Harus Berakit-rakit Ke Hulu

Setelah diwisuda setahun lalu, anak bungsu kami langsung tancap gas nyari kerja. Puluhan lamaran dikirim ke berbagai perusahaan, aneka job fair dan bursa lowongan kerja didatangi, tetapi belum ada satupun yang nyangkut, semuanya nihil.

Di jaman persaingan ketat seperti sekarang ini nggak mudah mencari kerja jika hanya mengandalkan nasib baik semata tanpa dukungan koneksi atau juga surat sakti. Ujung2nya tak ada jalan lain selain mengandalkan jalur kekeluargaan alias nepotisme.

Si Sulung memang pernah berencana merekomendasikan dia di perusahaan tempatnya kerja begitu Si Bungsu lulus, tapi dengan melihat saat itu sifat Si Bungsu masih kekanak-kanakan dan rasa tanggung jawabnya angin-anginan, maka rencana itu ditunda.

Dengan berjalannya waktu setelah selama setahun Si Bungsu berjuang meski gagal terus, ternyata kedewasaannya mulai tumbuh. Maka tanpa ragu, Si Sulung merekomendasikannya untuk bekerja di perusahaan tempatnya bekerja.

Dengan bimbingan kilat dari Si Sulung, apalagi yang mewawancarai adalah teman Si Sulung juga, maka seleksi dilaluinya dengan mulus. Penantian setahun itu berakhir dan Si Bungsu mulai kerja.

Saya dan ibuknya menjadi lebih tenang karena Si Bungsu ada dalam pengawasan kakaknya. Ngekos bersama, berangkat bersama. Meski kantornya beda gedung, tapi saat makan siang bisa bersama pula. Gaji Si Bungsu utuh karena semua pengeluaran ditanggung kakaknya.

Perjalanan berliku sengaja saya kenalkan pada Si Bungsu agar dia tau arti perjuangan. Jika dari awal langsung kami carikan pekerjaan, maka ia tak bakal tau makna jatuh bangun.

17 thoughts on “Harus Berakit-rakit Ke Hulu

  1. xixixi… koyo ceritane encang Oyon sama si Encep Pak, ngko kapan-kapan tak ceritake ning KJ, suka duka kakak-adik merantau… xixixixi 😛

    Untung merantaune trimo ning Semarang 😀

    [Reply]

  2. Alhamdulillah.. mas bungsu sudah kerja.

    mudah2an nanti klo Ngai ud lulus kuliah, ummi oyen mau rekomendasiin Ngai kerja di kantor pembibitan jengkol.

    Makasih Ngai…

    [Reply]

  3. Tak dipungkiri, koneksi adalah salah satu pintu masuk ke dunia kerja. Apkah haram? Tentu saja tidak! Karena tidak ada lemak babi terkandung di dalamnya 🙂

    Tapi sebenernya perusahaan juga lebih seneng klo dalam penerimaan ada orang yang “bawa”. Karena “megang”nya lebih gampang. Klo si karyawan baru tersebut ngeyel, Tinggal ciduk si pembawa..ha…ha..ha… Tapi ini kisah nyata kok pak, di perusahaan tempatku bekerja, manajemen membuka kesempatan untuk teman, saudara dan hubungan kedekatan dengan karyawannya.

    Perusahaan tempat anak saya bekerja malah jarang buka pengumuman lowongan. Karyawannya hampir semua hasil rekomendasi, entah dari karyawan senior maupun dari anak perusahaannya… 😀
    Dan yang pasti, kalau perusahaan swasta kan nggak sembarangan juga. Meski hasil bawaan, tapi rata2 punya modal kompetensi

    [Reply]

  4. nepotisme itu tak perlu dipermasalahkan jika memang yang bersangkutan memiliki kecakapan dan kemampuan yang qualified..
    bukan begitu pak..?

    Setuju…

    [Reply]

  5. koneksi memang penting.. tapi teknik pembuatan resume juga perlu dipelajari… Kadang kita tidak terima kerja hanya karena cara menuliskan resume yang tidak baik. Semoga di Bungsu bisa bekerja dengan baik dan tentunya maju..

    Makasih doanya Mas.
    Semoga anak saya lancar bekerjanya

    [Reply]

  6. Mau masuk sekolah juga sama pak….’berakit2 dahulu’…terus kapan senang2 nya…hidup memang tidak untuk poya2 ya.

    Sekarang ini apapun harus melalui perjuangan ya Mas. Beli bensin aja harus berjuang

    [Reply]

    Idah Ceris Reply:

    Sudah bekerja pun masih berakit2, Pak. . .:)

    Artinya, hidup memang seperti orang naik rakit

    [Reply]

  7. Hahahahaha… saya paling senang dengan pernyataan ini, “Gaji Si Bungsu utuh karena semua pengeluaran ditanggung kakaknya.”

    Ini sungguh cerminan kakak yang baik, keluarga yang saling mengasihi, meski pasti adakalanya eyel-eyelan tapi tetap aja namanya kakak beradik pasti menyenangkan 😀

    Selamat ya, OmMars, sampaikan buat Si Bungsu dan Abangnya yang luar biasa 😀

    *psst, fotonya dong, Om*

    Ketika dirumah memang nggak pernah akur Mbak, tapi ketika diperantauan, semua jadi lain. Tiap adiknya lagi apapun, Si Sulung selalu memberi report pada kami.

    [Reply]

  8. Proses menuju kemandirian …
    memang harus setahap demi setahap …
    dan harus dilakukan …
    demi masa depan anak-anak

    Salam saya Pak Mars
    (saya akan mengalami hal ini juga nih … )(hehehe)

    Semoga ketika saatnya nanti, jagoan Om NH juga mendapat job yang sesuai dan menyenangkan, sehingga menjalaninya jadi enak

    [Reply]

  9. alhamdulillaah aku sebelum lulus kuliah malah udah ditarik kerja di Bali, trus habis itu kerja sendiri di rumah. Jadi alhamdulillaah aku ga pernah mengalami susahnya cari kerja. Justru sebaliknya, malah susah mencari waktu nganggur..

    ANakku sing mbarep yo langsung kerjo. Malah pas kuliah entuk proyek soko dosene, pas Gempa Jogja.

    [Reply]

  10. Biar si Bungsu tau, bahwa mendapatkan sesuatu itu perlu usaha yg kuat dan kedesawaan telah membuat Ia mendapatkan pekerjaan. Congrats ya 🙂

    Makasih Mbak.
    Si Bungsu memang saya latih untuk berjuang lebih dahulu biar tau arti usaha

    [Reply]

  11. Satu hal yang penting untuk tidak dilupakan bahwa proses berakit-rakit itu menyimpan amal perbuatan yang sangat mulia, apapun ending-nya.

    Iya Mas, meskipun saat berakit-rakit kadang ada rasa mau putus asa, tapi semuanya akan berasa indahnya manakala rakitnya tlah sampai di tujuan.
    Salam

    [Reply]

  12. proses pembentukan diri sedang berlangsung. Ndherek bingah untuk mas Bungsu, juga ikut mongkog untuk keteladanan mas Sulung. Salam

    Matur nuwun Bu Prih

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *