Menuntut Keadilan

Entah lagi musim atau mungkin memang keadilan yang makin sulit didapat, tapi nyatanya dimana2 terjadi demo menuntut keadilan. Benarkah keadilan mulai hilang dari peredaran?

Tak hanya rakyat yang menuntut pemerintah atau buruh yang menuntut perusahaan, tapi teman senasib sepenanggunganpun bisa saling iri satu sama lain karena keadilan yang tak ditegakkan.
Mari kita simak perdebatan yang tak berkesudahan berikut ini.

(A) : Bos Besar bener2 nggak adil. Kita ikut dia sudah puluhan tahun, akupun tak pernah nolak tiap dikasih tugas. Dimana ada kamu pasti ada aku. Tapi kenapa cuma kamu yang dikasih hadiah?
(B) : Ya kalau marah jangan ke aku. Siapa tau Bos Besar punya pertimbangan lain. Kenapa nggak tanya langsung ke beliau?. Hadiah inipun bukan aku yang minta.
(A) : Percuma!. Bos Besar nggak pernah mau dengar omonganku. Lagian dia belum tentu nuruti keinginanku. Ngabisin energi dowang…
(B) : Namanya juga usaha. Siapa tau kali ini permintaanmu diluluskan. Kalau belum mencoba jangan langsung nyimpulkan

C dan D yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara juga.

(C) : Kamu ya aneh. Aku dan D kerjanya lebih berat dari kalian. Tanpa kami, mana mungkin Bos Besar dan kalian bisa kemana2. Tapi kami ikhlas meski Bos Besar nggak ngasih hadiah. Lagian kami nggak butuh dan nggak pantes memakai hadiah kayak gitu. Wagu tau !
(D) : Saya setuju apa kata C itu. Trus kalau kamu berdua dikasih hadiah yang sama, emangnya Bos Besar nggak diketawain orang sekampung karena pakai jam tangan dikiri dan dikanan?

Pertanyaannya,
Taukah saudara, siapakah (A), siapa (B) dan siapa pula (C) dan (D) dalam cerita tersebut?

21 thoughts on “Menuntut Keadilan

  1. tauuu…..Pak guruu…
    A = tangan kanan, B=tangan kiri, C=kaki kanan & D=kaki kiri

    hadiah bisa diambil di mana, pak? :mrgreen:


    Kowe kok pinter nDuk…

    [Reply]

    arif Reply:

    (applause) 😀

    [Reply]

  2. Hehehe, Keadilan diberikan sesuai aturan dan porsinya ya pak.

    Ehm jawabannya sama kayak nduk dan pencerah Pak..


    Okelah…

    [Reply]

  3. ho oh..bener. A= itu tangan kanan dan B = tangan kiri
    C dan D itu kaki.

    bener kan Pak? tapi bener.. Pak Mars mengangkat cerita yang singkat namun bikin mikir: ho’oh juga yah…

    [Reply]

  4. Keadilan memang sulit untuk diterapkan, apalagi jika itu menyangkut tuntutan hak setelah kita merasa telah melakukan kewajiban-kewajiban. Repotnya, banyak dari kita yang melulu menuntut hak tapi kewajibannya nihil.

    Analogi dialog di atas sering lho pak terjadi di lingkungan kerja saya. Dan ujung2nya ya paling yg nggrundel bilang: ‘wis, gusti pangeran wae sing ngatur’. Nah, kan malah melemahkan kinerja kalo gitu. Kepercayaan pada pimpinan lama2 luntur.

    Kalau saya disuruh memilih, saya pilih saudara (B) laah hehe 😀

    [Reply]

  5. A-B … tangan kanan kiri
    C-D … sepasang kaki

    Salam saya Pak Mars

    (masing-masing sudah ada bagiannya sendiri-sendiri) 🙂

    [Reply]

  6. Pak Mars, lama gak ketemu. kangen baca artikel2 bapak yang benar2 menghibur (joget ayu tin gting :D)

    [Reply]

  7. nah kadang manusia memang tidak pikir bahwa masing-masing sudah ada rewardnya sendiri.
    mungkin pak eM harus bikin jam kaki biar C dan D ngga ngiri yah heheheh


    Kalau perlu malah tiap jari dikasih jam Bu…

    [Reply]

    tunsa Reply:

    haha… kalo tiap jari dikasih jam, terus kalo makan pake tangan gimana pak? bisa-bisa jamnya ikut ditelan 😆


    Kan bisa di set macam2. Ada WIB, WITA, waktu Amerika, waktu hongkong dll

    [Reply]

  8. Pak, kenapa hadiahnya bukan jam dinding ajah?? Kan lebih besar ukurannya dari jam tangan 🙂


    Kalau jam dinding nanti malah cicak yang makai Mbak

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *