Pilihan

Kala itu

“Lho Bu, Mas Faiz itu sekolah di SMEA ya. Apa nggak salah pilih ?”

Begitulah pertanyaan para tetangga saat mengetahui kalau anak saya melanjutkan sekolah di SMEA. Nggak cuma tetangga, pertanyaan senada juga datang dari keluarga. Sebagian besar menyayangkan dan malah ada yang setengah menyalahkan

Meski hanya pensiunan guru SD, saya juga seperti orang tua pada umumnya yang kepingin anaknya masuk SMA untuk kemudian kuliah setinggi-tingginya. Uang pensiun saya dan bapaknya masih cukup untuk biaya kuliah. Tapi karena anak sudah mantap dengan pilihannya, tak ada alasan bagi saya untuk tidak mendukung keputusan itu, meskipun melalui diskusi panjang.

Faiz adalah bungsu dari tiga bersaudara. Bapaknya meninggal saat dia kelas 4 SD. Kakak pertamanya lelaki, menetap di Balikpapan dan bekerja di Pertamina sebagai Direktur Pemasaran. Kakak keduanya perempuan, jadi dokter kepresidenan yang tentu saja harus tinggal di Jakarta.


Tiga tahun dari kala itu
Selepas lulus SMEA, dia mengungkapkan niatnya untuk mengelola lahan kosong yang kami miliki. Sertifikatnya akan dipakai untuk ambil pinjaman di Bank. Meskipun bisa, tapi dia tak mau minta bantuan kakak-kakaknya. Dia tak mau membebani saudara. Melihat kemauan kerasnya, sayapun merestuinya lagi, sama seperti ketika dia punya kemauan masuk SMEA.


Dan tujuh tahun kemudian
Si Faiz berhasil mengembangkan usahanya. Di sebidang tanah yang dulunya kosong, kini tumbuh aneka buah seperti nanas, durian, mangga dan pepaya. Disela2nya terbentang kolam pemancingan berisi ikan lele, gurami dan nila. Istrinya buka rumah makan bersebelahan dengan area outbound. Tak kurang dari empat puluh warga sekitar diangkat jadi karyawannya

Saya sangat bersyukur. Andai saja kala itu saya berkata “tidak“, pasti Si Faiz akan menuruti apa yang saya katakan dan bersekolah di SMA, kuliah lalu jadi pegawai. Dan itu maknanya dia akan bertugas ditempat lain. Tapi itu tidak terjadi. Kini dia selalu ada disamping saya, yang mengantar ke Puskesmas saat saya sakit dan membelikan gas LPG ketika saya hendak masak dan gasnya habis.

Meskipun anak saya bekerja di Pertamina, tapi dia tak selalu bisa menyediakan minyak buat saya. Dan meskipun anak saya juga dokter spesialis, tapi diapun tak selalu bisa merawat saya. Yang lebih membanggakan saya, Si Faiz yang hanya tamat SMEA itu berhasil merekrut 40 tetangga sebagai karyawannya, sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh kakak-kakaknya.

Hikmah dari cerita di atas adalah bahwa

  1. rejeki ada yang ngatur, tapi manusia wajib berusaha
  2. masuk SMEA atau SMK itu bukan pilihan yang jelek
  3. masa depan itu misteri yang tak gampang dikalkulasi
  4. sekali tempo kita perlu memerdekakan anak terhadap pilihannya
  5. yakin dengan keputusan yang diambil itu penting
  6. kalau melangkah jangan setengah-setengah
  7. sertifikat itu bisa buat ambil pinjaman di Bank
  8. lahan kosong sebaiknya dibudidayakan
  9. nanas, durian, mangga, lele, gurami dan ikan nila itu bisa menghasilkan uang
  10. bisa selalu dekat dengan orang tua itu harta tak ternilai
  11. jangan bergantung pada orang lain, meski itu saudara sendiri
  12. kemapanan tak hanya ada dikota besar
  13. profesi tak selalu signifikan dengan sukses tidaknya seseorang

Kalau semua jadi artis, lalu siapa yang nonton?. Dan kalau semua jadi dokter, berarti dokter nggak bakalan laku karena masing2 bisa ngobati diri sendiri

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

73 thoughts on “Pilihan

  1. “masa depan itu misteri yang tak gampang dikalkulasi”

    cara meramal masa depan yang paling baik adalah dengan merencanakan dan membuatnya.. 🙂

    [Reply]

  2. hidup pilihan setiap pilihan ada konsekuaensinya sendiri dan pemilih bertanggung jawab pada pilihannya 🙂

    [Reply]

  3. Yang nomor 9 : faktanya nila saya belum menghasilkan uang dan yg terakhir dokter kan nggak bisa operasi dirinya sendiri 😀

    [Reply]

  4. Kalo saya, lebih memilih durian daripada nanas 😀
    *halah*


    Kalau saya gurami saja… 😀

    [Reply]

  5. Benar, kata orang, gak ada yang namanya salah pilih, yang ada cuma kesuksesan yang tertunda. 🙂


    Pilih yang dirasa nyaman saja Mas…

    [Reply]

  6. smea dan smk sekarang sudah bagus, ngga seperti dulu…


    Pemerintah saat ini konsen ke SMK…
    Dana Pendidikan mulai diarahkan kesana

    [Reply]

  7. sebuah pilihan yang didukung orang tua dan dipertanggung jawabkan dengan sebaik2nya,,
    benar2 bisa membiarkan potensi anaknya dan mensupport secukupnya,, menghasilkan dan membngun lapangan kerja baru itu yang sangat2 jempolan Pak..
    benar2 harus belajar banyak sy nya nih Pak…
    #menang,,menang,,menang#


    Makasih dukungannya Mbak… 😀

    [Reply]

  8. kok komeng posting terbarunya ditutup pak..?? jadi ngga bisa komeng tentang sendal jepit nih… 😉


    Waduh, maaf…
    Nggak tau knapa tadi ketutup.
    Sekarang sudah dibuka… 😀

    [Reply]

  9. keren nih postingannya…
    sukses terus mas..
    kunjungan balik donk..


    Iya, segera ke TKP

    [Reply]

  10. Mudahan saya bisa kaya Faiz, aminnnnnnn…

    ini postingan genit yang mana latar tulisan hikmahnya kedip2 gonta-ganti warna… (-_-‘)

    *saya sih sudah maklum kalo om yg satu ini…


    Biar Bu Jurinya terkesan Mas… 😀

    [Reply]

  11. wuiih hikmahnya banyak banget yach….mantaff

    salam kenal, smoga menang


    Salam kenal Mbak…
    Itu hikmahnya maksa Mbak, makanya buanyakkk… 😀

    [Reply]

  12. Selamat ya buat terpilihnya tulisan Anda dalam Kontes Unggulan Cerita Berhikmah 2011, tetap semangat berkarya…

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *