Mojok Di Pojok Bisa Terpojok

Pojok yang ini adalah area sempit disudut kantin sekolah. Di pojok inilah tempat favorit ketika aku lapar dan pengin makan. Suasananya sepi dan nggak membaur dengan murid. Itulah alasan kenapa aku suka disitu.

Puluhan kali aku mengunjungi pojok kantin itu, tapi situasinya biasa2 aja, datar2 saja. Hingga suatu ketika, saat aku menikmati makanan seperti biasa, tiba2 dihadapanku duduk cewek berseragam abu2 putih. Busyet, begitu umpatku dalam batin. Berani2nya murid ini parkir di sini. Karena aku nggak ngajar dikelasnya, maka dia cuek padaku. Itulah kelakuan murid jaman sekarang.

Pagi harinya, di jam dan pojok yang sama, lagi2 kejadian berulang. Dia mulai berani menatap aku. Akunya juga menatap dia. Kalau aku nggak menatap, mana mungkin aku tau kalau dia menatapku. Tampaknya dia mulai nantang kuat2an. Daripada timbul hal2 yang aku inginkan, aku ngalah dan kembali menikmati makananku.

Pagi harinya lagi, pastinya di pojok itu lagi…
Berulang lagi?. Ya iyalah. Tapi kali ini cara menatapnya ke aku sudah beda. Kali ini tatapannya adalah tatapan yang aku suka. Karena aku mulai suka, maka akupun berusaha menatapnya dengan tatapan yang kira2 dia suka.

Daripada nunggu dia menyapa tapi terlalu lama, akhirnya aku nyerah dan menyapa dia duluan. “Kok sukanya dipojok, emang knapa?”. Itu kata2 pertamaku untuk dia. Dia malah balik nanya: “Lha bapak kok suka juga dipojok, emang knapa?”. Makin benar saja pendapat yang mengatakan jika perempuan ditanya pasti balik nanya. Lalu obrolanpun mulai berjalan dengan lancar.

Hari2 berikutnya, mojok di pojok menjadi ritual resmi kami berdua. Topik obrolannya juga mulai melebar kemana2. Betah rasanya ngobrol bersama dia. Makin hari tampak makin cantik, cara bicaranya makin menarik, enak dilihatlah pokoknya. Seperti nonton TV berwarna. Begitu kata teman SMA dulu ketika lihat cewek cantik. (Untuk istriku, kamu nggak usah cemburu. Kamu TV berwarna juga kok. Cuma beda taun produksi).

Hingga suatu ketika, tanpa aku duga tiba2 dia ngomong ke aku: “Mas, mbok sekali2 ngobrolnya jangan disini melulu. Makan dimana kek, atau nonton dimana gitu. Bosan kan, di pojok terus…“.

Deg!. Jantung ini rasanya mau lepas. Knapa tiba2 dia panggil aku Mas?. Kok juga beraninya dia ngajak makan ditempat lain dan nonton film?. Apakah ini yang disebut sebagai pucuk dicinta ulampun tiba?.

Aku sempat terpojok oleh permintaannya. Tapi siapa sich yang kuasa menolak ajakan bidadari cantik?. Untung saja aku bukan guru biasa. Kalau itu keadaannya, uang dari mana untuk makan2 di restoran dan beli tiket nonton?. Akulah guru anti biasa yang punya dolar karena reviewnya lancar (keliatan boong nggak ya… )

Dan kini…
Pojok kantin itu berubah fungsi. Pojok itu cuman halte kecil. Terminal sesungguhnya ada di Restoran dan Gedung Film. Disini tak ada lagi gadis berseragam putih abu2. Yang ada adalah gadis yang menginjak remaja, gadis TV berwarna

Bidadari Abu2 Putih, kamu sungguh bijaksana. Kamu tak salah memilih. Kamu ada ditangan orang yang benar. Seandainya kamu makan dan nonton dengan orang lain, belum tentu seaman dan senyaman sekarang. Aku bukan type orang yang suka memanfaatkan kesempatan.

Jangan meniru adegan ini tanpa bimbingan ahli. Bisa2 terpojok gara2 mojok di pojok. Saya sendiri nggak jelas itu fiksi atau pengalaman pribadi. Tulisan saya tak terbatas oleh waktu. Bisa sudah terjadi, sedang terjadi atau malah belum terjadi. Silakan diapresiasi sesuka hati.

Oke, saya pamit dulu. Mau siap2 nonton lagi nich. Saya gak peduli filmnya apa. Mau film kolosal kek, mau film drama kek, atau film kartun sekalipun. Film tak penting lagi buatku. Saya lebih seneng nonton TV berwarna ketimbang filmnya.

65 thoughts on “Mojok Di Pojok Bisa Terpojok

  1. Mojok yuk kita mojoooook yuk, kita mojok berduaaaa. oye oye…… Tu lirik lagu jadul cucok banget lo pak mars. hehehhh…..

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *