Home > Jawa > Njangkar

Njangkar

February 11th, 2012 Leave a comment Go to comments

Njangkar adalah istilah Bahasa Jawa yang artinya memanggil orang tapi hanya namanya saja, tanpa embel2 apapun seperti Mas, Mbak, Pak, Bu, Om, Tante, PakDhe, Dik, nDuk, Bang, Jeng, Eyang, Biuda, Bli, Bung atau yang lainnya, tapi bukan Bro atau Gan

Saya tak tau didaerah lain ada istilah sejenis “njangkar” atau tidak, tapi dalam adat Jawa memanggil secara njangkar termasuk kurang sopan kecuali untuk yang sepadan misalnya sahabat atau teman sekolah. Dan sebagai orang Jawa yang sejak kecil diajari itu, saya amat menjaga tradisi tersebut.

Pada adik2, saya memanggilnya Dik dan mereka memanggil saya dengan Mas. Juga pada murid, saya memanggilnya Mas untuk yang lelaki dan Mbak untuk yang perempuan. Meski tak ada kewajiban dan aturannya, saya tak sampai hati untuk memanggil langsung hanya namanya saja.

Saya belum merasa ribet atau rugi waktu hanya karena menambah kata didepan nama, ketimbang harus mengorbankan etika yang diajarkan oleh orang tua dan guru saya. Ada pengecualian juga. Pada teman sekolah atau yang sudah akrab serta pada keponakan ya njangkar saja.

Kesulitan muncul ketika berada didunia maya. Karena dalih kebebasan, banyak orang yang memakai nama samaran dan susah dideteksi gendernya. Jika ada foto atau avatarnya masih kira2, tapi ketika yang nongol cuma nama samarannya, sulit bagi saya harus menambah apa

Contoh nama aneh misalnya Obat Panu, Jagoan Neon, Sang Pemberani, Tempe Bongkrek, Crat Crut, Kodok Brontok dll. Mau panggil dengan Mas Obat Panu takut kalau dia cewek, mau ganti Mbak Obat Panu jangan2 dia cowok karena cewek atau cowok sama2 punya potensi panuan

Seingat saya hanya dua nama yang saya panggil secara njangkar dan dua2nya suka sekaligus bangga kalau namanya saya sebut.
Yang pertama namanya Ngai, satunya lagi namanya Ni (kalo nggak salah)

~ Grazie ~
Categories: Jawa
  1. February 11th, 2012 at 13:55 | #1

    Saya biasa mendengar istilah ini dari kedua orang tua saya. Mereka juga selalu menyebut mas & mas kepada teman2 anaknya.

    Kalau nama saya, terdeteksi gak gendernya ? hehe ..


    Karena avatarnya gambar bunga, secara umum saya menganggapnya wanita πŸ˜€

    [Reply]

  2. February 11th, 2012 at 14:06 | #2

    malah ada yang memanggil nama saya mas loh pak diblog.padahal waktu itu terpajang foto saya πŸ™‚ saya tidak masalah memanggil mas atau mbak walaupun umurnya lebih muda


    Kalau Mbak Lidya kok dipanggil Mas kayaknya agak kebangetan ya Mbak…
    Saya belum pernah ketemu cowok pakai nama Lidya…

    [Reply]

  3. February 11th, 2012 at 14:06 | #3

    Saya mau panggil Pak Mars: Pakdhe, rasanya usia Pak Mars masih sama dengan kakak pertama saya. Lalu mau saya panggil ‘mas’, kok berasa terlalu muda ( πŸ˜€ ). Jadi biar umumnya saja, akhirnya saya panggil ‘Pak’ saja lah :). Saya rasa itu ndak ‘njangkar’ πŸ˜›

    Di kantor saya dipanggil ‘dik’ karna pernah menjadi yang termuda di kantor. Tetapi banyak juga yang memanggil ‘mbak’, tapi ndak ada yang memanggil ‘Bu’. Nah, kalau Bapak/Ibu guru atau mahasiswa yang berkunjung ke kantor justru memanggil saya dengan ‘Ibu’. Ya sudah, saya terima dengan senang hati, daripada dipanggil ‘Bapak’ to? Meski kadang jadi mematut-matut diri di cermin: apa udah pantes dipanggil Ibu to?? Hehehe…. πŸ˜›


    Kalau didunia Maya, saya merasa sreg manggil Mbak untuk yg wanita & Mas untuk yg pria. Itu kalau saya tau gendernya

    [Reply]

  4. Erwin
    February 11th, 2012 at 14:21 | #4

    Pak Mars, kalo didunia maya, saya sering panggil “Sobat…. (nama duniamayanya)”
    daripada tanya2 trs, dan saya sendiri gak ingin terlalu detail tanya pribadi orang lain, hehe…. πŸ˜€

    bahkan ada teman Facebook sudah 2 tahun berteman, saya gak tahu dan gak tanya dia laki2/perempuan, tp hubungan kami baik sampai sekarang. πŸ˜€


    Saya setuju dengan pendapat Sobat Erwin… πŸ˜€
    Tapi kalau bersahabatnya sudah 2 tahun kok sampai gak tau, trus yg diomongin apa?

    [Reply]

    nique Reply:

    nah gini baru seru …
    berhubungan baik tanpa ingin tau gendernya apa
    rupanya seperi apa
    entah hidungnya pesek ato mancung
    entah kulitnya item ato kereng *eh sama ya? hihihi*


    Kalau nama sebenarnya, umur, status atau warna kulit sich kayaknya nggak harus tau. Tapi kalau gender kok menurut saya wajib jelas.
    Ini menurut saya, agar tak terjadi salah2 kata
    Bukan membeda2kan gender atau pilih2 teman. Kalau gendernya aja kita gak tau, trus gimana?
    Lain soal kalau cuma hubungan jual beli atau transaksi. Tapi kalo pertemanan kok minimal harus ada data yg kita tau

    [Reply]

    nique Reply:

    hihihihi
    kira2 gimana klo saya ternyata bukan perempuan melainkan laki2 pak? hihhihi *lupakan sejenak suara yang terdengar ketika menelpon saya hahaha ‘kan sekarang kita sedang berandai2*


    Suaramu persis suarane Mario Teguh Ni…

    [Reply]

    Erwin Reply:

    menjawab:
    kalo kenal didumay, yg diomongin ya seputar dumay pak…
    lha wong ketemu aja belum, saya gak terlalu mempermasalahkan siapa dia, siapa mereka.
    kecuali kalo sudah ketemu. πŸ˜€ lagian saya juga gak suka ngobrol ngalor ngidul yg gak jelas.
    (mungkin jg ini pembawaan sifat saya yg terlalu cuex, gak suka mencampuri urusan orang lain, tp bukan berarti tak peduli terhadap sesama) hehe… πŸ˜€

    pemikiran setiap orang memang beda, pemikiran pak Mars bagus juga. πŸ˜€


    Iya Mbak…
    Memang semua kembali ke kita.
    Untuk saya, meski sedikit harus tau identitas sahabat. Yg paling sederhana pastilah gendernya. Susah bagi saya untuk bersahabat (meski hanya didumay) tanpa tau apa2 pada yg kita ajak bersahabat.

    [Reply]

  5. February 11th, 2012 at 14:27 | #5

    Kebiasaan dalam keluarga dan masyarakat setempat sangat mewarnai cara menyapa dalam pergaulan. Saya sangat menghargai tradisi tersebut, hanya pada kondisi sangat terbatas ‘njangkar’ dilakukan. Salam


    Kalau dengan teman sekolah saat SD sampai SMA saya njangkar saja Mbak, dan memang kayaknya itu adalah yg paling pas.
    Saat pertama kali masuk di keluarga istri, saya sempat merasa janggal karena mertua, bulik & budhenya istri, kalau ke saya pada njangkar. Tapi semua berubah sendiri saat anak pertama lahir, beliau2 memanggil saya dengan Pakne Bernas, karena anak pertama saya adalah Alfin Bernas

    [Reply]

  6. February 11th, 2012 at 14:31 | #6

    saya malah baru tau istilah njangkar pak, hehehe
    Alhamdulillah, sjak kecil juga diajarin sopan santun yg sperti itu, jadi sekarang kalau yang dipanggil namanya langsung itu ya yang sudah akrab dan seumuran. Kalau pun umurnya lebih muda, saya lebih suka manggilnya mas (lk2) ataupun mba (pr).

    Kalau pngalaman salah manggil di dunia blog, baru sekali ngalamin, waktu pertama kali kenalan sama mas (mba) Erwin πŸ˜€ πŸ˜€


    Kalau yg Mbak Erwin saya juga awalnya salah…

    [Reply]

    Erwin Reply:

    heheh… mas Mabruri. πŸ˜€
    sebenarnya saya tak mempermasalahkan, makanya saya jarang konfirm kalo ada yg panggil keliru.

    sebenarnya banyak lo, kita sangka/kita lihat dia perempuan, berjilbab, tp kadang akun itu/blog itu, yg menggunakan suaminya, atau sebaliknya. πŸ˜€


    Malah kadang ada yg pakai foto burung atau binatang lain…
    Tapi saya belum pernah liat ada yg pakai gambar macan kecil πŸ˜€

    [Reply]

    Erwin Reply:

    adanya macan besar pak. πŸ˜€


    Kayaknya macan kecil dech, mlaku2…

    [Reply]

  7. February 11th, 2012 at 14:42 | #7

    Njangkar itu sama dengan njambal. Kalau di jember asing dengan kata Njangkar Pak, lebih mengenal njambal atau ‘nglamak’


    Mungkin itu hanya masalah istilah saja Mas…
    Lha kalau didaerah saya, njambal itu makan lauk tanpa nasi (ada yg menyebutnya dengan nggadho).
    Jadi misalnya makan sate tanpa nasi atau lontong, maka itu yg disebut njambal.

    [Reply]

    masbro Reply:

    Hehehe.. Nusantara memang kaya bahasa nggih Pak. Terlebih bahasa jawa. Dulu saya sering kepikiran bahasa Indonesianya ’eman eman’

    Kata eman eman kalo di Bahasa Indonesiakan biasanya jadi ‘sayang’, kok rasanya ambigu.


    Susah nyari arti yang pas Mas

    [Reply]

  8. advertiyha
    February 11th, 2012 at 14:51 | #8

    karena tradisi ini pula, karena takut njangkar, maka pak Mars panggil saya dengan Mas,, Okey,,, that’s good for me, daripada eyang, hehe.. πŸ˜›

    sip pak, tradisi memang harus tetap dilestarikan, gak rugi ini, hehe…


    Saya ingat saat itu…
    Mbak Iyha protes gara2 saya panggil Mas

    [Reply]

  9. February 11th, 2012 at 14:58 | #9

    pak, saya punya kakak laki-laki. cuma satu. sejak kecil saya selalu manggil dia tanpa embel-embel “mas”. dia juga nggak pernah manggil saya “dik”. pernah sih dulu saya ditegur. tapi dia membela saya, “tidak apa-apa. wong aku juga nggak pernah manggil kamu ‘dik.'” tapi ya sama dia saja saya seperti itu. rasanya sih buat saya, lebih akrab. kalau dengan orang lain, saya tidak berani njangkar hehehe


    Tiap hal pasti ada pengecualiannya Mbak.
    Meski njangkar dan kalau dengan begitu masing2 nyaman, saya pikir nggak apa2.
    Apalagi kalau sudah tradisi seperti dikeluarga istri saya, meski sudah tua kadang2 manggilnya cuma namanya dowang. Tapi mereka asyik2 saja.

    [Reply]

  10. melly
    February 11th, 2012 at 14:59 | #10

    Aku baru tau istilah njangkar ini pak Mars πŸ™‚

    klo njangkar itu terasa lebih akrab…walaupun memang pada situasi tertentu agak gimana


    Yang asli Jawa aja banyak yang nggak kenal istilah itu Mbak…
    Anak saya mungkin termasuk yg nggak tau πŸ˜€

    [Reply]

  11. melly
    February 11th, 2012 at 15:02 | #11

    Oh iya..klo di keluarga sebagai adik, saya gak pernah manggil nama langsung ke org2 yg lebih tua dari saya.. ke adik jg sih..biasanya manggil dengan panggilan aja.. misal ke sepupu. dia lebih muda dr saya..tp biasa di panggil abang oleh adik2nya. sayapun ikut2an manggil bang. πŸ˜€


    Berarti didaerah lain juga ada tradisi sendiri, cuma yg manggil langsung tadi gak pakai istilah “njangkar” ya Mbak

    [Reply]

  12. February 11th, 2012 at 15:32 | #12

    abang ipar saya di panggil long, karena anak sulung kalau yang bungsu di panggil usu dan yang tengah di panggil angah.

    saya suka warna hijau dan dulu link memang berwarna hijau. ketika template di ganti sama suami link juga di ganti jadi biru.


    Apapun itu, kayaknya kalau ditambah embel2 dikit, kesannya lebih menghormati

    [Reply]

  13. applaus
    February 11th, 2012 at 15:33 | #13

    saya baru tahu nih.. istilah itu… padahal sudah tinggal di daerah jogya 3 tahun… wah ada yang miss nih… pantesan kalau di jawa besar kecil ditambahkan mas atau mba… ya ya …i c…


    Meski baru dengar, tapi saya yakin kalau di Jogjanya sudah 3 taun pasti sudah mengikuti dengan sendirinya.

    [Reply]

  14. February 11th, 2012 at 15:37 | #14

    kalau ane sudah jelas kan kang. Laki-laki tulen. Mau panggil pakai embel embel apa di depannya bebas. Bebas tapi sopan. Tul nggak??


    Amat jelas Mas

    [Reply]

  15. February 11th, 2012 at 16:15 | #15

    @biuda : bener gituh kita bangga klo nama kita disebut sama mbahkung..?

    Ngai juga pinginnya siyh njangkar sama mbahkung
    tapi takut kualat tujuh turunan

    #yawdah biar keren sesekali disingkat MM (Mbahkung Mars)


    Okelah kalo begitu

    [Reply]

  16. nh18
    February 11th, 2012 at 17:02 | #16

    Ini masalah menghormati pihak lain …
    dan kalau saya tidak mengenal ybs … karena memakai nama samaran yang diragukan jendernya …
    maka saya akan sebut dua-duanya … Pak/Bu … Sdr/i atau Mas/Mbak

    salam saya Pak Mars


    Itulah Om, kayaknya gender adalah syarat mutlak yg harus kita ketahui jika kita komunikasi dengan orang lain, kecuali dalam situasi tertentu. Ini menurut saya

    [Reply]

  17. February 11th, 2012 at 17:12 | #17

    njangkar? saya orang jawa tapi engga tau istilah ini ya…kelamaan di kota duh duh…
    dipanggil Miss/senorita saja saya mau…


    Tapi kayaknya memanggil dengan tambahan didepan nama juga umum dimana2, khususnya di Indonesia.

    [Reply]

  18. zholieh
    February 11th, 2012 at 17:21 | #18

    Baru tau Pak, kalo ada nama istilahnya. Kalo di Kendal njangkar, gak tau kalo di tempatku. Tapi setauku memang ada kok, terutama ditujukan kepada yang lebih tua atau yang belum dikenal.


    Setiap etika saya pikir pasti ada nilai positifnya Mas
    Dan saya belum menemukan efek negatif dari memanggil yg tidak njangkar

    [Reply]

  19. nique
    February 11th, 2012 at 17:50 | #19

    pada orang Karo pun ada istilah ini, klo tak salah mirip kedengarannya pun, cuma harus dipastikan, mau tanya ke bapa, tapi blom sempat ke sana … mangkar atau malah njangkar? mbuh ah …b esuk saya ke sini lagi memastikan πŸ˜€


    Kalau pakai tradisi Karo, panggilan yg pas buat saya apaan ya Ni?

    [Reply]

    nique Reply:

    enaknya sih dipanggil KILA
    tapi dipanggil Bapak aja deh, sudah telanjur pamer klo ini bapak mayaku kan πŸ˜€


    Iyalah…
    Kalau Kila malah berasa aneh… πŸ˜€

    [Reply]

  20. budiastawa
    February 11th, 2012 at 19:19 | #20

    Kalau di Bali namanya “jadag” Pak Dhe. Iya ya, sulit juga kalau di dunia maya ini banyak yang pake nickname aneh-aneh. Walaupun mereka promosi obat panu, ya mbok dikasih nama dikit lah. Misalnya: Budi – Obat Panu, atau Susi – Jual obat panu πŸ˜€


    Saya tambah kosakata lagi Bli…
    Ternyata njangkar punya padanan “jadag”

    [Reply]

  21. achmad sholeh
    February 11th, 2012 at 21:07 | #21

    saya pernah menyapa mbak karena avatarnya cewek, eeee…..ternyata cowok pak


    Mengecoh ya Mas

    [Reply]

  22. February 11th, 2012 at 21:27 | #22

    Ketika awal datang ke Jogja, saya agak kaget sewaktu mendengar guru anak-anak di sekolah memanggil anak-anak dengan kata Mas atau Mbak. Hal mana saya tidak menemukan kebiasaan itu di kampung saya. Kalau kepada yang lebih kecil dari kita, kami biasa memanggil nama saja, dan itu tidak dianggap tidak sopan.

    Tapi, setelah agak lama tinggal di Jogja, saya sudah sangat terbiasa dengan hal tersebut. Justru agak janggal rasanya kalau tidak memanggil yang lebih muda dengan tambahan kata mas atau mbak, hehe.. πŸ™‚


    Xixixixi…
    Saya bisa memahami bagaimana awal2nya dulu Uda lakukan penyesuaian diri dengan lingkungan Jogja.
    Rak nggih makaten to Mas Vizon?

    [Reply]

  23. February 11th, 2012 at 21:58 | #23

    Tradisi/kebiasaan ini juga berlaku di tempat saya mas, cuma ndak tahu istilahnya.
    Karena sejak sekolah sudah sangat biasa memanggil mas atau mbak.


    Kalau pengin dihormati memang harus menghormati dulu Mas. Dan memanggil orang dengan embel2 adalah bentuk penghormatan

    [Reply]

  24. Lowongan Kerja
    February 11th, 2012 at 22:29 | #24

    Njangkar biasanya lebih sering SEOG – SEOGan Pak De, Karena hanya untuk dipergunakan pada saat terseok – seok hehehe, Nice Article


    Iya bener.
    Kalau untuk nembak keyword SEO sich sah2 saja dan bisa diterima

    [Reply]

  25. Yudan F
    February 11th, 2012 at 23:56 | #25

    Wah, perlu di sosialisasikan kembali ini. Zaman sekarang anak kecil pada “njangkar” manggil orang yang lebih dewasa daripadanya. Nice pak Mars !


    Semoga Mas Yudan nggak seperti kebanyakan anak sekarang, kecuali kepada teman sebaya yg memang sudah akrab.

    [Reply]

  26. February 12th, 2012 at 00:53 | #26

    ckckckckc kocak juga kalau dipanggil obat panu,, masih mending itu dari pada dipanggil mas panu atau mbak panu.. πŸ˜€


    Susah kalau ada respon yg pakai nama kayak gitu Mas.
    Mau menyapa agak sulit

    [Reply]

  27. February 12th, 2012 at 01:20 | #27

    untuk..saat ini kayaknya njangkar..menjadi..barang yang lazim..terutama dikalangan remaja sekarang..masalah..unggah ungguh.. terhadap yang lebih tua.. boleh dikatakan telah hilang..


    Iya Mas, meskipun itu adalah hak mereka, tapi saya kok lebih manteb kalau nggak njangkar

    [Reply]

  28. Evi
    February 12th, 2012 at 07:59 | #28

    Kalau di kampung saya gak ada Njangkar Pak Mars..Mereka yg usianya berada di bawah kita boleh dipanggil nama saja. Namun sejak “njawanisasi” hehehe..orang2 yg merasa terpelajar suka menggunakan “Dik” untuk mereka yg lebih muda dari mereka..


    Apalagi buat saya yg jelas2 Jawa ini Mbak.
    Susah untuk lepas dari tradisi dan kayaknya “kualat” kalau nggak menggunakannya.
    Tentu saja buat yg memang bener2 akrab (itupun dalam jumlah yg amat terbatas), barulah saya njangkar.
    Pada anakpun saya sreg pakai panggilan Nang untuk lelaki dan nDuk untuk perempuan.
    Salam!

    [Reply]

  29. Pemilik Restoran Surabaya
    February 12th, 2012 at 08:42 | #29

    Di Surabaya-Jombang tentu ada istilah njangkar dengan aturan seperti yang panjenengan sebutkan.
    Saya njangkar kepada yg lebih muda secara selektif dan sudah akrab kayak anak sendiri.

    Misalnya : YuniariNukti. Dulu saya panggil mbak Yuni, tapi sekarang, tanpa mengurangi rasa hormat dan sayang sayan lebih gurih jika memanggilnya dengan sebutan YUN, sedangkan kepadanya saya panggil mas.
    Selebihnya saya panggil mas, mbak, nduk, oom, pak, dll.
    Jika dekat dan saya agak repot memilih panggilanya saya sebut “say”. Ada juga yg saya panggil sesuai sekitar profesinya atau khasnya misalnya bu model, bu amalgam, Bening, bu Gigi, bu Dey Parongpong.
    Hingga saat ini saya tetap hati-hati jika memanggil nama Tuti, Rukmini, agar saya tak kebablasan menyebutnya Bu Tut, BU Ruk.

    Ada juga trend pada anak-anak jaman dulu atau sekarang yang mengikuti gaya orang barat, memanggil suami dengan sebut namanya juga. Kami orang Jawa biasanya memanggil suami /isteri dengan sebutan mas, pak, pa. Bapake Eny, Ibune, jeng, ma, mom, mak. Jarang ada yang jangkar dengan menebut MO, Din, Mbang ( kalau suaminya bernama Paimo, Syamsudin atau Bambang, )

    Salam hangat dari Restoran Suroboyo.


    Meski pakai Nama Pemilik Restoran Surabaya, saya tetep apal gaya bahasanya…
    Ini pasti PakDhe…
    Makanya menurut saya Dhe, walaupun secuil, kita harus tau info sahabat. Entah gendernya, entah profesinya atau apalah, meski hanya di dunia maya.
    Tanpa data apapun, kayaknya kok saya nggak bisa. Kita amat mudah lakukan kesalahan nek jika tanpa data sepeserpun.
    Begitukah Dhe?

    [Reply]

    Pengumpul Cerpen Reply:

    Betul sekali rojer


    rojer dicopy

    [Reply]

  30. February 12th, 2012 at 10:52 | #30

    Ini kan untuk orang yang belum akrab ya Pakde, kalau dengan teman kerja yang seuuran saya memanggil namanya langsung, tapi kalau yang lebih tua, komandan, bukan bli komandan πŸ™‚

    Kalau di Bali disebut sebagai “Jadag” sama seperti kata brow budi astawa


    Iya Bli, njangkar hanya dilakukan manakala pada teman sebaya atau teman akrab

    [Reply]

  31. February 12th, 2012 at 14:50 | #31

    Njangkar.. kalau disini itu njambal istilahnya pak.. Kalau saya lihat kedekatan dulu pak, baru saya njangkar.. itupun sudah saya pastikan yang saya njangkari bener-bener umurnya ada dibawah saya..

    Sebenarnya saya agak gimana gitu loh pak Mars kalau manggil njenengan Pak, terkesan formal rasane.. piye kalau saya panggil Om aja.. kayak Om Aldy atau Pakde.. kayak Pakde Cholik.. piye pak.. kalau setuju kasih gedang goreng pak hehehe


    Saya cukup dipanggil Pak saja Mas, sehari2 juga itu panggilan saya.

    [Reply]

  32. February 12th, 2012 at 22:04 | #32

    waduh kalau di luar negeri pada njangkar semua dong pak, wong manggil orang tuanya aja pake namanya doang. Ooo kalo disini wis digaplok pake sandal jepit wes..hehe


    Iya, kalau dikita dianggap kuwalat

    [Reply]

  33. February 13th, 2012 at 09:02 | #33

    Eyang Mars? heheheh…………… boleh kah om Mars di panggil eyang πŸ˜€


    Suka2 yg manggil ajah Mbak
    Asal nggak dipanggil Emak atau Bu…

    [Reply]

  34. Imelda
    February 13th, 2012 at 09:37 | #34

    yang lucu waktu saya masih pakai nama Ikkyu_san, ada yang panggil Bu Ikkyu…padahal Ikkyu_san adalah pendeta Buddha di abad 16 πŸ˜€ (Sejak kapan aku kawin sama pendeta buddha ya?) πŸ˜€


    Kalau nggak salah pendeta itu masih anak2 ya Bu…

    [Reply]

  35. February 14th, 2012 at 11:57 | #35

    “karena cewek atau cowok sama2 punya potensi panuan”
    hahahaha… hahaha… *ngakak* πŸ˜€

    Dulu, pertama kali berkunjung ke rumah mertua (waktu itu masih calon), saya sedikit risih lho Pak dipanggil ‘mbak’ sama beliau. Saya pikir ‘mbak’ itu panggilan untuk yang sedikit lebih tua dari yang manggil. Lah, beliau kan jauh lebih tua dari saya, kok manggil ‘mbak’ ya.. Gitu pikir saya.
    Tapi sekarang udah paham, kalo itu memang tata krama orang Jawa. SEkarang saya malah ikutan seperti itu πŸ™‚

    Btw, saya juga nggak keberatan kok dipanggil nama aja sama Pak Mars πŸ˜€


    Ibuk saya kalau manggil istri saya juga Mbak, dan itu adalah hal yg biasa di keluarga saya.
    Sebaliknya, dulu awal2 saya pacaran dg istri yg sekarang, calon mertua manggil saya hanya nama dowang. Kalau dalam jual beli, saya termasuk rugi

    [Reply]

  36. chocoVanilla
    February 14th, 2012 at 12:30 | #36

    Saya wedok asli lho, Pak πŸ˜€
    Saya ndak keberatan dipanggil nama saja kok πŸ˜€

    (eee, tapi nama saya sapa ya? :mrgreen: )


    Siapa ya?

    [Reply]

  37. February 14th, 2012 at 18:58 | #37

    Sama kayak ‘nranyak’ kah?


    Kalau ntranyak sich ibarat pelanggaran sudah termasuk kategori sedang
    Kalau njangkar masih ringan…

    [Reply]

  38. erja baru
    August 9th, 2012 at 21:50 | #38

    Lucu juga panggilannya njangkar tapi masing – masing punya bahasa ekspresi yang berbeda untuk panggilan masing – masing.


    Iya Mas…

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~