Home > Jawa, Realita > Salah Kaprah

Salah Kaprah

January 18th, 2011 Leave a comment Go to comments

Ada beberapa kata yang sering dipahami salah oleh sebagian pemakainya, tak terkecuali saya juga. Tapi karena begitu banyak yang melakukan itu, maka akhirnya nggak ada yang mempermasalahkan dan dimaklumi atau dianggap benar.

Salah satu contoh kata yang disalahkaprahkan misalnya obsesi. Sebagian kita mengira bahwa obsesi adalah cita2 atau kemauan yang kuat. Padahal obsesi merupakan gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menghantui atau sangat sukar dihilangkan.

Obsesi adalah sebuah sindrom yang diderita seseorang atas suatu cita-cita atau kehendak, yang harus diwujudkan dalam satu tekad yang paling kuat. Jika obsesi ini belum tercapai, biasanya seseorang akan selalu gelisah, resah, bahkan dalam tahap tertentu akan menjadi paranoid.

Contoh kesalahan lain terjadi pada kata akut dan kronis. Orang sering mengira akut dan kronis punya arti yang sama dan dipakai untuk menggambarkan sakit yang sudah amat parah. Padahal kedua istilah tersebut sangat berbeda bahkan bertolak belakang.

Akut dan kronis tidak berhubungan dengan berat ringannya suatu penyakit tapi berkaitan dengan rentang waktu. Entah berat atau ringan kalau sakitnya kurang dari 6 mingguan maka disebut akut sedangkan kalau lebih dari 6 minggu disebut kronis.

Tapi mau bagaimana lagi, sebagian masyarakat sudah terlanjur keliru dan tingkat salah kaprahnya sudah menyebar, menjalar dan melebar. Sudah kronis… πŸ˜€

Lihat juga makna kata canggih [cang.gih] berikut ini…

  1. banyak cakap; bawel; cerewet;
  2. suka mengganggu (ribut);
  3. tidak dl keadaan yg wajar, murni, atau asli;
  4. Tek kehilangan kesederhanaan yg asli (spt sangat rumit, ruwet, atau terkembang): teknik elektronika yg –;
  5. banyak mengetahui atau berpengalaman (dl hal-hal duniawi);
  6. bergaya intelektual
~ Grazie ~
Categories: Jawa, Realita
  1. Oyen udah kurus
    January 18th, 2011 at 16:37 | #1

    Oyen lagi buron, jangan dicari πŸ˜›


    Bu Ron?
    Salam wae nggo Mas Ron… πŸ˜€

    [Reply]

    Oyen udah kurus Reply:

    Roni Sianturi opo Wyne Roni? πŸ˜›


    Wedang Roni

    [Reply]

  2. January 18th, 2011 at 17:07 | #2

    Sama seperti kata anarki ya Pak. Di dunia jurnalis kata ini mengandung arti kekerasan. Dan masyarakat juga banyak yang berpendapat sama.


    Iya Mas…

    [Reply]

  3. arkasala
    January 18th, 2011 at 18:24 | #3

    Fatal error berarti saya selama ini …. Dan mungkin masih banyak lagi. …
    Trims pak atas penglurusannya.


    Saya juga sama Mas…

    [Reply]

  4. January 18th, 2011 at 18:25 | #4

    Salah kaprah yang sudah menjadi biasa, Pak. Alangkah menakutkannya seandainya ketiga kata tersebut di rangkai: Obsesi yang akut dan kronis.. πŸ˜€
    Nuwun


    Salah Tiga…

    [Reply]

  5. widodo
    January 18th, 2011 at 18:30 | #5

    wah..seng iki artikele serius,tak coba dengan tambahan yang sedikit serius juga..

    jangankan saya pak de yang baru 4 bulan ngeblog,pakar bisnis online saja masih membuat kesalahan kata yang salah kaprah dengan penulisan,kalimat ini saya cuplik dari artikel pakar bisnis online,…

    Sebenarnya saya sanksi terhadap mayoritas pebisnis yang
    mengesampingkan hal-hal yang bersifat spiritual dalam hal marketing

    *perhatikan kata yg di cetak tebal..

    saya kira maksud sang penulis adalah “sangsi” yang kurang lebih artinya ragu-ragu,karena kalau “sanksi”seperti yang tertulis di kalimat itu artinya kurang lebih “hukuman” yang merupakan kata kerja…

    memang secara artikulasi,result yg keluar dari cangkem sama antara kalimat “sanksi” dengan “sangsi”

    tapi akan menjadi salah kaprah semua artinya karena kesalahan kata yg salah kaprah antara “sanksi” & “sangsi”…

    dan kalimat lengkap dari cuplikan di atas adalah :

    “Sebenarnya saya sanksi terhadap mayoritas pebisnis yang
    mengesampingkan hal-hal yang bersifat spiritual dalam hal marketing.
    Bagaimanapun juga, marketing tidak akan pernah jalan lancar jika bukan
    manusia yang melakukannya secara sungguh-sungguh dan disertai dengan
    nilai-nilai agama. Lalu bagaimana dengan jiwa atau spiritual si marketer atau
    pebisnis tersebut?”

    jika ini adalah kalimat motivasi,apakah artinya sang motivator meragukan keberhasilan seseorang yg melakukan bisnis online jika tak mengerjakan dengan sungguh-sungguh,atau sang motivator ingin memberi hukuman/menghukum seseorang yg melakukan bisnis online jika tak mengerjakan dengan sungguh-sungguh?


    Xixixi…
    Penggemare SLANK ngemut SLANG
    BANG Toyib pegawai BANK
    BLOG Non BLOCK…
    Sopir Honda JAZZ nganggo JAS πŸ˜€

    [Reply]

    widodo Reply:

    ha…ha..ha..ha..
    wong loro,loro kabeh…ha..ha…


    Nek Apel nggowo Apel…

    [Reply]

  6. January 18th, 2011 at 19:05 | #6

    wah tambahannya bermanfaat pak.. artikelnya jgua bagus ini.. salam kenal ya mas…


    Makasih juga Mas…

    [Reply]

  7. budiarnaya
    January 18th, 2011 at 19:51 | #7

    Ikut menikmati pelajaran indahnya pakde….sambil manggut-manggut, walau ngak ada musik dangdutnya


    nanti kapan2 saya pasang dangdut lagi Bli…

    [Reply]

  8. January 18th, 2011 at 20:13 | #8

    Tapi salah kaprah itu enak, lho. Paling tidak dari pada salah naik kereta.


    Opomenh nek kereta mayat

    [Reply]

  9. riFFrizz
    January 18th, 2011 at 20:16 | #9

    contohnya ngulek sambel, nggodhog wedhan, dll


    Iki salah kaprah Jowo… πŸ˜€

    [Reply]

  10. January 18th, 2011 at 20:29 | #10

    tingkat salah kaprahnya sudah menyebar, menjalar dan melebar. Sudah kronis…

    Sudah kronis ???
    Waaahhh Berarti sudah lebih dari Enam Minggu ya Pak Mars …

    Hahahaha ….

    Salam saya


    Sudah menahun Om…

    [Reply]

  11. lozz akbar
    January 18th, 2011 at 22:21 | #11

    waduh aku jadi isin sekarang loh Pak kalau pake istilah itu… hehehe


    Apalagi kalau pakai istilah “canggih”…

    [Reply]

  12. Isaku Kondo
    January 18th, 2011 at 22:42 | #12

    klo menurut pak jaya suprana, ilmu salah kaparah semacam itu disebut dengan kelirumologi


    Iya Bener…
    Jaya Suprana menggunakan istilah Kelirumologi… πŸ˜€

    [Reply]

  13. arikaka
    January 19th, 2011 at 07:02 | #13

    Arti sebenernya bisa bener bener berubah dan berganti…


    Iya mas…
    Masih banyak lainnya…

    [Reply]

  14. January 19th, 2011 at 07:27 | #14

    Kata trauma juga sering salah arti. Dan yg paling top salah kaprahnya kata daripada…


    Iya Mbak…
    Banyak sekali ternyata…
    Kalau “daripada” itu kan warisannya Pak Harto πŸ˜€

    [Reply]

  15. Bang Iwan
    January 19th, 2011 at 08:17 | #15

    Ternyata saya sudah kronis salah kaprahnya nih pakMars…. soalnya baru tahu sekarang.
    Makasih banyak.


    Sama Bang…
    Saya juga gitu

    [Reply]

  16. Bang Iwan
    January 19th, 2011 at 08:20 | #16

    makanya sampai sekarang saya belum berminat belajar bahasa Asing, karena bahasa sendiri masih sering salah kaprah.


    Inggris saya juga jeblog… πŸ˜€

    [Reply]

  17. January 19th, 2011 at 09:01 | #17

    sama seperti halnya kata ‘canggih’ ya…


    Weh…
    Iya Mas…
    Setelah saya cek, ternyata pengertian canggih cenderung negatif…

    [Reply]

  18. jelly gamat
    January 19th, 2011 at 09:30 | #18

    bener juga tuh gan salah kaprah ni,,
    kalo sudah begini jadi susah ngerobah nya yagan
    terima kasih buat infonya


    Mungkin kamusnya yang harus diubah Mas…

    [Reply]

  19. boyin
    January 19th, 2011 at 09:48 | #19

    tak kira akut tuh kalo ampir semaput, ternyata lebih parah kronis toh, kalo gitu lebih enak brownies dibanding kronis yah..heee…piss pak guru…


    Bronis…
    Pesen Broniesnya Mas… πŸ˜€

    [Reply]

  20. mrpall
    January 19th, 2011 at 10:21 | #20

    salah kaprah emang sudah dr dulu keknya…..


    Sudah menahun Mas…

    [Reply]

  21. Sang Nanang
    January 19th, 2011 at 11:21 | #21

    yo konteks epistemologi dan praksis penggunaan memang seringkali bergeser……tapi asal secara komunikasi ada kesepakatan dan kesepahaman yo nggak begitu masalah, mestinya


    Akhirnya memang harus begitu mas…
    Ngikuti hukum pasar aja… πŸ˜€

    [Reply]

  22. pakeko
    January 19th, 2011 at 11:35 | #22

    Kalau menurut kbbi, arti kata kronis dan akut sudah tepat penggunaannya, Pak.


    Tepat gimana Pak?
    Kalau KBBI kan seperti ini…

    akut
    (1) timbul secara mendadak dan cepat memburuk (tt penyakit);
    (2) memerlukan pemecahan segera; mendesak (tt keadaan atau hal); gawat: penyediaan air bersih menjadi masalah yg –;
    (3) kurang dr 90o (tt sudut): sudut —

    kro.nis
    (1) terus-menerus berlangsung; tahan dl waktu yg lama (tt keadaan);
    (2) berjangkit terus dl waktu yg lama; menahun (tt penyakit yg melanda diri seseorang) yg tidak sembuh-sembuh

    Jadi akut dan kronis itu bicara tentang rentang waktu Pak, bukan tentang berat atau ringan.
    Kalau KBBI ya jelas betul.
    Yang salah kan yang makai…

    [Reply]

    widodo Reply:

    πŸ˜€

    [Reply]

  23. January 19th, 2011 at 11:50 | #23

    Melongo…..

    apa obsesimu kedepan..????

    tuh orang nanya.. apakah ada setan yang mengganggu pikiranmu??

    heheeheh

    Gawatttttttttt:D


    Komentarnya CANGGIH Mbak… πŸ˜€

    [Reply]

  24. January 19th, 2011 at 12:35 | #24

    kayaknya penyakit semangat ngebLogku dah masuk akut, jadi mempertimbangkan ikutan bundo…


    Akan bunuh diri pelan2?

    [Reply]

  25. January 19th, 2011 at 13:33 | #25

    wahh, kacau donk bahasa ya,


    Nggak tau harus dibenahi dari mana…
    Mungkin kamusnya yg musti direvisi…

    [Reply]

  26. January 19th, 2011 at 13:43 | #26

    kalau aku obsesinya mau pinter html, tapi akut dan kronis gapteknya, jadi ya gak canggih2…………… πŸ˜›
    salam


    Weh…
    Bunda sudah canggih dalam bermain kata…

    [Reply]

  27. Daun
    January 19th, 2011 at 13:58 | #27

    Ya itulah bangsa kita Pak, mau bagaimana lagi mungkin bukan hanya kata yg bapak sebutkan saja dan sepertinya masih banyak lagi kata yg disalah artikan dan karena kebiasaan jadi sepertinya sudah menjadi hal yg wajar dan tidak salah menurut mereka.

    Salam


    Atau kamusnya yg harus diubah ya?

    [Reply]

  28. January 19th, 2011 at 14:09 | #28

    bersikap wajar dan apa adanya,,membuat kita mensyukuri semua ya pakk…
    semoga tak ada obsesi yg menyebabkan kita terlena kehidupan fana ini…


    Iya Mbak…
    Semoga begitu

    [Reply]

  29. January 19th, 2011 at 15:14 | #29

    waduh…thanks infonya om…om memang canggih… πŸ˜‰ *ambigu deh lu!


    Sama2 Mas…

    [Reply]

  30. advertiyha
    January 19th, 2011 at 15:24 | #30

    kehamilan saya sudah lebih dari 6 minggu pak, jadi apa ini sudah termasuk hamil kronis?? hahaha… πŸ˜›


    Kalau sesuai KBBI kayaknya begitu Mbak…
    Saya juga manusia kronis… πŸ˜€

    [Reply]

  31. kang ian dot com
    January 20th, 2011 at 00:11 | #31

    ahaha kayanya saya juga terlalu berobsesi sehingga saya jadi akut dan kronis πŸ˜€ ilmu baru ni pakde..


    Iya Mas…
    Saya coba nulis yg serius sedikit…

    [Reply]

  32. R. Indra Kusuma
    January 20th, 2011 at 01:29 | #32

    Ternyata banyak diantara kita selama ini terjebak dalam penggunaan bahasa ya pak.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi permasalahan yang besar,

    Salam

    “Ejawantah’s Blog”


    Termasuk saya juga sering salah Pak… πŸ˜€

    [Reply]

  33. Kakaakin
    January 20th, 2011 at 06:44 | #33

    Sering banget dengar omongan orang tentang akut/kronis. Kalo dijelasin juga ribet, hehe… πŸ˜€


    Biar saya yang njelaskan saja Mbak…

    [Reply]

  34. pendarbintang
    January 20th, 2011 at 07:34 | #34

    Saya tidak tahu sudah benar atau belum PakDhe Om..tapi saya emang sering terobsesi terhadap sesuatu, sehingga sering gelisah jika tidak mendapatkannya cuma untungnya sering ada yang mengingatkan…

    Apa sih sesuatu itu? Baju yang ada di Butik A itu lho..demi mendapatkannya saya rela menabung, menanyakan keberadaannya, begitu uang terkumpul baju udah laku, sampai rumah g bisa tidur…(ini nyata. heheheheh) Untung ada yang menyadarkan….sekali lagi i ni hanya contoh kecil yang sungguh terlalau! :mrgreen:


    Semoga nggak muncul obsesi lagi…
    Capek!! πŸ˜€

    [Reply]

  35. chocoVanilla
    January 20th, 2011 at 15:54 | #35

    Kalo gitu saya tergolong canggih, Pak… (tapi katagori sing nomer siji tok πŸ˜€ )


    Xixixi…
    Enggaklah Mbak…

    [Reply]

  36. January 20th, 2011 at 17:06 | #36

    ngethok gedang,padahal sing diketok wite


    Nyumet mercon…
    Padahal sing disumet sumbune

    [Reply]

  37. TuSuda
    January 20th, 2011 at 17:53 | #37

    ahh…susah susah mudah memilah istilah yg sudah salah kaprah… πŸ™‚


    Iya Bli…
    Biar jalan sendiri ajah…
    Sudah ada yang ngurusi
    Yang penting kita nggak ikut memperparah aja

    [Reply]

  38. January 21st, 2011 at 06:56 | #38

    Benar mas, kita kadang2 ikut-ikutan orang besar menggunakan istilah yang diadopsi dari bahasa asing.
    Dulu jaman ikut-ikutan Orari, ada yang mengatakan ” oke pak, sudah di komprom, roger”
    Dikomprom itu apa tho ya, padahal asal katanya adalah confirm.
    Ada juga ” daftar listnya sudah saya kirim pak “. Sudah ada kata daftar kok pake list lagi.

    Salam hangat dari Surabaya


    PakDhe pernah ikut Orari juga ya…

    [Reply]

  39. January 21st, 2011 at 09:18 | #39

    kalo saya komeng di sini termasuk obsesi ga pak?


    Boleh!

    [Reply]

  40. March 5th, 2011 at 19:37 | #40

    bukanya itu krn beda bhs alias bahasa serapan… klo maknanya lain itu mkn saja… biasanya yg salah kaprah malah jd lumrah yg penting nyambung, kita juga ga tau knapa musti pake kata kamu, aku kok ga pake kata2 yg laen πŸ˜€ siapa ya pencipta kata2 itu??


    Ya mungkin begitu Mas…
    Toch salah kaprah kalau orang2 pada paham nggak akan jadi masalah

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~