi nama anaknya tak pernah mempertimbangkan bahwa dengan nama yang terlalu pendek ataupun yang kelewat panjang, kelak anaknya akan mengalami kesulitan dalam banyak hal.

Kejadian aneh saya lihat di surat suara pemilu tahun 2009 ini. Nama caleg ditulis dengan jenis huruf yang berbeda. Untuk nama yang panjang, entah pakai font apa tapi tampak kecil dan ramping mirip arial narrow, sedangkan untuk nama yang pendek, dicetak pakai font lain yang ukurannya besar. Secara psikologis jelas ini berpengaruh dan menimbulkan ketidakadilan, mengingat pemilih kita yang kompetensinya heterogen.

Khusus untuk nama yang panjangnya kelewat batas, ada beberapa kelemahan, misalnya bila harus mengisi formulir yang kotak namanya terbatas. Mau tak mau harus disingkat. Akibatnya nama akan tidak sesuai dengan kartu identitas yang bisa menyulitkan kalau sudah masuk ranah hukum. Ijasah, paspor, sertifikat, SIM, ATM dan kartu penting lainnya butuh nama yang benar.

Knapa sich kita beri nama anak kita dengan yang demikian panjang, kalau ujung2nya juga dipanggil oleh orang lain dengan nama singkatnya.

Tapi sekali lagi, itu adalah hak pemberi nama. Saya sekedar berpendapat, orang lain tak harus sependapat.

N.B.
50% murid saya namanya panjang, tapi dia sendiri selalu menyingkatnya. Saya sudah mengingatkan berkali2 tapi tak membuahkan hasil. Mereka berdalih namanya terlalu panjang. Yang jadi masalah adalah, mereka menyingkat namanya seenak udelnya sendiri, ada yg disingkat belakangnya, ada pula yg disingkat depannya. Ini sangat menyulitkan saya kalau mau memasukkan nilai!.

26 thoughts on “Efek Kebhinekaan

  1. duh.. perhatian banget nih.. dengan penulisan nama di surat suara. saya mah tadi pagi asal contreng aja.. selama dalam partai X hehehe
    anak saya yang nomor dua panjang banget namanya.. akhirnya ya.. di singkat aja penulisannya…hehehe

    [Reply]

  2. saya pribadi cukup berterimakasih dengan dua kata pada nama saya, cahyo mulyono.
    Lha tapi, orang-orang tuh entah sengaja apa ngga, sukanya kepleset manggil cahyono … duuhh ..

    [Reply]

  3. Guru matematika iki memang teliti tenan. Aku mau yo c4 kaget mbah, dasar ora kenal kabeh, akhire sing penting wis mbatalke :D, dasar wong bingungan πŸ˜€
    Untunge jenengku mung 5 mbah πŸ™„

    [Reply]

  4. Namaku gak terlalu panjang siiih, tapi sering dianggap “aneh”.. dan kalau masuk chatroom Islam, sering dibilang namanya gak “Islami”… hiks πŸ™

    [Reply]

  5. temen sekantor saya pak, masih muda, tapi namanya top. cukup PAIJO
    antimodernitas soal nama, tapi wonge pinter. gak kayak celg itu..:D

    Murid saya kasihan Mas.
    Cantik, pinter, tapi oleh orang tuanya diberi nama Suud. Anaknya jadi minder…

    [Reply]

  6. wah.. lg bingung sm penulisan nm nih. klo maslh nilai ya di urut toh pak..

    btw nm sy juga puanjaaang loh pak. πŸ˜›

    Kalau masukkan nilai ke daftar suka kesulitan. Daftar Nama sudah urut abjad, tapi ketika si Anak nggak memunculkan nama depannya di kertas ulangan, tetep menyulitkan saya Bun.
    Apalagi yg ndikte nilainya kan istri saya… πŸ˜†

    [Reply]

  7. lha yang paling aneh tuh nama orang sunda pak: suka mengulang kata yang sama. anna fardiana πŸ˜€ usep marusep, wawan hermawan, dll

    Ajat Sudrajat, Didin Samsudin, Mamat Surachmat dll.

    [Reply]

  8. nama adalah doa….

    Bener Sekali Mas, terutama untuk yang niatnya demikian…
    Tapi ada juga yang asal gabung, apalagi bagi yang nggak ahli doa…

    [Reply]

  9. Saya juga kaget liat di surat suara namanya panjang panjang, dan yang lebih kagetnya, ga ada satupun yg kenal, πŸ˜› *dipentung*

    Maaf pak Mar, baru bisa berkunjung lagi, sudah lama ngga ngikuti perkembangan metamorphose blog ini. πŸ™‚

    [Reply]

  10. Nama2 di atas bs mjd inspirasi sing arep nduwe bayi meneh. Sing jelas nama yang panjang nyusahke gurune nek nulis ijazah. Contohnya saya, lebih suka namanya tak singkat jadi wahyu bmw saja, daripada tak tulis semua jadi sakgantar

    [Reply]

  11. makanya, orang tua saya sungguh bijaksana memberikan nama saya hanya terdiri atas 3 suku kata, pak. kalau nyaleg, nama saya kan jadi gedhe, hehe … kan banyak untungnya.

    [Reply]

  12. kata pepatah ” apalah arti sebuah nama “, ternyata setelah mencermati artikel ini saya jadi tau kalo nama itu sangat berarti dan mempengaruhi untuk jadi caleg yah, thanks atas info pak mar πŸ˜›

    [Reply]

  13. Anak saya dua – duanya bernama dengan 4 suku nama … dan bener pak mars; agak merepotkan si anak dan gurunya.

    [Reply]

  14. wah…, kalo pak mar nulis ini sebelum aku memberi nama anak, mungkin namanya tidak sepanjang sekarang pak

    [Reply]

  15. dq rencana mo bikin clan mas
    smua putra n putriku ta’ pasangin KP di blakang nama induknya
    Kurnia Putra – Kurnia Putri…
    kek kluarga bung karno gitu lhooo

    [Reply]

  16. mau gimana lagi tho, mas? kata pertama adalah nama pemberian ayah, kedua pemberian ibu, ketiga dan keempat pemberian kakek dan nenek dari pihak ayah, kelima dan keenam dari pihak ibu, ketujuh adalah nama keluarga.

    cape deeee…

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *