Home > Ekspresi, Jawa > Mbok-Mboken

Mbok-Mboken

September 4th, 2013 Leave a comment Go to comments

Sebuah istilah yang mungkin hanya ada dalam masyarakat Jawa, meski tak menutup kemungkinan terjadi juga pada masyarakat lain, hanya istilahnya saja yang beda. Istilah mbok-mboken ditujukan pada anak yang susah lepas dari orang tuanya, maunya selalu dekat.

Hampir semua orang pernah mengalami fase itu, terutama pada awal perantauan atau pisah dengan orang tua. Saya mengalaminya saat masuk SMP, saat mulai ngekost. Mbok-mboken ditandai dengan rasa kangen yang luar biasa pada orang tua, terutama pada ibu.

Ada orang yang cepat melepas sifat mbok-mboken ini, tapi ada yg masih mengidapnya sampai dewasa. Saya punya teman satu kantor yang sudah setengah umur tapi sifat “mbok-mboken”nya masih sangat kental. Seminggu saja tidak pulang kampung, gelisahnya luar biasa.

Saat ini saya sudah tidak mbok-mboken lagi karena Ibuk sudah tiada…
Anak sulung saya nggak terlalu, tapi yang bungsu sangat mbok-mboken. Meski sudah besar, tapi tiap pulang selalu nempel pada ibuknya seolah tak mau lepas.

Berbahagialah yg masih ada ibu, karena bisa mengekspresikan rasa mbok-mboken yg ada.
Apakah sahabat masih suka merasa mbok-mboken?

~ Grazie ~
Categories: Ekspresi, Jawa
  1. September 4th, 2013 at 10:26 | #1

    Aku juga sdh tak bisa mbok-mboken, Pak Mars..:)

    Mungkin masih ada rasa mbok-mboken, tapi sudah nggak bisa diwujudkan Bu…

    [Reply]

  2. September 4th, 2013 at 11:22 | #2

    saia kadang2 juga masih mbok-mboken pakdhe heheh

    Setiap kita masih menyimpan rasa itu Mas

    [Reply]

  3. September 4th, 2013 at 11:32 | #3

    saya udah merantau sembilan tahun masih mbok-mboken juga.

    Rasa mbok-mboken susah disembunyikan Mbak :D

    [Reply]

  4. September 4th, 2013 at 11:46 | #4

    Alvin banget nih pak mars, selalu nempel

    Saya baru nyadar kalau nama anak kita sama ya Mbak.
    Tapi Sulung saya pakai “F”. Alfin :D

    [Reply]

  5. September 4th, 2013 at 12:30 | #5

    Saya kira artinya … “keibu-ibuan”
    ternyata artinya “anak mama” toh

    hehehe

    Salam saya Pak Mars

    Hahahahaha… :D
    Meskipun Mbok = Ibu, tapi Mbok-mboken tak sama dengan keibu-ibuan
    Anak yang mbok-mboken biasanya dikatakan “Anak Mamih”

    [Reply]

  6. September 4th, 2013 at 12:51 | #6

    saya memang sudah tidak mbok mboken Pak Mars, tapi kalo sudah sakit dan nggak ketemu ibuk, rasanya sakitnya nggak sembuh sembuh pak :D

    Kalau pas dengar lagu kuno atau pas sepi, biasanya rasa kangen itu datang dan rasa mbok-mboken itu muncul lagi Mas

    [Reply]

  7. September 4th, 2013 at 13:09 | #7

    masih Pak, kadang-kadang hehe

    Saya juga mestinya masih tapi tak bisa lagi Mbak

    [Reply]

  8. September 4th, 2013 at 13:49 | #8

    Mbok-Mboken. .
    Hokya-Hokya. . .

    Masiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih. . :mrgreen:

    Hahahahaha
    Ternyata banyak yang masih mbok-mboken

    [Reply]

  9. September 4th, 2013 at 13:51 | #9

    inangon, kalau bahasa sononya pak…

    Berarti benar perkiraan saya Bu.
    DI tempat lain pastinya ada cuma istilahnya beda, karena mbok-mboken adalah sifat dasar manusia

    [Reply]

  10. September 4th, 2013 at 14:19 | #10

    Saya masih mengidap mbok-mboken ini, Om, kususnya kalo lagi sakit. Waktu melahirkanpun bukan suami yang tak suruh mendampingi tapi Ibunda yang tak pegangi gak boleh pergi :P

    I love you, Ibundaaaa… ^-^

    Sangat manusiawi kalau kita semua masih mbok-mboken

    [Reply]

  11. September 4th, 2013 at 14:29 | #11

    saya bungsu tapi tidak mbok mboken..

    terbiasa jauh dengan ibu,malah ibu yan anak anaken *piye iki maksudte pak? :D

    tapi tetep sayang ibu.. :)

    Ketika tiba saatnya, semua akan berbalik. Jaman saya SMP dan mulai ngekost, tiap mau balik ke kost saya pasti menangis karena masih kangen rumah. Ibuk menasehati agar saya mengerti. Lalu setelah sekian puluh tahun berlalu, tiap kali saya pulang kampung, begitu pamit mau pulang, ibuk selalunya menangis dan seakan nggak rela saya tinggalkan, dan giliran saya yang beri pengertian.
    Itu hukum alam

    [Reply]

  12. September 4th, 2013 at 14:34 | #12

    karena sering merantau, sifat mbok-mboken sudah nggak ada lagi pak

    Mungkin bukan nggak ada tapi karena sudah keslimur Mas

    [Reply]

  13. September 4th, 2013 at 14:35 | #13

    aku sepertinya tidak terlalu Pak Mars, mgkn karena dari SMU sudah jauh dari rumah ya :D

    Memang ada yang bisa mengelola rasa mbok-mboken itu Mbak, tapi banyak juga yang tak bisa menahannya

    [Reply]

  14. September 4th, 2013 at 16:01 | #14

    saya masih mbok-mboken walau tidak teerlalu hehe :D

    Kebanyakan orang memang masih menyimpan rasa itu

    [Reply]

  15. September 4th, 2013 at 16:05 | #15

    dulu pas awal kuliah, memang kadang mbok-mboken. tapi sekarang sudah tidak lagi. kayaknya malah ibu saya yang “anak-anaken” hehehe

    Sama Mbak.
    Saat ibuk masih ada, beliaulan yang anak-anaken…

    [Reply]

  16. September 4th, 2013 at 16:41 | #16

    Shasaku tuh mbok-mboken banget Pak Mars… mungkin karena dia anak satu2nya… jadi mau tak mau dia jadi dekat dg ortunya (terutama mbok’e) hehehe…

    Sangat wajar Mbak.
    Anak saya yang umur 20 tahun saja masih mbok-mboken banget

    [Reply]

  17. September 4th, 2013 at 17:31 | #17

    Bahasa kerennya.. home sick gitu kali ya?

    Mungkin iya Bu…

    [Reply]

  18. September 4th, 2013 at 20:16 | #18

    Lah saya yang mbok tetep juga mbok-mboken koq Pak, dan sangat senang saat diemboki anak-anak (sifat dasar embok nih Pak). Salam

    Rasa mbok-mboken memang tak terbatas dimiliki anak Bu…
    Yang sudah Bapak2 juga bisa punya rasa itu

    [Reply]

  19. nDuk
    September 4th, 2013 at 20:20 | #19

    Adanya mbok-mboken bukan bapak-bapaken, adanya juga ibu pertiwi bukan bapak pertiwi dan masih banyak lagi, itulah istimewanya perempuan :cool: . kalau naknDuknya gak begitu mbok-mboken, Pak, tapi emak-emaken, halah! :mrgreen:

    Nah itulah kelebihan wanita. Ada lagi Ibu Jari dan Ibu Kota

    [Reply]

  20. September 4th, 2013 at 22:29 | #20

    rapopo..
    sifar alami kui hehe

    Sangat manusiawi ya Mas :D

    [Reply]

  21. September 5th, 2013 at 09:12 | #21

    saya masih, hehehehehhe

    Sama dunk :D

    [Reply]

  22. September 5th, 2013 at 09:13 | #22

    beda nggak sama anak mami ya pak

    Sama Mas.

    [Reply]

  23. Sholihin
    September 5th, 2013 at 09:13 | #23

    Masih Pak Mars, walaupun kadang cuma mbok-mboken lewat telfon….. :(

    Berarti memang itu sifat mendasar ya Mas

    [Reply]

  24. September 5th, 2013 at 09:20 | #24

    Setuju sama quotenya Pak .. ada rasa sesal kita rasanya banyak yang kurang ketika sudah ditinggal sama orang tua, lebih-lebih ketika rindu ketemu mereka muncul.
    Terima kasih Pak :)

    Kalau lagi sepi atau bangun tengah malam, rasa kangen itu tambah memuncak Mas…

    [Reply]

  25. September 5th, 2013 at 10:02 | #25

    Mbok saya masih ada tapi sudah lama nggak mbok2en Pak. Kesibukan sehari2 ternyata sudah melupakan itu semua. yang penting tidak lupa dengan mbok nya kala saya…yach, kadang kala ya silaturrakhim…gitu…

    Kebalikan dengan saya.
    Mbok saya sudah nggak ada tapi saya masih mbok-mboken

    [Reply]

  26. September 5th, 2013 at 11:01 | #26

    yang mboken mboken aja nih pak mars…heee…maksa bahasanya ya…:)

    Hahahahahaha
    Mas Indra kok tau yang “mboten-mboten”

    [Reply]

  27. September 5th, 2013 at 12:35 | #27

    Alahamdulillah Pak Mars, sampai ahari ini saya sekeluarga masih doberikan kesempatan seperti itu.

    Salam wisata

    Amin…

    [Reply]

  28. September 5th, 2013 at 12:50 | #28

    Berarti apakah Hani juga Mbok-mboken ya karena Hani kalau pulang masih suka nempel sama Bunda jug aminta kelon Bunda :D

    Ya seperti itulah salah satu ciri mbok-mboken.
    Nggak mau pisah

    [Reply]

  29. September 6th, 2013 at 10:53 | #29

    Saya bungsu, daaaan.. mbok-mboken banget :D
    Kok istilah kita sama ya Pak, mbok-mboken..

    Istilah di Jawa tengah Utara dengan Surabaya banyak samanya Mbak…
    Mungkin karena nenek moyangnya sama ya

    [Reply]

  30. September 7th, 2013 at 06:01 | #30

    Terakhir mbok mboken itu ya pas stres skripsi dulu itu. Masih tidur bertiga sama ibu dan adik di satu kamar. Hahaha.. Kalo sekarang justru kepingin menjauh dari ibuk. Bukan durhaka melainkan memang mungkin fasenya kepingin hidup mandiri.

    Tapi rasa mbok-mbokennya pasti masih tetep melekat

    [Reply]

  31. muhammad s
    October 19th, 2014 at 16:19 | #31

    saya juga sebenernya mbok-mboken tp drpd deket secara fisik ma ibu tp ngga bisa ngasih uang jajan, mending jauh tp tiap bulan rutin mengirim uang jajan buat bapak ibu. klo kangen tinggal video call pake skype.

    [Reply]

  1. October 17th, 2013 at 11:58 | #1

Current month ye@r day *

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~