Home > Inspirasi > Kebenaran Itu Tidak (Selalu) Tunggal

Kebenaran Itu Tidak (Selalu) Tunggal

Bahwa kebenaran itu tak mesti tunggal. Jika kita melakukan sesuatu yang kita anggap benar, maka manakala ada orang lain melakukan dengan cara berbeda belum tentu dia salah. Yang kita dan orang lain lakukan bisa benar keduanya meski beda cara.

Tolok ukur sebuah kebenaran banyak ragamnya. Ada yang berdasar kesepakatan, ada yang berdasar kaidah atau hukum dan ada pula yang berdasar pertimbangan hati nurani. Dengan menyadari hal itu maka kita akan terbebas dari sifat merasa benar sendiri.

Tuhan tak menyuruh kita menjawab 5 tambah 5 berapa, tapi 10 itu berapa ditambah berapa.
Tuhan memberi banyak jalan kebenaran.

~ Grazie ~
Categories: Inspirasi
  1. July 11th, 2013 at 06:01 | #1

    Pagi2 dapet pencerahan :) … Berkunjung kembali ke blog ini setelah sekian tahun

    Ini bukan pencerahan, cuma bahan renungan belaka…

    [Reply]

  2. July 11th, 2013 at 06:15 | #2

    Perumpamaannya pas sekali pak. Tuhan itu nggak menyuruh menjawab 5+5=10, tapi 10 itu berapa tambah berapa.

    Memang ada perintah yang tegas dan cuma ada satu jawaban, tapi tak selalunya begitu :D

    [Reply]

  3. July 11th, 2013 at 07:47 | #3

    Benar pak. Cuman sayangnya, Tuhan seringkali ngasih soal matematika kalkulus kompleks yg rumit. Yg salahpun bisa merasa benar, smentara kunci jawabannya kita dapat setelah kita mati.

    Yang penting kita mengerjakan soal dengan penuh keyakinan Mas. Tentang kunci jawabannya seperti apa, biarlah itu diurusi Sang Korektor :D

    [Reply]

  4. July 11th, 2013 at 08:02 | #4

    harus cari beragam jawaban ya pak :)

    Nggak harus cari semua jawaban tapi yang penting kita punya jawaban Mbak :D

    [Reply]

  5. July 11th, 2013 at 08:10 | #5

    kebenaran itu sebenarnya mutlak, tapi cara mencapainya relatif

    Kesalahan juga mutlak Mas.
    Nggak ada kesalahan yang setengah benar atau agak benar.
    Dan yang mutlak itulah yang saya katakan tak selalu cuma satu jalan.
    Ibukota RI itu mutlak Jakarta.
    Nah untuk ke Jakarta kita bisa lewat pantura, bisa pula lewat Cirebon ke kiri.
    Bisa naik kereta, bisa pula “mlayu”

    [Reply]

  6. July 11th, 2013 at 08:15 | #6

    pak mars memang top markotop kalo memberi wejangan…

    Ini bukan wejangan Mas :D
    Cuma bahan renungan sembari “wedangan”

    [Reply]

  7. July 11th, 2013 at 10:06 | #7

    jadi intinya kita harus menghargai setiap perbedaan, gitu mungkin ya pak???

    Sepanjang perbedaannya layak dihargai Mas

    [Reply]

  8. julie
    July 11th, 2013 at 10:42 | #8

    alhamdulillah masih disuruh cari jalan sama Tuhan

    Iya Mbak. Mencari jalan tak lain adalah bentuk ikhtiar

    [Reply]

  9. July 11th, 2013 at 10:47 | #9

    tergantung dr sudut pandang mana kita melihatnya, ya, Pak. Dan jgn ngotot sudut pandang kita terus yg pasti bener

    Iya Mbak. Sudut pandang boleh beda sepanjang yang dipandang adalah sesuatu yang mengandung kebenaran

    [Reply]

  10. Oyen
    July 11th, 2013 at 10:57 | #10

    tapi Tuhan tentunya ngasi petunjuk untuk menuju kebenaran, tinggal manusia mau nyari apa tidak, karena kalo kebenaran mung diserahke menungso, maka halal haram jadi percuma, benar salah jadi relatif, baik buruk jadi pilihan dan surga neraka gak jelas siapa yang bakal jadi penghuninya…

    itu pendapat saya, yang lain boleh tak sependapat :D

    Dapat respon pink.
    Ini bukan untuk hal yang berat tapi yang ringan2 saja, tidak sampai ke wilayah surga neraka.

    [Reply]

    nh18 Reply:

    “tersenyum”

    Tersenyumnya dikulum… :D

    [Reply]

  11. July 11th, 2013 at 11:10 | #11

    Indahnya sebuah prespektif mas :)

    Iya Mas.
    Kita belajar pada banyak perspektif.

    [Reply]

  12. July 11th, 2013 at 12:03 | #12

    Biar gak merasa benar sendiri :D

    Atau tidak merasa paling bener

    [Reply]

  13. July 11th, 2013 at 12:04 | #13

    Baru nyadar, centang kotak anti spamnya ilang. Biasanya nyangkut di situ . he..he…

    Biar makin praktis dan nggak lupa2 lagi Mas

    [Reply]

  14. July 11th, 2013 at 15:00 | #14

    Dengan menyadari hal itu maka kita akan terbebas dari sifat merasa benar sendiri. …

    Saya suka sekali kalimat ini …
    Manusia kadang tidak sadar akan “kemanusiaannya”

    Salam saya

    Untuk menghindarkan kita dari merasa yang paling benar Om.

    [Reply]

  15. July 11th, 2013 at 17:28 | #15

    belajar ngindhik arah yang pener melalui postingan ini menuju bener. Matur nuwun Pak

    Postingan ini juga tak bermaksud untuk mentasbihkan saya sebagai yang paling bener kok Bu.
    Tulisan saya juga banyak salahnya. Itulah gunanya “pengeditan”

    [Reply]

  16. July 11th, 2013 at 20:42 | #16

    Sama halnya dengan sebuah kutipan Gusdur “baik belum tentu bermanfaat”
    Hanya Allah yang Maha Benar :)

    Baik saja belum tentu manfaat, apalagi yang tidak baik :D

    [Reply]

  17. July 12th, 2013 at 05:54 | #17

    Persis kayak twitku yang aku kopi dari ceramahnya pak Quraish Shihab. Pak Mars ternyata nonton juga. Iya sih, acara Tafsir Al Misbah itu satu satunya acara yang pas untuk pencerahan agama. Soalnya Pak Quraish ilmu pengetahuan agamanya sudah sangat dalam. Jadi sangat beda dg ceramahnya ustadz “dadakan” yg lain. Hihihi..

    Yang quote itu memang saya ambil dari ceramahnya Pak Shihab :D

    [Reply]

  18. July 12th, 2013 at 14:01 | #18

    Kalo ke sini selalu dapet pencerahan…matur nuwun Pak Mars..

    Hehehe
    Ini bukan pencerahan Mbak. Cuma merenung

    [Reply]

  19. July 12th, 2013 at 14:42 | #19

    yah, tapi manusia pak, kadang baru tahu satu ayat saja sudah merasa utusan tuhan dan main sweeping saja…

    Mak Jleb…

    [Reply]

  20. July 12th, 2013 at 20:42 | #20

    Saya setuju banget … untuk itulah Tuhan memberikan manusia sebuah akal :)

    Iya Mas…
    Sayangnya banyak yang akalnya cuma buat ngakalin… :D

    [Reply]

  21. July 12th, 2013 at 20:42 | #21

    Dalam pelajaran bahasa Inggris ada yang disebut “general truth” (kebenaran umum). Misalnya”matahari terbit dari timur”
    Salam hangat dari Surabaya

    Yang beda2 adalah cara manusia mengisi hari setelah matahari terbit itu Dhe…

    [Reply]

  22. July 12th, 2013 at 21:59 | #22

    wong kebenaran itu ga ada kok
    yang ada cuma kebetulan…

    Bahasa Indonesia memang banyak anomalinya.
    Benar = Betul, tapi kebenaran tak sama dengan kebetulan.

    [Reply]

  23. July 12th, 2013 at 22:51 | #23

    berarti kebenaran bisa bersifat relatif juga ya pk. Kayak di diskusi tipi-tipi itu, tergantung siapa yang jadi nara sumbernya … hi.hi.hi..

    Kalau itu bukan kebenaran tapi lebih bersifat pendapat. Jadi ya relatif.

    [Reply]

  24. July 14th, 2013 at 22:19 | #24

    kebenaran sesuai situasi dan kondisi

    Iya Mas

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

Current month ye@r day *

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~