IPS, Anak Tiri Yang Baik Hati

Secara umum di SMA ada 3 jurusan yaitu IPA, IPS dan Bahasa meskipun yang saya sebut terakhir itu kurang diminati. Kalaupun ada sekolah yang memiliki jurusan Bahasa, jumlahnya amat sedikit. Kali ini saya akan mengajak siapa saja yang mau diajak untuk melihat anak IPS dari sisi lain.

Oleh sebagian besar siswa maupun para orang tua, jurusan IPA dianggap yang paling favorit karena setelah lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi relatif lebih leluasa pilih jurusan. Memang benar jurusan IPS dan Bahasa juga bebas memilih jurusan tapi menurut saya itu omong kosong.

Sama saja bunuh diri kalau anak jurusan IPS masuk kedokteran maupun Teknik Sipil karena mereka tak cukup bekal menerima pelajaran Biologi, Fisika dan Kimia. Sebaliknya anak yang ketika di SMA ngotot masuk IPA justru ikut menyerbu jurusan Ekonomi dan Hukum. Anak IPS bener2 jadi anak tiri.

Tapi anak IPS baik hati. Mereka mensubsidi anak IPA tanpa pernah protes. SPP mereka sama padahal fasilitasnya beda. Anak IPA lebih banyak menyedot dana untuk pengadaan peralatan maupun bahan praktikum, sementara anak IPS tidak sama sekali. Mereka tak pernah iri meski tak punya lab sendiri.

Dan saya merasa beruntung karena bisa mendampingi anak tiri yang baik hati itu. Beberapa tahun terakhir ini saya sengaja memilih mengajar di kelas XII IPS.

Meski bagi sebagian guru mengatakan kalau anak IPS lebih nakal dibanding anak IPA, tapi menurut saya itu tidak benar. Nakal dan tidaknya seseorang tak dipengaruhi oleh jurusan.

Untuk anak2 saya jurusan IPS, kamu pasti ingat kata2 yang selalu saya ucapkan, bahwa saya bangga dengan kamu. Tunjukkan pada dunia, meski kamu anak IPS tapi nilai matematika kamu di UN nanti nggak kalah dengan anak IPA.

Dan tulisan ini tidak saya maksudkan untuk menghasut, apalagi memprovokasi. Saya hanya mengungkap fakta dan realita. Saya bertanggungjawab penuh dengan semua yang saya tulis. Saya siap berargumentasi dengan siapapun yang meragukan kebenaran tulisan ini.

71 thoughts on “IPS, Anak Tiri Yang Baik Hati

  1. aku belum komen yang di sini ya pak…
    klo di sma ku dulu, sma 1 smg pak, anak anak ips lebih sukses lho pak rata rata, dan juga yang rangkingnya belakangan juga sukses sukses, yang ipa dan rangking bagus malah pas pasan… malah ada yang rangking terdepan jadi blogger plus tukang poto kelilingan… nasib…. πŸ˜€


    Iya Mas…
    Nasib dan sukses nggak diukur dari IPA atau IPS

    [Reply]

  2. Dulu anak IPS tidak bisa masuk Akabri, nggak tahu sekarang.
    IPS lebih mudah ya mas.
    Salam hangat dari Surabaya


    Bener sekali Dhe…
    Dulu anak IPS bisanya ke Akpol dowang, nggak bisa ke Akabri
    Kalau sekarang sudah boleh

    [Reply]

    David Reply:

    sampai sekarang pun anak IPS gak bisa masuk akabri


    Apa iya?

    [Reply]

  3. saya dulu juga jurusan IPS pak, masalahnya takut mau masuk IPA hehe….


    Kalau saya nggak takut karena memang ngajar IPS Mas

    [Reply]

  4. Image seperti itu semestinya sudah tidak ada lagi. Sebagai guru kita seyogyanya dapat mengarahkan murid-murid kita untuk dapat memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minatnya masing-masing, bukan hanya berdasarkan prestise belaka, sehingga perlu bantuan konselor dan pemahaman dari orang tua agar sekolah menjadi efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan dunia kerja di masa mendatang terutama dalam menghadapi persaingan kerja di era globalisasi ini.


    Trims atas tambahan wawasannya Mbak…

    [Reply]

  5. aku dulu pengen masuk IPS, tapi gak boleh sama pak wali kelas. jarene eman2 bijine IPA apik2.
    padahal bijine IPS luwih apik…
    akhire pas penjurusan milih Bahasa…
    konsekuensine kudu pindah sekolah, sebab di SMA ku yg ambil jurusan bahasa hanya 5 orang.
    karena kudu pindah sekolah, aku tidak mau maka aku menuruti saja hasil penjurusan masuk IPA.

    jadi kesimpulan dari tulisan yang panjang ini adalah aku masuk jurusan IPA


    Ditempat saya, meski hanya 9 anak tetep lanjut buka jurusan Bahasa mas

    πŸ˜€

    [Reply]

  6. Pingback: metaMARSphose » Tantangan Yang Terjawab
  7. semoga ada banyak guru teladan yang seperti bapak….


    Saya juga belum layak dikatakan teladan kok Mbak… πŸ˜€
    Makasih kunjungannya

    [Reply]

  8. Saya ga mudeng sama akuntansi en ekonomi Pak Mars, makanya ‘maksa’ masuk IPA πŸ˜€


    Saya juga gak mudeng Mbak

    [Reply]

  9. pak mars
    πŸ™‚
    aku baru baca postingan ini dari tempatnya oom enha, udah sering lihat pak mars tapi belon pernah komen *malu-malu ceritane*
    hehehhehe…

    terimakasih pak Mars atas tulisan ini, entah kenapa aku setuju dan merasa terharu *heleh… karena diantara tiga bersaudara cuman aku yang anak IPS dari jaman SMA sampe kuliah, saya selalu di jurusan IPS dan selalu merasa jadi si bodoh dan si nakal, padahaaaal…. banyak juga loh anak IPA yang akhirnya berkarier di ‘lahannya’ anak IPS. ya kan pak?

    sekali lagi, salam kenal Pak Mars yang anti biasa
    πŸ˜€ hehehhehehehee


    Salam kenal kembali dan terima kasih Mbak Ais sudah mampir kesini…
    Maaf kalau telat ngrespon ya… πŸ˜€

    [Reply]

  10. Dulu saya juga masuk IPA. Namun belakangan saya tertarik dengan subjek yang berkaitan dg IPS dan bahasa. Kadang saya merasa, kenapa ya dulu saya tidak ambil jurusan IPS? Dan sebetulnya ambil jurusan bahasa pun sangat menarik. Bagaimanapun IPS itu ilmu yang dinamis dan dibutuhkan orang yang punya kemampuan analisa yang tinggi. Dan bahasa? Wah, itu menarik sekali. Setiap orang berbahasa, dan bahasa selalu berkembang. Saya rasa, orang yang bisa menguasai banyak bahasa, itu sama cerdasnya dengan orang yang bisa menyelesaikan soal2 IPA yang rumit. πŸ™‚


    Makasih Mbak Kris sudah mampir ke blog saya…
    Maaf karena saya terlambat berkunjung balik… πŸ˜€

    [Reply]

  11. Absolutely agree with you πŸ™‚
    Kami sangat senang mendengar atau melihat posting dari “guru yg sebenarnya” πŸ™‚
    Sebagai anak IPS(yg teraniaya), banyak guru yg “terpaksa” memuji anak IPS setinggi-tingginya, padahal saat kelas X dulu… Wah, bs dibilang sakit hati deh tiap denger opininya tentang IPS πŸ˜€
    Sayang sekali melihat fenomena pendidikan di Indonesia sekarang ini, padahal banyak teman-teman di kelas IPS yg cinta ilmu pengetahuan dan sudah punya rencana akan masa depannya πŸ™‚

    hormat kami,
    curhatan dari anak IPS(yg teraniaya)

    [Reply]

  12. Saya senang dengan tulisan Pak Mars yang ini. Karena kebetulan, saya adalah anak IPS, jadi bisa merasakan langsung bagaimana orang-orang memandang anak-anak IPS. Tak kurang dua puluh tahun lalu, waktu naik kelas dua SMA, terus terang saya dihadapkan pada pilihan yang dilematis saat memilih IPS sebagai jurusan. Saya tidak hanya berhadapan dengan anggapan umum tentang IPS sebagai warga sekolah “kelas dua”, tetapi juga dengan ego saya sendiri yang cenderung membenarkan anggapan umum itu. Tetapi syukurlah, ego berhasil saya tekan, karena saya yakin dengan memasuki jurusan yang benar sesuai minat dan bakat, segalanya akan berujung baik.

    Saya juga masih ingat, ketika waktu itu ada seorang guru yang terkejut melihat saya ada di kelas 2 IPS. Karena menurutnya, apa tidak eman-eman? Saya hanya tersenyum mencoba meyakinkan kembali diri saya bahwa inilah pilihan yang sesuai dengan minat dan bakat saya, sungguhpun secara akademik saya memenuhi syarat masuk di kelas Fisika atau Biologi. Alhamdulillah, keyakinan saya berbuah. Lambat laun, prestasi akademik saya membaik. Saya juga tidak kehilangan kepercayaan diri bergaul dengan teman-teman dari jurusan lain dengan menekuni berbagai kegiatan kesiswaan intra maupun ekstrakurikuler. Saya aktif di OSIS, Pramuka, Tae Kwon Do, Band Sekolah, Drum Band dan Paduan Suara. Belum lagi kegiatan di luar sekolah, saya menjadi pengurus organisasi pelajar –dari tingkat kabupaten, provinsi, bahkan menjadi Pimpinan Nasional, sembari menyelesaikan kuliah S1.

    Sewaktu belajar di SMA, baik kelas 2 maupun 3 IPS, saya sungguh menyelami banyak hal. Salah satunya yang tak terlupakan sampai sekarang, dibalik kenakalan dan anarkisme anak-anak sosial, solidaritas diantara kami sangatlah kental. Saya masih ingat, bagaimana tiap hampir setiap senin di upacara bendera kelas kami harus tinggal di lapangan karena dianggap biang kegaduhan. Ada juga seorang guru yang tidak mau masuk ke kelas selama selama berminggu-minggu karena ulah seorang kawan. Ada lagi beberapa kawan yang diskors beberapa hari karena membunyikan mercon di dalam kelas. Ada pula teman yang membikin pingsan salah seorang primadona sekolah karena terkena bola yang sengaja ditendang ke arahnya… Tapi kami dulu selalu gembira, melaluinya bersama-sama. Tak ada yang kami salahkan dari situasi itu. Karena di komunitas kami, menunjuk yang salah tidaklah terlalu penting, bahkan tidak relevan. Kami sangat kompak, walaupun kekompakan itu kadang tidak selamanya positif (he..he). Tetapi, kekompakan inilah yang terbangun hingga sekarang yang menjadikan ikatan alumni sosial SMA kami sangat kuat, dan membentuk paguyuban.

    Hikmah yang ingin saya bagi di sini adalah, kesuksesan tidak harus selalu menempel pada jurusan. Kesukesan sebenarnya adalah ketika kita mampu memilih secara sadar apa jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat kita, dan lalu dengan itu kita dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. So, menjadi anak IPS? Kenapa tidak?


    Semoga komentar ini melengkapi tulisan saya dan terbaca oleh anak IPS untuk nambah inspirasi.
    Makasih Mas Fajar…

    [Reply]

    Fajar Nursahid Reply:

    Siap, pak.. Tugas saya, dan juga harusnya orang lain, adalah menularkan apa-apa yang dapat memberi efek kemanfaatan. Kalau itu menjadi spirit untuk melakukan perubahan yang baik, kan jatuhnya jadi amal jariah, pak. Seperti blog-nya Pak Mars gitulah, yang sudah dapat penghargaan sebagai blok bersih, positif dan inspiratif. Insya Allah menjadi amal jariyah pak. Salut sama Pak Mars..


    Makasih Mas Fajar

    [Reply]

  13. Kalau soal subsidi menyubsidi.. kita ikhlas kok pak. he..he. Namanya juga anak sosial, maka harus berjiwa sosial. Ini bentuk ungkapan bahasa yang lebih positif untuk tidak menunjuk ada mis-manajemen sistem dan orientasi pendidikan kita yang sangat bias eksakta.


    Ikhlas memang kunci segalanya…
    (termasuk ikhlas nulis dikotak komentar…

    [Reply]

  14. Jujur aja Pak De …
    Kalo’ menurut saya jaman sudah berubah … Dulu kebanyakan kita-kita masih selalu tergantung pertimbangan orang tua untuk memilih jurusan … akhirnya banyak yang bilang salah jurusan.
    Sekarang … Hal yang diperlukan menurut saya sosialisasi (motifator) :
    Kewajiban seorang siswa adalah belajar sebaik mungkin … agar menghasilkan “TIKET” yang bagus/maksimal … apapun jurusannya, sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang tangguh, pantang menyerah dan pantang putus asa dan dibarengi dengan do’a.
    Kalo’ memang diperlukan, ketika Orientasi Siswa Baru, Alumni diikut sertakan untuk memotifasi.
    Semakin kesini … saya melihatnya anak-anak sih kritis … cuma’ cenderung cengeng …
    Gak tau dach … perubahan jaman kali … hehehe …
    semoga berman’faat …
    Pak De … Terimakasih … semoga kasih dan lindungan Allah SWT. selalu menyertai Bapak dan Keluarga … Amien …


    Makasih tambahan sharingnya

    [Reply]

  15. Saya dulu kok ga merasa” bangga”jadi anak IPA dan ga juga “memandang rendah” anak IPS.karena menurut saya IPA dan IPS maupun bhs adalah jurusan yg sudah disediakan sekolah sesuai kemampuan dan bakat masing2 anak.Menurut saya pintar dan tidaknya seseorang bukan karena dia jago matematika atau bukan tp bagaimana seseorang itu bisa mengembangkan bakat dan kemampuan yg dimiliki oleh masing2,agar dapat meraih sukses dalam menjalani hidup didunia dan akhirat nanti…


    Anak saya juga campur2
    Yang satu IPA, satunya IPS

    [Reply]

  16. Saya setuju sekali dengan argumentasi seperti ini. Karena, sekarang ini saya dudukdi kelas XI IPS (kelas 2 IPS). Sewaktu kelas 10, rapport semester 2 saya menyatakan saya masuk IPA karena nilai saya dan juga hasil test penjurusan ipa saya diatas KKM yang telah ditentukan. Saya merasa senang dengan ini, mengapa? Argumentasi banyak orang menyatakan bahwa anak IPA adalah ‘anak emas’. Tapi setelah saya fikirkan, ternyata apa yang saya cita-citakan di perguruan tinggi adalah masuk fakultas dari jurusan IPS. Sungguh gundah untuk memilih ‘murtad’ atau tetap di jurusan IPA karena jika saya di IPS, saya takut dianggap ‘anak buangan’. Tapi, akhirnya saya putuskan untuk pindah jurusan IPS. Karena apa? Karena saya tau, saya tak boleh buang-buang waktu untuk masa depan. Percuma saya belajar fisika biologi kimia jika di perguruan tinggi nanti saya akan pilih jurusan IPS. Jadi faktanya adalah tak selamanya IPS itu adalah ‘jurusan buangan’. Dan kabar baik untuk semua yang ada di jurusan IPS, mulai dari tahun ajaran 2012/2013 dan seterusnya, jika kita igin mengambil fakultas dari jurusan IPS di perguruan tinggi negeri, ya anak IPS lah yang lebih didahulukan dan begitupun anak IPA yang ingin masuk fakultas dari jurusan IPA, anak IPA pun lebih diutamakan. Ini adalah sistem yang cemerlang menurut saya, karena tak ada lagi yang namanya diskriminasi atau dianak tirikan:)

    Semoga tidak ada sistem yang merugikan salah satu pihak…
    Makasih tambahan komennya
    Salam

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *