Home > Ekspresi > Kontrolisasi

Kontrolisasi

August 20th, 2011 Leave a comment Go to comments

Batasan mau seberapa kita lakukan pengontrolan diri itu bukan semata2 hanya menurut kita saja, tapi lebih kepada seberapa besar resistensi yang ditimbulkannya terhadap sekitar kita. Mau muter lagu kenceng2 kalau sekitar kita nggak merasa terganggu adalah sah adanya. Meski menurut kita belum seberapa kenceng tapi kok sekitar kita merasa terganggu, maka disitulah saatnya kita harus melakukan kontrol diri.

Mau nulis sepedas2nya atau ngkritik setajam2nya kalau yang dikritik fine2 aja maka teruskanlah. Sebaliknya, meski menurut kita apa yang kita sampaikan sudah halus mulus tapi kok membuat pihak lain nggak berkenan, maka hentikanlah. Masih banyak cara lain yang bisa kita pilih.

Inilah pendapat saya terhadap kontrol diri. Penyesuaian dengan lingkungan sekitar adalah unsur penting yang tak bisa diabaikan.
Jangan hanya karena dalih “prinsip” lalu kita memaksakan kehendak.

~ Grazie ~
Categories: Ekspresi
  1. nanDuk
    August 20th, 2011 at 20:39 | #1

    Ya pada prinsipnya kan “Perselisihan bukan terjadi karena adanya perbedaan pendapat tapi karena adanya dua jawaban yang sama benarnya” laik dis, PanDuk ^_^d

    [Reply]

  2. August 20th, 2011 at 20:51 | #2

    Jangan hanya karena dalih โ€œprinsipโ€ lalu kita memaksakan kehendak

    Betul sekali …
    Saya rasa ada cara lain yang lebih eiylekhan … hehehe

    salam saya Pak Mars

    [Reply]

  3. August 20th, 2011 at 21:35 | #3

    membaca judulnya harus hati-hati. jangan sampai salah baca

    [Reply]

  4. bangauputih
    August 20th, 2011 at 22:56 | #4

    mari menggalakkan kontrolisasi diri. sampe susah nulisnya, hehe
    takut salah tik pak ! ๐Ÿ˜€

    [Reply]

  5. August 20th, 2011 at 23:50 | #5

    Setuju………..(numpang lewat)

    [Reply]

  6. August 21st, 2011 at 11:27 | #6

    salah satu triknya ada dengan interopeksi alias bercermin pandangi diri sendiri, bukan?

    [Reply]

  7. Erdien
    August 21st, 2011 at 11:41 | #7

    Sepakat Pak!
    Karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak enak rasanya. Hasilnya pun belum tentu baik ๐Ÿ™‚

    [Reply]

  8. August 21st, 2011 at 12:41 | #8

    Sependapat,…
    Kontrol diri demi kebaikan kita juga, menjalankan prinsip tidak harus memaksakan kehendak.

    [Reply]

  9. August 21st, 2011 at 12:45 | #9

    Apapun yang kita lakukan akan sangat berharga jika dapat menyenangkan orang lain, memiliki prinsip dalam hidup memang penting, tapi yg lebih penting salah satu prinsip hidup kita tidak menyakiti orang lain
    Salam kenal Pak.

    [Reply]

  10. August 21st, 2011 at 13:39 | #10

    Heehehe… kalo aku masih berpendapat: Aku tuh ya gini ini, mau silakan, gak mau ya silakan pergi aja….

    [Reply]

  11. August 21st, 2011 at 13:47 | #11

    Saya sering dipanggil tole, makanya diajarin toleransi, hehee

    [Reply]

  12. Afrianti
    August 22nd, 2011 at 05:09 | #12

    Ya memang seharusya kita bisa mengontrol diri kita setiap saat dari apapun juga

    [Reply]

  13. August 22nd, 2011 at 13:44 | #13

    kalau berbicara kontrol yang lebih utama didahulukan adalah sensornya, apabila sensornya peka maka pengontrolan akan lebih sensitif.

    [Reply]

  14. August 22nd, 2011 at 20:24 | #14

    Jangan hanya karena dalih โ€œprinsipโ€ lalu kita memaksakan kehendak.
    Jangan pula main bom atau sweeping, Kita bukan Tuhan khan?

    [Reply]

  15. August 22nd, 2011 at 22:19 | #15

    tumben menjlimet pak ๐Ÿ™‚

    [Reply]

  16. August 23rd, 2011 at 04:42 | #16

    saya setuju dengan prinsip bapak

    [Reply]

  17. August 23rd, 2011 at 04:51 | #17

    kontrolisasi kalau menurut saya mirip dengan pengendalian diri

    [Reply]

  18. August 23rd, 2011 at 12:15 | #18

    Kalau untuk kesenangan saya setuju, Pak Mars. Jangan pernah mengganggu orang lain. Kita harus tahu batasannya. Nah, soal kritik mengkritik, contoh mengkritik perusahaan pelayanan publik atau korporat yang tidak benar saya agak kurang sependapat. Kalau saya lebih suka terus terang dan tanpa tedeng aling-aling. Memang ini menyakitkan bagi pihak yang nerima kritik. Tapi gimana lagi orang sekarang kalau hanya dikritik alus-alus dan disemoni (disindir) ora rumongso je. Dikritik terang terangan aja kadang masih suka pura-pura gak dengar. Piye jal. ๐Ÿ™‚

    Untuk yang perlunya kontrol diri itu saya setuju, Pak. Ada ungkapan katanya di dalam setiap kebebasan kita ada kebebasan orang lain yang tidak boleh dilanggar.

    [Reply]

  19. August 23rd, 2011 at 18:32 | #19

    laik this ,Pak Guru ๐Ÿ™‚
    Jangan hanya karena dalih โ€œprinsipโ€ lalu kita memaksakan kehendak.

    salam

    [Reply]

  20. Canon
    August 25th, 2011 at 18:17 | #20

    Kata Kontrolisasi itu sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia yaitu ” kemarluanisasi”. Berasal dari kata ” Kontrol” yang diganti menjadi “kemarluan”
    Tapi kata ini tidak populer karena dianggap bersinggungan dengan kejantanan laki-laki, Akhirnya gak dipakai lagi.

    Salam hangat dari Surabaya


    Bisa juga pakai sinonim alat vitralisasi… ๐Ÿ˜€

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~