Rekayasa Genetika, Copy Paste dan Pesugihan

Dengan akal yang dimiliki dipadu dengan sentuhan teknologi, manusia bisa melakukan apa yang diinginkannya, tak terkecuali dalam rekayasa genetika pada tanaman. Yang dulunya langka dan susah didapat, kini semua bisa diperoleh dengan cepat.

Jaman saya kecil, untuk mendapatkan kacang tanah isi tiga sangat2 susah. Dalam sekarung tak lebih dari segenggam kacang yang isinya 3 butir. Hal yang sama juga terjadi pada ubi jalar warna ungu yang ditempat saya namanya ketela temu. Dari sekarung paling2 cuma ada 3 s.d 4 buah.

Kemajuan tersebut tentu saja positip, tapi ada sensasi yang hilang. Surprise saat dapat kacang tanah isi 3 atau dapat ubi warna ungu kini tak ada lagi. Jangankan 1 karung, 10 kontainerpun bisa tersedia kacang tanah berbiji 3 sampai 5 butir. Berhektar2 ubi jalarpun bisa ungu semuanya.

Tak hanya surprise yang hilang, tapi kelezatan ubi temu dan gurihnya kacang tanah tempo dulu tak lagi mudah didapat. Rekayasa genetika tak ubahnya seperti copy paste dan pesugihan.
Ketiganya memiliki benang merah, hasilkan sesuatu dalam jumlah banyak secara cepat.

35 thoughts on “Rekayasa Genetika, Copy Paste dan Pesugihan

  1. terima kasih pak Mar, menambah pengetahuan saya…. salam kangen dari saya , angkatan th 2009.

    [Reply]

  2. sejak tahun 1986, rekayasa genetik yang pernah aku lakukan adalah membuat tanaman baru dari sebagian sel (daun, kulit) sehingga tanaman tersebut memiliki sifat yang sama dengan aslinya (cloning). Dari selembar diiris-iris kecil kemudian dibiakkan dengan media tanam khusus semacam agar2. Dalam waktu 3 bulan muncul tanaman baru dari daun yang dipotong2 itu.
    Tanaman yang telah berhasil diantaranya Jeruk Kingkit, Jeruk Kino, Mangga gedong gincu dan Sawo

    [Reply]

  3. Hah …
    ini singkat .. simple … tetapi sangat layak di renungkan …

    Jika prosesnya instan begini … memang rasanya menjadi kurang ada seninya ya Pak Mars

    Salam saya

    [Reply]

  4. Tak hanya surprise yang hilang, tapi kelezatan ubi temu dan gurihnya kacang tanah tempo dulu tak lagi mudah didapat. Rekayasa genetika tak ubahnya seperti copy paste dan pesugihan.

    Jadi sensasinya sudah gak ada …. karena sudah hasil rekayasa …..
    Dalam percintaan juga begitu katanya, makanya sampe2 ada lagu Rekayasa Cinta (lho apa hubungannya gaknyambung.com dg kacang dan ubi warna ungu) heeee …

    [Reply]

  5. ubi jalar warna ungu itu ubi yang tumbuh di Okinawa tuh… dan terkenal di seluruh jepang

    [Reply]

  6. Waktu kecil, ketela warna apa aja rasanya enak pak, soalnya hasil nyolong,.. sekarang beli, jd ga enak. Ada sensasi yg hilang juga…,wkwk :p

    [Reply]

  7. He…..x99

    Senang dengan membaca judul postingannya pak Mars.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    [Reply]

  8. di sini masih sering dapat ubi yang unyu-unyu dan rasanya masih enak seperti waktu saya kecil dulu. mungkin itu hasil yang belum tersentuh rekayasa genetik 🙂
    nice sharing pak 🙂

    [Reply]

  9. Apa rasanya ya, Pakdhe. Apa mungkin tahun2 kedepan bentuk dan namanya bukan ketela lagi?

    [Reply]

  10. kalo ditempat saya namanya “telo gadjah modo” ungu manis wenak wareg, tambah teh ginastel. gak kaget nggak papa pakde, asalkan rekayasa itu tidak mengundang penyakit baru 🙂 ngalap berkah

    [Reply]

  11. Hasil rekayasa genetika itu tak membuat kualitas uni dan kacang sama kualitasnya 🙁
    Dan katanya Ubi ungu itu berkhasiat untuk penyembuhan kanker, selain rasanya yang manis pulen 🙂

    [Reply]

  12. Aihhh saya lupa, mau ucapin Selamat hari Guru ya, pak Guru Rusdi, moga sehat dan terus mencetak generasi yg cerdas dan beriman.

    [Reply]

  13. Iya Pak, saya juga kangen makan telo yang legit itu. sekarang makan telo sama pohong gak gak senikmat dulu..

    [Reply]

  14. jika teknologi tidak bisa membantu kerja manusia, lebih baik kita tidak pakai. 🙂

    manfaat dan nggak manfaatnya teknologi juga relatif tergantung manusia lihat dari sisi mana.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *