Mengejar Siluman

Tulisan ini masih terkait dengan tulisan sebelumnya tentang rangking kelas. Saya mengibaratkan orang yang mengejar rangking itu seperti mengejar siluman, karena yang dikejar adalah sesuatu yang masih misterius, tidak wujud dan tidak terukur.

Rangking itu ditentukan oleh pasar. Tak ada rumusnya, harus mencapai nilai berapa agar seseorang mendapat rangking I. Bisa dibayangkan betapa tidak mudahnya bagi anak untuk mendapatkannya karena harus berebut satu sama lain. Mirip seperti lomba lari yang tak jelas garis finisnya.

Semoga contoh berikut makin memberikan gambaran betapa merugikannya rangking bagi siswa…
Pada semester I, rata2 nilai anak kita 8,5 dan mendapat rangking III. Pada semester II, rata2 nilainya naik menjadi 9,1 tapi malah cuma dapat rangking V. Apakah kita lalu mengatakan bahwa prestasi anak kita menurun hanya karena rangkingnya turun?.

Itulah kenapa, tingkat keberhasilan seorang siswa tak dilihat dari rangkingnya tapi dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal atau KKM, yaitu batas paling rendah dari nilai yang harus dicapai. Tanpa mempedulikan berapa rangkingnya, manakala nilai siswa sudah melampaui KKM, maka siswa tersebut sudah bisa dikatakan berhasil.

KKM inilah garis finisnya, yang secara transparan disampaikan ke siswa pada awal tahun. Jadi target yang harus dikejar terukur secara jelas. Keberhasilan siswa tidak dipengaruhi oleh siswa yang lain. Ini amat beda dengan rangking.

Jangan paksa anak kita untuk mengejar siluman

27 thoughts on “Mengejar Siluman

  1. mengejar siluman seperti mengejar angin dong pak 😀


    Angin mah nggak usah dikejar…
    Justru kita yg dikejar angin. Makanya ada MASUK ANGIN

    [Reply]

    nique Reply:

    tumben pertamax? 😛


    Yg lain pada jalan2

    [Reply]

    nique Reply:

    xixixi gantian sama saya yang baru pulang jalan2 ya pak 😀


    Iya kali…
    Setelah ini targetnya kemana lagi Ni?

    [Reply]

  2. klo ngejar siluman terus, kuatir gak bisa siuman.

    selamat sore, mbahKung


    Selamat Sore Nak…

    [Reply]

    Ngai Reply:

    walah, aquwh salah pake akun..

    selamat maghrib, mbahKung. 😛


    Dimaklumi kalo salah akun Nak 😀

    [Reply]

    Ngai Reply:

    mbahKung, itu logo Marsudiyanto-nya kocak..
    pake emo nyengir juga bintang-bintang.


    Itu sengaja, untuk menghindari gambar agar loadingnya cepat. Kalau pakai emo kan ukurannya kecil karena yg lain pakai huruf biasa…

    [Reply]

  3. Sebenarnya yang ngotot nyari rangking itu si anak ato orang tua ya ?. Apakah kalo anak sudah mendapat rangking, trus orang tua ikutan nebeng dapat kepuasan karena berhasil membuat anak meraih rangking, kalo demikian biarlah orang tuanya saja yang nggobyos ngejar siluman, karena bukan jamannya lagi pemikiran seperti itu.


    Yg ngobrolin rangking kebanyakan sich orang tuanya Pak…
    Dengan rangking, anak yg merasa gagal jauh lebih banyak

    [Reply]

    Djangkies Reply:

    nambah
    siluman slumun slamet


    Salaman ! 😀

    [Reply]

  4. memang benar kang coretan diatas , “kepuasan tersendiri “apabila dapat rangking khususnya bagi saya “ibu2” .Mungkin karena kodratnya kali 😀


    Mungkin karena sudah jadi paradigma.
    Tapi bisa dibayangkan, dari 20 ibu2 yang kebetulan anaknya satu kelas, yang puas paling2 cuma beberapa gelintir. Sementara yg lainnya pasti agak kuciwa

    [Reply]

  5. Jadi di sekolah Pak Mars sdh tak ada sistem rangking ya? Untunglah di sekolah anak saya sudah lama tak ada. Tapi kami para orang tua memahami hukum tak tertulis, bila dua anak pada suatu semester dapat hadiah dari sekolah, biasanya mereka mengantongi rangking di kelas..Tapi tidak pernah disebutkan berapa rangking mereka…Saya pikir ini bagus..Anak2 tetap termotivasi memperbaiki nilai, tapi gak kejar2an pada angka2…


    Kalau SMP dan SMA sudah lama dihilangkan Bu…
    Sejak diberlakukan Kurikulum 2004 kalau nggak salah

    [Reply]

  6. yang penting nilainya harus diatas KKM njih pak…


    Iya Mbak…
    KKM itulah batas riilnya, jadi anak bisa melihat ancar2nya sedari awal target yg musti dilampaui

    [Reply]

  7. yang penting bisa bukan rangking kalau menurut saya pak


    Yang penting di atas KKM itu Mbak.
    Ibarat orang loncat tinggi, bukan cari yg paling tinggi tapi cari yg bisa melewati ketinggian tertentu yg sudah ditetapkan

    [Reply]

  8. ngomongin siluman, jadi inget laga indosiar 😀 laga indosiar = ranking kelas:D


    Sponsornya Indomie

    [Reply]

  9. iya setuju ngejar ranking sama dengan ngejar siluman… ga dapet dapet ya… khan sekarang sudah banyak sekolah yang tidak menggunakan ranking ya..


    Selain nggak dapet2nya, untuk dapat rangking tak jelas harus dapet nilai berapa

    [Reply]

  10. Dari berita, siswa yang mempunyai nilai ujian nasional terbaik tingkat nasional ternyata jarang menjadi juara kelas 🙂
    Seperti pepatah: tak kan lari siluman di kejar 😀


    Rangking tak slalu bisa jadi tolok ukur.
    Sama seperti juara.
    Juara 3 kalau pesertanya cuma 3 orang, masih lumayan juara 5 dari 40 orang

    [Reply]

  11. Bener juga ya, Pak…
    Ukuran yang terpenting adalah nilai, bukan ranking.


    Kalau rangking itu ada yg berat perjuangannya Mbak, apalagi kalau komunitasnya pinter2

    [Reply]

  12. Setuju banget sama postingan ini..
    Rangking itu ditentukan oleh pasar. Belum tentu anak yg gak dapat rangking 5 besar itu gak pinter lho…
    Tapi judulnya serem Pak..hihihhiih


    Semoga orang tua makin memahami Mbak

    [Reply]

  13. Kalau kita rajin, tekun, pasti semua orang tertarik, termasuk siluman itu sendiri ya pakde


    Iya Bli…
    Rangking itu akibat atau efek saja, bukan tujuan utama

    [Reply]

  14. semoga KKM semakin populer, mengalahkan kepopuleran rapor hehehe


    KKM kan bagian dari rapor.
    Jadi ya masih terkenal rapor

    [Reply]

  15. Benar, Pak. Kebanyakan wali murid masih menjadikan ranking sebagai tolak ukur keberhasilan anaknya menyerap pelajaran. tanpa disadari selama ini mengejar ranking ternyata tak ubahnya mengejar siluman. O..seram!


    Untk Abi, saya sarankan mentargetkan nilai untuk anak.
    Misalnya rata2 nilai saat ini 8,5 maka di semester berikutnya ya lebih tinggi dari 8,5.
    Nggak perlu target rangking

    [Reply]

  16. Di acara akhir wisuda, kayaknya saya ndak tahu nilainya berapa. Yang penting saya lulus…


    Yang penting lulus dulu. Sama seperti punya anak. Yang penting lahir dengan selamat. Soal laki2 apa perempuan itu nomor berikutnya

    [Reply]

  17. Salah satu manfaat per-ranking-an adalah utk memacu semangat belajar & berprestasi. Tapi ini pun jadi tidak terlalu bermanfaat lagi sekarang ya?


    Saya yakin meski kita tak tau seberapa berpengaruh, tapi pastinya masih ada manfaatnya Mas

    [Reply]

  18. KKM itu kalau di Magelang disebut Passing Grade. Nilai 5 misalnya dianggap dibawah passing grade. Kadang ada ganjarannya yaitu dicabut pesiar ha ha ha ha.
    Salam hangat dari Surabaya


    Iya Dhe…
    KKM sama dengan Passing Grade.
    Istilahnya saja yg diganti2

    [Reply]

  19. Kalau saya …
    Menargetkan pada anak-anak saya …
    Hari ini harus lebih bagus daripada hari kemarin …
    Hari besok lebih baik dari hari ini

    Itu saja

    Salam saya pak


    Setuju Om…

    [Reply]

  20. Hihi dulu aku SMA juga ada SKBM. Meski di rapot gak ada, tapi kadang sekolah bikin ranking sih. 😀


    Iya…
    Rangking tetep dibikin tapi sekedar ditunjukkan kalo ada yg pengin tau ajah

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *