Mengelola Tetapi

Ada sebagian orang yang dalam hal berkomunikasi, berargumentasi atau juga berjanji gemar sekali menyelipkan kata “tetapi” disetiap kalimat yang diucapkannya. Secara tidak langsung hal ini justru bisa jadi bumerang karena akan mencerminkan sikap tidak tegas.

Orang yang berkata: “Saya mau tetapi mas kawinnya harus sepatu dari kulit singa dan tas dari kulit anoa” atau “Saya maafkan tetapi dengan tebusan 21 miliyar” sejatinya menegaskan ketidakmauannya.

Tidak terlalu salah jika orang menggunakan “tetapi“, asal dikelola secara bijak. Jika salah penempatan bukan tak mungkin akan menimbulkan kesan negatif bagi yang mendengarnya. Sama2 memakai kata “tetapi“, akan tetapi dua kalimat berikut punya kesan yang jauh berbeda.

  • Cantik sich, tapi sayang kulitnya hitam.
  • Kulitnya sich hitam, tapi kan cantik.

Marilah bijak bersikap. Ketika masakan istri kebanyakan garam, katakan saja :
“Asin dikit tapi enak kok…”.

Jangan pernah katakan :
Enak tapi kok asin !

18 thoughts on “Mengelola Tetapi

  1. Ini betul juga ya …
    salah menempatkan …
    salah susunan …
    rasa bahasanya (begitu kata Guskar) … pasti sudah sangat berbeda …

    Ini penting untuk mereka yang berkecimpung dibidang kehumasan … dan komunikasi publik … (hehehe)

    salam saya

    (29/3 : 9)

    [Reply]

  2. “Emak emang bulet tapi enrgik koq” waduh makasih thole…..fakta yang dipermasalahkan
    Terima kasih Pak Mars, belajar mengelola tetapi ah.
    Salam

    [Reply]

  3. Nah sebagai blogger sudah selayaknya belajar yg beginian. Apalagi seorang blogger khan biasanya blogwalking dan memberikan komentar. Soooo.. Bijaklah dalam berkomentar kayak contoh kalimat di atas..

    Josh gandosh pak postingane.. Tapi.. #eh

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *