Lutunaisme

Pasti susah ditelusuri siapa yang pertama kali memulai, tapi kayaknya lutunaisme sudah menyebar keseluruh wilayah Nusantara dan pengikutnya tak terhitung lagi jumlahnya. Yang saya maksudkan adalah mereka2 yang menulis kata berakhiran “nya” menjadi “na”.

Aliran ini saya sebut dengan “lutunaisme” karena yang paling sering dipermak adalah kata “lucunya” menjadi “lutuna“. Beberapa kata lain juga mengalami nasib yang sama, dimana akhiran “nya” diganti dengan “na” tapi tak sesering kata “lutuna“.

Bagi mereka yang punya akun di twitter maupun facebook pasti amat sering menjumpai status yang demikian ini. Yang membikin biasanya remaja dan anak muda usia SMP atau SMA. Dari survey yang saya lakukan, 90% murid saya melakukannya juga.

Saya tidak mengatakan ini baik atau nggak baik. Saya cuman berpikir, kenapa untuk hal2 seperti ini cepet sekali jadi tren, tapi untuk hal lain yang lebih positif nggak mudah berkembang?

20 thoughts on “Lutunaisme

  1. saya sering bertemu dengan beberapa orang dari daerah Jawa Barat, mereka memang ngomongnya begitu karena lidahnya.
    kalau dari daerah lain saya nggak tahu, lebih nggak tahu lagi ketika itu jadi mode…
    ih, lutuna!


    Di Kendal dan Limbangan sudah ada…

  2. Mungkin metode dalam pembelajaran budi pekerti kurang sekali di mulai dari lingkungan rumah. Karena perkembangan anak-anak dilakukan dengan mencontoh orang yang lebih dewasa disekitar dia.

    Sukses selalu Pak.
    Salam
    Ejawantah’s Blog


    Yg SMP ikutan yg SMA, yg SMA ikutan mahasiswa…

  3. Siswa saya juga banyak follower PakMars, salah satu penyebabnya karena pengaruh Bhs.Bugis…


    Tapi kayaknya sudah melebar kemana2 Bang…
    Di Jawa juga merajalela

  4. kalau saya menjumpai pertama tren ini di jogja. sudah 6 tahun lalu


    Kalau saya ketemunya di twitter atau FB Mas

  5. Lutunaisme…. bagus juga istilahnya, pak Mars. Banyak juga yang memakai x sebagai pengganti nya, penambahan ea… kadang pusing membacanya.


    Xixixixi…
    Iya Mbak, disingkat2 malah nggak jelas

  6. emangna pak mars gak suka meniruna? khan gaul pak…heee…sebaikna biarkana saja…halah…


    Kalau sayana meniru malah jadina lutuna

  7. hihihi,,,
    kalau saya, meskipun hanya sebagai pembaca, waktu membacanya aja gimanaaaa gitu,,,,
    mending abaikan ajalah.. 😀


    Saya juga nggak ikut2 Mas

  8. Biasanya orang yang sudah besar dan matang akan sungkan menuliskan kata “lutuna” itu. Oleh karena itu mari kita besarkan dan matangkan anak-anak untuk memperbaiki bahasanya sehari-hari.


    Siap!

  9. Wuehehehehe….. terkena latah! Saya malah suka bingung dengan bahasa-bahasa cadel gitu, Pak Mars. Faktor “U” mungkin ya 🙁


    Apalagi saya…

  10. kalo istilah lutunaisme baru sekarang saya dengan Pak, tapi gejala penulisan dan cara berbicara seperti itu sering saya dengar.
    Mereka sepertinya pingin ‘eksis’ dan diakui keberadaannya di lingkungan mereka, sehingga dengan itu dia sudah merasa menjadi bagian yang ‘pantas’ menjadi sebuah komunitas.
    lha kalo orang tua ikutan luntuna, apajadinya pendidikan keteladanan


    Xixixixi…
    Iya Pak.
    Saya pastinya nggak ikut2an

  11. “90% murid saya melakukannya juga..”
    Lhoh, memangnya anak PAUD ngomong Lutuna juga ya pak? hihihihi…

    *bayangin pak Mars ngajar PAUD.. 🙂

    pak, ini saya kirimin paket yang lutunaaaaaaaaaa…
    berisi; Nanas, Mangga, Durian, Pepaya, Gurami, Nila, Lele dan Ikan Asin


    Makasih kirimannya
    Salam buat little O

  12. Ooooh jadi Bapak pikir lutuna ini gak positif ya? 😆

    Memang inilah dunia ini, Pak, kabar yang jelek mudah tersebar, kabar baik malah tersendat. Kira2 seperti itu. 🙂


    Bukan cuma saya pikir Mas…
    Lha itu kan ngerusak ejaan. Jelas nggak positiplah

  13. ya gimana ya pak, klo naek haji keliling ka’bah 10.000kali nggak akan ada yang liput, coba kecing di ka’bah, dijamin langsung terkenal seantero dunia, terutama endonesya dulu… 🙂
    endonesya getoo loh… 😀
    #moga moga ini nggak merusak ejaan…

  14. Ngetrennya hanya beberapa saat
    Emak tetap bilang ” lucune arek iki ”
    Emak emang gak pernah ikut2an ngetrend dadakan

    salam hangat dari Surabaya

Comments are closed.