Penomoran

Dalam sebuah tulisan ada kalanya diperlukan penomoran, apalagi kalau itu tulisan ilmiah. Salah satu tujuan dipakainya penomoran adalah agar struktur tulisan menjadi jelas dan mudah dipahami.

Aturan penomoran yang baku dan resmi sich kayaknya nggak ada tapi kalau hanya sekedar rambu2 yang bisa dijadikan pedoman saya pernah dapat teorinya. Yang ini bersifat tidak mengikat, artinya kalaupun dilanggar nggak ada sanksi hukumnya.

Dari beberapa referensi yang saya baca, salah satu rambu2 penomoran yang paling sering dijadikan pedoman adalah sbb:

I. ______________________________

A. ______________________________

1. ______________________________

a. ______________________________

1) ______________________________

a) ______________________________

(1) ______________________________

(a) ______________________________

Maksud dari pola tersebut adalah apabila pada penomoran awal menggunakan I, II, III, IV dst, maka penomoran level berikutnya menggunakan A, B, C dst. Tetapi jika pada nomor awal memakai 1, 2, 3 dst maka nomor level kedua menggunakan a, b, c dst.

Contoh penggunaannya kira2 seperti ini :

Indonesia terbagi dalam tiga wilayah waktu yaitu
I. Waktu Indonesia Bagian Barat
Yang termasuk wilayah ini adalah daerah yang terletak di pulau
A. Jawa
1. Jawa Timur
2. Jawa Tengah
a. Kabupaten Kudus
b. Kotamadya Semarang
c. …
3. …
B. Sumatra
1. Lampung
2. Sumatra Selatan
3. …
C. …

II. Waktu Indonesia Bagian Tengah
Yang termasuk wilayah ini adalah daerah yang terletak di pulau
A. Kalimantan
1. Kalimantan Timur
2. Kalimantan Tengah
a. Kabupaten Kotawaringin Barat
b. Kotamadya Palangka Raya
3. …
B. Sulawesi
1. Sulawesi Selatan
2. Sulawesi Tenggara
3. …

Sekali lagi untuk dimengerti bahwa aturan yang saya tulis ini tidak bersifat mengikat dan tak harus diikuti, apalagi dipolemikkan.

37 thoughts on “Penomoran

  1. kalo saya disuruh bikin postingan seperti ini, bisa 5 jam belom selesai, Pak guru. 🙂

    [Reply]

  2. ordered list akka numberingnya udah bener kok ..sumpe deh pak.. 😀 😀 nyengir kuda, tapi kalau untuk Skripsi tergantung dosen juga.

    kan ga mengikat 😀

    [Reply]

  3. Wew.. selama ini saya ngasal aja loh pak kalo buat urutan kayak gitu..
    gak pernah di ajarin di sekolah sih… 😀
    makasih ilmunya pak.. 😆

    [Reply]

  4. kalau karya ilmiah malah ada
    1.1.1
    1.1.2

    2.1.1
    2.1.2 dst

    bingung-bingung deh hihihi

    EM

    [Reply]

  5. Seperti posting yang di terbitkan oleh pak Erdien 😆 🙂 hehehehe


    Bukan Mas…
    Justru ini seperti komentar saya disana 😀

    [Reply]

    danyfarid5 Reply:

    Owh, ternyata sebaliknya hehehehe, karena saya tahu pak Erdien juga memostingkan tentang penomoran pilihan ganda!!!

    [Reply]

  6. Kalau nulis ilmiah ya tergantung pedoman penulisan yg dipersyaratkan sama publishernya hehehe, biasanya ada template khusus yg disediakan, kita tinggal manut saja

    [Reply]

  7. No Polemik …
    hahaha …

    yang jelas … jika pake turunan-turunan seperti itu …
    sedapat mungkin jangan lebih dari tiga tingkatan

    I, II, III dst … lalu tingkat dua A, B, C dst … lalu tingkat tiga : 1,2, 3 dst … cukup sampai situ … sebab lebih dari itu … pembaca akan lost

    salam saya Pak Mars

    [Reply]

  8. Akan rapi kalau menggunakan cara penyusunan seperti itu, tapi susah kalau dalam jumlah banyak

    [Reply]

  9. saya akan copas info di atas, terus dibagi2in deh ke mahasiswa2 polman yang hampir stiap hari sliweran print revisi dan revisi : D

    matursuwun nggih pak Mars 🙂

    [Reply]

  10. Yang ini kan waktu jamannya kuliah dulu, nah sekarang malah udah lupa mas. Ngga dipake, paling nge-blog yang ngga punya aturan 😆

    [Reply]

  11. saya suka yang beginian..
    edukasi terhadap sesama blogger soal tatanan bahasa Indonesia.
    tidak mengikat memang, tapi yang beginian seperti ini kita harus tahu


    Semoga diterapkan 😀

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *