Home > Ekspresi > Rekayasa Genetika, Copy Paste dan Pesugihan

Rekayasa Genetika, Copy Paste dan Pesugihan

November 20th, 2011 Leave a comment Go to comments

Dengan akal yang dimiliki dipadu dengan sentuhan teknologi, manusia bisa melakukan apa yang diinginkannya, tak terkecuali dalam rekayasa genetika pada tanaman. Yang dulunya langka dan susah didapat, kini semua bisa diperoleh dengan cepat.

Jaman saya kecil, untuk mendapatkan kacang tanah isi tiga sangat2 susah. Dalam sekarung tak lebih dari segenggam kacang yang isinya 3 butir. Hal yang sama juga terjadi pada ubi jalar warna ungu yang ditempat saya namanya ketela temu. Dari sekarung paling2 cuma ada 3 s.d 4 buah.

Kemajuan tersebut tentu saja positip, tapi ada sensasi yang hilang. Surprise saat dapat kacang tanah isi 3 atau dapat ubi warna ungu kini tak ada lagi. Jangankan 1 karung, 10 kontainerpun bisa tersedia kacang tanah berbiji 3 sampai 5 butir. Berhektar2 ubi jalarpun bisa ungu semuanya.

Tak hanya surprise yang hilang, tapi kelezatan ubi temu dan gurihnya kacang tanah tempo dulu tak lagi mudah didapat. Rekayasa genetika tak ubahnya seperti copy paste dan pesugihan.
Ketiganya memiliki benang merah, hasilkan sesuatu dalam jumlah banyak secara cepat.

~ Grazie ~
Categories: Ekspresi
  1. afifudin
    November 20th, 2011 at 11:34 | #1

    terima kasih pak Mar, menambah pengetahuan saya…. salam kangen dari saya , angkatan th 2009.

    [Reply]

  2. November 20th, 2011 at 12:49 | #2

    ditempat saya namanya lame kalolo’

    [Reply]

  3. November 20th, 2011 at 13:24 | #3

    sejak tahun 1986, rekayasa genetik yang pernah aku lakukan adalah membuat tanaman baru dari sebagian sel (daun, kulit) sehingga tanaman tersebut memiliki sifat yang sama dengan aslinya (cloning). Dari selembar diiris-iris kecil kemudian dibiakkan dengan media tanam khusus semacam agar2. Dalam waktu 3 bulan muncul tanaman baru dari daun yang dipotong2 itu.
    Tanaman yang telah berhasil diantaranya Jeruk Kingkit, Jeruk Kino, Mangga gedong gincu dan Sawo

    [Reply]

  4. adetruna
    November 20th, 2011 at 13:26 | #4

    manggut2 aja dulu 🙂

    [Reply]

  5. November 20th, 2011 at 13:30 | #5

    Hah …
    ini singkat .. simple … tetapi sangat layak di renungkan …

    Jika prosesnya instan begini … memang rasanya menjadi kurang ada seninya ya Pak Mars

    Salam saya

    [Reply]

  6. Sriyono Smg
    November 20th, 2011 at 13:58 | #6

    pengin cepet ndang sugih pak, ajari… 😀

    [Reply]

  7. November 20th, 2011 at 15:21 | #7

    Tak hanya surprise yang hilang, tapi kelezatan ubi temu dan gurihnya kacang tanah tempo dulu tak lagi mudah didapat. Rekayasa genetika tak ubahnya seperti copy paste dan pesugihan.

    Jadi sensasinya sudah gak ada …. karena sudah hasil rekayasa …..
    Dalam percintaan juga begitu katanya, makanya sampe2 ada lagu Rekayasa Cinta (lho apa hubungannya gaknyambung.com dg kacang dan ubi warna ungu) heeee …

    [Reply]

  8. November 20th, 2011 at 16:41 | #8

    iya pakde, semua sudah bercampur dengan zat kimiawi dan tidak selezat dulu rasanya

    [Reply]

  9. November 20th, 2011 at 16:46 | #9

    Semoga mendatang, dapat ditemukan kacang yg isinya 10+, biar nggak capek kalau mau makan 😀

    [Reply]

  10. Imelda
    November 20th, 2011 at 19:30 | #10

    ubi jalar warna ungu itu ubi yang tumbuh di Okinawa tuh… dan terkenal di seluruh jepang

    [Reply]

  11. November 20th, 2011 at 23:13 | #11

    Sudah ada produk olahan dari ubi ungu ini dengan rasa yang enak.

    [Reply]

  12. November 21st, 2011 at 01:56 | #12

    Waktu kecil, ketela warna apa aja rasanya enak pak, soalnya hasil nyolong,.. sekarang beli, jd ga enak. Ada sensasi yg hilang juga…,wkwk :p

    [Reply]

  13. Diah
    November 21st, 2011 at 13:24 | #13

    dari baca dan lihat gambarnya jadi kepingin Tela Cilembu kang..sangat menggiurkan 😀

    [Reply]

  14. November 21st, 2011 at 15:30 | #14

    Jaman menginginkan serba cepat pak

    [Reply]

  15. Dony
    November 21st, 2011 at 16:32 | #15

    info bagus gan…sippp…n salam kenal..

    [Reply]

  16. Ejawantah’s Blog
    November 21st, 2011 at 17:48 | #16

    He…..x99

    Senang dengan membaca judul postingannya pak Mars.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    [Reply]

  17. bangauputih
    November 21st, 2011 at 18:45 | #17

    di sini masih sering dapat ubi yang unyu-unyu dan rasanya masih enak seperti waktu saya kecil dulu. mungkin itu hasil yang belum tersentuh rekayasa genetik 🙂
    nice sharing pak 🙂

    [Reply]

  18. November 21st, 2011 at 19:31 | #18

    telo temu rasane cen luwih uenak…
    nek wes akeh, jenenge dudu telo temu maneh, ra asik! 🙂

    [Reply]

  19. ekoph
    November 22nd, 2011 at 07:39 | #19

    Wahahaha… pesugihan dan copy paste kayaknya emang gak berasa ya..

    [Reply]

  20. November 22nd, 2011 at 09:06 | #20

    jadinya tidak orisinil…

    [Reply]

  21. Jelly Gamat
    November 22nd, 2011 at 09:21 | #21

    betul sekali…..jadi tak orsinil

    [Reply]

  22. November 22nd, 2011 at 13:16 | #22

    Begitulah jaman ini berputar, Pak. Setelah ini mungkin yang jadi surprise adalah menemukan kacang tanah bercabang, hehehe…

    [Reply]

  23. November 23rd, 2011 at 07:02 | #23

    Kacang isi 3 itulah waktu ploncoan harus dicari ya mas.
    Salam hangat dari Surabaya

    [Reply]

  24. November 23rd, 2011 at 09:02 | #24

    Semoga ada yang tersindir ya, Pakdhe.. 🙂

    [Reply]

  25. Kaget
    November 23rd, 2011 at 13:31 | #25

    Apa rasanya ya, Pakdhe. Apa mungkin tahun2 kedepan bentuk dan namanya bukan ketela lagi?

    [Reply]

  26. boyin
    November 24th, 2011 at 08:53 | #26

    orangnya makin banyak jadi produksi makanan juga kudu lebih di cepetin yo pak guru…?

    [Reply]

  27. julie
    November 24th, 2011 at 11:18 | #27

    pakdhe om, kalo di tempat saya ketela yg ungu itu namanya ketela rambat

    [Reply]

  28. November 26th, 2011 at 00:44 | #28

    Hmm… apakah penelitiannya perlu dilanjutkan? untuk mencari rasa yang sama dengan ubi atau kacang tempo dulu? 😀

    [Reply]

  29. pututik
    November 26th, 2011 at 01:25 | #29

    kalo ditempat saya namanya “telo gadjah modo” ungu manis wenak wareg, tambah teh ginastel. gak kaget nggak papa pakde, asalkan rekayasa itu tidak mengundang penyakit baru 🙂 ngalap berkah

    [Reply]

  30. anny
    November 26th, 2011 at 12:24 | #30

    Hasil rekayasa genetika itu tak membuat kualitas uni dan kacang sama kualitasnya 🙁
    Dan katanya Ubi ungu itu berkhasiat untuk penyembuhan kanker, selain rasanya yang manis pulen 🙂

    [Reply]

  31. anny
    November 26th, 2011 at 12:25 | #31

    Aihhh saya lupa, mau ucapin Selamat hari Guru ya, pak Guru Rusdi, moga sehat dan terus mencetak generasi yg cerdas dan beriman.

    [Reply]

  32. November 26th, 2011 at 13:19 | #32

    Nice Blog Pak.

    Tetap semangat, salam dari jakarta

    [Reply]

  33. yuniarinukti
    November 26th, 2011 at 13:52 | #33

    Iya Pak, saya juga kangen makan telo yang legit itu. sekarang makan telo sama pohong gak gak senikmat dulu..

    [Reply]

  34. November 27th, 2011 at 21:27 | #34

    namanya juga perkembangan jaman pak.
    heheheh

    [Reply]

  35. December 5th, 2011 at 17:30 | #35

    jika teknologi tidak bisa membantu kerja manusia, lebih baik kita tidak pakai. 🙂

    manfaat dan nggak manfaatnya teknologi juga relatif tergantung manusia lihat dari sisi mana.

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~