Pengalaman Mengalami

Setiap pengalaman pasti didahului oleh proses mengalami. Semakin banyak mengalami, makin banyak pula pengalaman seseorang. Tetapi banyaknya mengalami saja tak cukup untuk membuat seseorang bisa disebut berpengalaman. Hasilnya bisa beda untuk tiap orang.

Ada orang yang berkali2 mengalami tetapi tak menunjukkan kalau dia berpengalaman, sebaliknya ada yang hanya mengalami beberapa kali tapi cukup untuk membuat dia layak disebut berpengalaman.

Saya termasuk yang sering mengalami tapi tidak serta merta jadi berpengalaman. Ketika musim duren, saya pasti beli dan ganti2 tempat. Tapi belum pernah sekalipun bisa memilih mana duren yang baik. Beli 4 yang enak cuma 2, beli 2 yang kemakan cuma 1 dan kalau beli 1, saya nggak kebagian

Saya tak tau, sesuatu yang hanya dialami sekali dalam seumur hidup itu bisa dikategorikan pengalaman apa tidak. Contohnya disunat, dihukum pancung dll

60 thoughts on “Pengalaman Mengalami

  1. Antara pengalaman dan berpengalaman itu beda menurut saya Pak. Kalau cuma satu kali mengalami, itu bisa disebut punya pengalaman terkait apa yang dialami. Misalnya saya pernah punya pengalaman ditodong oleh preman. Nah, itu layak disebut sebagai sebuah pengalaman. Sebab menurut hemat saya, sebuah pengalaman adalah ketika mengalami sesuatu, apa pun itu dan tidak mesti sering.

    Nah, kalau dihubungkan dengan berpengalaman, syaratnya memang sudah harus beberapa kali mengalami. Namun jika kemudian makna berpengalaman itu kita hubungkan dengan keahlian, kejelian, atau kemampuan, tentu saja akan beda konteks Pak. Maksud saya, tergantung contoh kasusnya. Misalnya saya sering gonta-ganti pacar/pasangan, maka saya bisa dianggap punya pengalaman (mengalami) pacaran atau berpengalaman dalam hal pacaran. Tapi saya belum tentu punya keahlian/kejelian dalam membedakan mana cewek yang masih gadis atau sudah tidak gadis lagi 😆

    Jadi, walaupun saya berpengalaman dalam pacaran atau gonta-ganti pasangan, belum tentu saya berpengalaman pula dalam menilai mana cewek yang masih gadis atau sudah tidak :mrgreen:


    Benar mas Is…
    Pengalaman amat beda dengan berpengalaman.
    Kalau berpengalaman butuh pengakuan umum dan nggak mudah kita ciptakan.
    Kalau cuman merasa berpengalaman sich banyak, padahal kenyataannya hanya sering mengalami.
    Makasih tambahan sharingnya Mas
    Sukses buat mas Is

    [Reply]

  2. Kalau memilih duren, saya bisa menganggap diri berpengalaman, Pak Mars…
    namun kalau ternyata durian pilihan saya kurang bagus, masih bisa ngeles: “Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga”. 😀


    Saya juga punya temen yg pinter milih Mbak, anehnya dia malah gak suka makan duren

    [Reply]

  3. Saya juga mempunyai pengalaman pahit yang mudah2an tak saya alami lagi yaitu : dibujuki orang.
    Semoga yang mbujuki saya diampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat yang pas di sisi Sang Pencipta, sesuai amalnya.

    Salam hangat dari Surabaya


    Kalo soal dibujuki orang, saya juga pernah Dhe, dan kayaknya hampir smua pernah ngalami

    [Reply]

  4. Mengalami latihan memasang latar belakang gambar dengan panduan pak Mars, namun babar blas tidak berpengalaman (lha bolak-balik melihat panduan)


    Justru bolak-balik itulah akan diperoleh pengalaman Mbak 😀

    [Reply]

  5. Saya sependapat dengan artikel ini …
    Malah kadang sesuatu yang dialami berkali-kali tidak mau disebut berpengalaman he he
    Contohnya mengalami rugi berkali-kali … lantas saya akan gak enakan kalo disebut “tuh kasihkan kerjaannya ke Yayat karena pengalaman rugi berkali-kali wkwkwk”.


    Tepatnya, istilah pengalaman memang untuk hal yang positif Mas. Kalo negatif kok dibilang pengalaman kayaknya gak pas.

    [Reply]

  6. Sunat kan memang pengalaman sekali seumur hidup pak, kalo berkali – kali mengalami disunat pengalaman apanya tuh yang bertambah, wkwkwkwk 😀


    Tambah habis Mas

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *