Kontrolisasi

Batasan mau seberapa kita lakukan pengontrolan diri itu bukan semata2 hanya menurut kita saja, tapi lebih kepada seberapa besar resistensi yang ditimbulkannya terhadap sekitar kita. Mau muter lagu kenceng2 kalau sekitar kita nggak merasa terganggu adalah sah adanya. Meski menurut kita belum seberapa kenceng tapi kok sekitar kita merasa terganggu, maka disitulah saatnya kita harus melakukan kontrol diri.

Mau nulis sepedas2nya atau ngkritik setajam2nya kalau yang dikritik fine2 aja maka teruskanlah. Sebaliknya, meski menurut kita apa yang kita sampaikan sudah halus mulus tapi kok membuat pihak lain nggak berkenan, maka hentikanlah. Masih banyak cara lain yang bisa kita pilih.

Inilah pendapat saya terhadap kontrol diri. Penyesuaian dengan lingkungan sekitar adalah unsur penting yang tak bisa diabaikan.
Jangan hanya karena dalih “prinsip” lalu kita memaksakan kehendak.

20 thoughts on “Kontrolisasi

  1. Ya pada prinsipnya kan “Perselisihan bukan terjadi karena adanya perbedaan pendapat tapi karena adanya dua jawaban yang sama benarnya” laik dis, PanDuk ^_^d

    [Reply]

  2. Jangan hanya karena dalih โ€œprinsipโ€ lalu kita memaksakan kehendak

    Betul sekali …
    Saya rasa ada cara lain yang lebih eiylekhan … hehehe

    salam saya Pak Mars

    [Reply]

  3. mari menggalakkan kontrolisasi diri. sampe susah nulisnya, hehe
    takut salah tik pak ! ๐Ÿ˜€

    [Reply]

  4. Sepakat Pak!
    Karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak enak rasanya. Hasilnya pun belum tentu baik ๐Ÿ™‚

    [Reply]

  5. Apapun yang kita lakukan akan sangat berharga jika dapat menyenangkan orang lain, memiliki prinsip dalam hidup memang penting, tapi yg lebih penting salah satu prinsip hidup kita tidak menyakiti orang lain
    Salam kenal Pak.

    [Reply]

  6. kalau berbicara kontrol yang lebih utama didahulukan adalah sensornya, apabila sensornya peka maka pengontrolan akan lebih sensitif.

    [Reply]

  7. Kalau untuk kesenangan saya setuju, Pak Mars. Jangan pernah mengganggu orang lain. Kita harus tahu batasannya. Nah, soal kritik mengkritik, contoh mengkritik perusahaan pelayanan publik atau korporat yang tidak benar saya agak kurang sependapat. Kalau saya lebih suka terus terang dan tanpa tedeng aling-aling. Memang ini menyakitkan bagi pihak yang nerima kritik. Tapi gimana lagi orang sekarang kalau hanya dikritik alus-alus dan disemoni (disindir) ora rumongso je. Dikritik terang terangan aja kadang masih suka pura-pura gak dengar. Piye jal. ๐Ÿ™‚

    Untuk yang perlunya kontrol diri itu saya setuju, Pak. Ada ungkapan katanya di dalam setiap kebebasan kita ada kebebasan orang lain yang tidak boleh dilanggar.

    [Reply]

  8. Kata Kontrolisasi itu sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia yaitu ” kemarluanisasi”. Berasal dari kata ” Kontrol” yang diganti menjadi “kemarluan”
    Tapi kata ini tidak populer karena dianggap bersinggungan dengan kejantanan laki-laki, Akhirnya gak dipakai lagi.

    Salam hangat dari Surabaya


    Bisa juga pakai sinonim alat vitralisasi… ๐Ÿ˜€

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *