Makhluk Itu Bernama Contrèng

E

ntah angin apa yang membawanya, entah Tukang Bahasa mana yang memicunya, tiba2 saja makhluk aneh bernama Contrèng itu seakan bangkit dari kubur, jadi pembicaraan dimana2. Nggak cuman dibicarakan, tapi diseminarkan, disosialisasikan, dimasyarakatkan dan saat ini bahkan malah saya postingkan ❗

Kenapa kata yang tidak baku, terkesan norak dan sangat tidak mengIndonesia begitu bisa lolos sensor?. Andai kata Contrèng itu dipandang Indah, pastilah sudah diabadikan sebagai nama orang, semisal Roy Contrèng, Contrèng Irama, Contrèng Syah dll.

Kata itu sungguh ndak nyaman ditelinga saya. Selainnya itu, kata Contrèng kan punya padan kata lain yang lebih elit, semisal Cawang maupun Cénthang, meskipun dua2nyapun asing di telinga awam, knapa nggak dipakai?.

Satu lagi yang aneh tiap pelaksanaan pemilu adalah istilah surat suara, kotak suara, penghitungan suara, bilik suara (yang malah ndak bersuara) dan istilah lain tentang suara. Saya sangat tau arti kiasan maupun kata jadi2an. Tapi knapa menggunakan istilah suara?. Knapa tidak memakai istilah pilihan atau istilah lain yang nggak anèh?. Suara kok diwadahi kotak, blas ndak nggayah. Bukankah pertanyaan yang sering muncul adalah “kamu milih apa”, tidak ada yang tanya “kamu nyuara apa…” :mrgreen:

Aneh berikutnya adalah istilah pemilu itu sendiri. Pemilihan Umum kok disingkatnya Pemilu. Sungguh penyingkatan yang melanggar HAM. Pemilihan disingkat Pemil, sementara Umum cuman diambil U nya. Mana letak pemerataan dan keadilannya?.

Saya bertanya2, siapa sich kamprètnya yang telah menyingkat Pemilihan Umum jadi Pemilu, dan siapa pula teman si Kamprèt yang memunculkan kata Contrèng
Sungguh sebuah istilah yang sangat ndak mbejaji 😆

45 thoughts on “Makhluk Itu Bernama Contrèng

  1. kata contreng berasal dari sebuah kampung suku terpencil di pedalaman terkucil nun jauh dimato… 😀

    [Reply]

  2. 1. Sarwo W 😀 termasuk Wedinan 😀 ID YM-nya mana mbah?
    2. Mohon blog SMPku dicakotke di dikpora mbah : wewewe.smpn3singorojo.wotpressdotcom (ben ra ketangkap satpam mbah, plis yah mbah.

    [Reply]

  3. Adalagi yang suka beli suara, lha kalo saya mbok emoh kalo suara saya mau dibeli…nanti saya mau ngomong pake suaranya siapa dong kalo udah dibeli…

    [Reply]

  4. saya belum bisa nyontreng nih pak, soale terbiasa nyoblos wkwkwk

    [Reply]

  5. hihihi
    emang orang indonesia kan sukanya yang miring sebelah
    aneh-aneh aja
    saya lebih suka centang daripada contreng… atau jangan-jangan contreng ini mau saingan dengan merek obat contr*x???

    EM

    [Reply]

  6. Apakah istilah nggayah dan mbejaji sudah masuk ke dalam ibu bahasa kita Indonesia apa hanya istilah di Metamorphose saja ya

    [Reply]

  7. kalo gak salah yg akrab di kupingku dulu “conteng”
    kok jadi contreng?
    djaman sudah berubah

    [Reply]

  8. Kalau istilah yagn lebih dulu saya ketahui sih Cawang maupun Cénthang dan juga Contèng *tanpa huruf R* … mungkin sekalian untuk penyegaran aja pak. Ayo kita Contrèng

    [Reply]

  9. Iya ki enakan nyoblos 😀
    DiIndonesia kok suka mengubah2 peraturan ya??? Kasian rakyat yang mikirin cari makan udah susah makah mikirin contreng.

    [Reply]

  10. Pak…., saya agak sulit menerjemahkan istilah Mbejaji ke dalam Bahasa Banyumas…,

    [Reply]

  11. ahuhuu… ternyata kita sama, pak.
    saya blas nggak sukak dengan istilah contreng.
    nanti kalo tahu temannya kampret yg bikin itu, mari kita contreng2 bareng mukanya.

    [Reply]

  12. lagi belajar mencontreng nih. Eh pak mar, tapi kata mencontreng sebelumnya pernah dinyanyiin P-Project loh. nie mencuri kata nih KPU. Yang judulnya “mencontreng teman” itu loh.

    [Reply]

  13. Lha iya… namanya juga Pemilu, maka banyak hal yang memang akan bikin Pilu.
    KPU juga banyak punya aturan2 yg maju-mundur kiri-kanan gonta-ganti bikin Pilu yg nglihat. Aturan2 teknis milih juga makin bikin Pilu. Sudah enak nyoblos kok malah diganti ‘nyontreng’. Kata Pak JK agar kita bisa ikut2an negara2 lain yg sudah mengganti nyoblos dg ‘nyontreng’. Emangnya apa setiap negara lain itu perlu kita tiru. Mbok iyao bikin gaya kita sendiri aja to ya? maunya kok ikut2an melulu.
    🙂

    [Reply]

  14. Pertama saya menganjurkan tidak mencontreng…hanya membulatkan
    Kedua Pemilu memang melanggar HAM..betul kata Pa’e mana letak unsur pemerataanya…
    Adaaaaa..aja’

    [Reply]

  15. Ndak usah protes tho mister….
    Bukankah panjenengan juga memakai istilah yang jelas2 melanggar HAM juga…
    Mau bukti?
    BLOG EM adalah kepanjangan dari BLOG Marsudiyanto..
    Semestinya biar adil dan merata, kudu disingkat BM sajah… 😀

    [Reply]

  16. SbenarY it adalah bahasa ALIAS saja. sing penteng pada ngerti artiY apa, maksudY bagemana.

    Ati ati yo kang, jangan salah nyontreng… He.

    [Reply]

  17. Pingback: metaMARSphose » Coblos jadi Contreng itu Milyaran lho…
  18. euleuh, bahasa ti mana eta teh?teu raos kadanguana teh, pamarentah teh mani teu bareres pisan euy…

    [Reply]

  19. kalau nyawang bisa diartikan melihat dan nyentang bisa diartikansama saja nyikut,sedang nyontreng diartikan nyodok yang mentereng he e e e e e

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *