Home > Realita > Sega Kuning dan Sega Kucing

Sega Kuning dan Sega Kucing

September 2nd, 2013 Leave a comment Go to comments

Namanya cuma beda satu huruf, tapi nasibnya sungguh sangat bertolak belakang. Yg satu pakai “N” satunya pakai “C”. Yang satu tergolong makanan elit dan satunya adalah makanan pinggiran jalan. Itulah Sega Kuning dan Sega Kucing alias Nasi Kuning dan Nasi Kucing.

Dalam acara penting seperti peresmian gedung, syukuran atau peringatan ulang tahun, nasi kuning selalunya menjadi pelengkap yang tak pernah ketinggalan. Sangat beda dengan nasi kucing, adanya cuma di warung tenda pinggiran jalan.

nasi-kuning

kiri = nasi kuning – kanan = nasi kucing

Ngomong2 tentang nasi kucing, saya pernah punya pengalaman yang menggelikan. Di kota saya, nasi kucing diberi kode pada bungkusnya. Ada kode Tp, Tb, Bd, Kr dan O2. Lambang apakah gerangan itu?
Tp = Tempe Penyet; Tb = Terong Balado; Bd = Bandeng; O2 = Oseng-oseng.

Karena tidak ada standarisasi, maka kode tersebut bisa mengecoh konsumennya (tak terkecuali saya). Di warung dekat rumah, Kr adalah nasi kucing lauknya kering dan ini adalah favorit saya. Tapi ketika saya beli di warung lain, ternyata Kr adalah kerang

Untung saja istri saya doyan. Nasi kucing itu hampir saja nggak kemakan karena saya nggak doyan kerang

~ Grazie ~
Categories: Realita
  1. September 2nd, 2013 at 15:37 | #1

    padahal kerang enak lho..

    jadi pengen makan nasi kuning.

    Saya nggak suka kerang karena baunya agak gimana 😀

    [Reply]

    Jelajah Jepara Reply:

    PakMars pasti tak suka kima atau si kerang asin.
    Kerang itu bukan hanya baunya yang mengganggu, pasirnya itu loh. Aaarrggghh….

    Pernah dengar nama kerang itu Mbak…
    Tapi apapun kerangnya, saya pasti nggak suka

    [Reply]

    susindra Reply:

    Oh iya, pak saya lupa mengomentari tentang bau ini. Saya mengenal ada 2 jenis kerang. Kerang lumpur dan kerang pasir. Kebetulan tipe pantai di Jepara memang termasuk lengkap. Di daerah selatan Jepara, karakteristik lautnya berlumpur. Kerang tumbuh sangat subur. Kerang jenis ini sangat melimpah di sini. Kerangnya lebih lembut, lunak, tetapi ada baunya khas. Terkadang saya merasa pusing jika terlalu banyak makan kerang ini.
    Di daerah barat dan utara Jepara, karakteristik lautnya berpasir. Kerang pasir juga cukup banyak. Ada beberapa kali saya menemukan fenomena berton-ton kerang pasir tiba-tiba ada di pantai sekitar rumah saya. Saat itu saya bisa ikut panen berember-ember kerang. Merebus kerang, memisahkan dari kulitnya, dan baru sadar jika saya tak suka kerang pasir!! Tak peduli berapa kali saya meremas si kerang, selalu saja ada pasir yang termakan. Kebalikan dari si kerang lumpur, kerang pasir ini lebih alot.
    Komentarnya kepanjangan… hahaha… akan saya buat posting di blog baru saya saja yang http://jelajahjepara.blogspot.com/

    Sebagai orang yang dulunya sering ke Jepara, saya jadi kangen pantai Jepara…
    Makasih kerangnya 😀

    [Reply]

  2. September 2nd, 2013 at 15:55 | #2

    paling sering makan nasi kucing ya pas jaman kuliah…bisa sampai 5 bungkus hahaha

    Kalau saya masih sering beli sampai sekarang…

    [Reply]

  3. September 2nd, 2013 at 16:28 | #3

    jadi inget pas kuliah pak Mars, masa perjuangan

    di kala yg lain bisa makan nasi seharga 4rb per bungkus, saya dan teman2 asrama selalu beli nasi kucing seribuan (tahun 2008-2009), nasinya cuman sekepel dan lauknya oseng2 kacang panjang sama tempe

    meskipun begitu, nasi kucing jadi penyatu kami semua penghuni asrama unej di Jalan Panjaitan 😀

    Nasi Kucing itu enak sekali, apalagi kalau makannya pas malam2, habis ngetik tugas kuliah di rental, perut lapar…

    [Reply]

  4. September 2nd, 2013 at 16:47 | #4

    Hahaha.. mbayangin pak Mars kecele nggak jadi makan sega kucingnya.

    Hahahaha
    Iya Bu.
    Tiwas beli banyak, ternyata semua kerang

    [Reply]

  5. September 2nd, 2013 at 16:50 | #5

    belum pernah nyobain nasi kucing pak
    tapi di sini ada nasi uduk yg dibungkusnya juga cuma sekepal, itu sambelnya mantep betul, dan gorengannya garing, sy biasanya ambil 2 atau 3 bungkus he..he..

    Nasi kucing adanya cuma dipinggir2 jalan dan biasanya pakai penerangan lampu minyak Bu…
    Kalau saya masih sering beli, nasi kucing + Susu Jahe

    [Reply]

  6. September 2nd, 2013 at 18:47 | #6

    mbahKung, makasi ya.. sega kucingnya udah sampai.

    entar aquwh bikin toko online jualan sega kucing di bukik.. 😛

    Semoga suatu saat ada manfaatnya.
    Siapa tau nggak ada yang sakit gigi lagi 😀

    [Reply]

  7. September 2nd, 2013 at 19:16 | #7

    Ada yg kodenya Tcbgma gak, Om?

    (Telor ceplok baru nggoreng masih anget) :mrgreen:

    Sumpah, saya barusan makan malam pakai telor ceplok anget dan sambel kecap ditaburi bawang goreng 😀

    [Reply]

    chocoVanilla Reply:

    Hihihihihi….ketok dari Bogor 😛

    (kan pake teropong yang sudah tersedia di atas)

    Saya paling suka ceplok + sambel kecap

    [Reply]

  8. September 2nd, 2013 at 19:23 | #8

    hahahah, kok sama kayak saia pakdhe. suka ngucing

    Nasi kucing itu nikmat, meski vitaminnya memang agak minim 😀

    [Reply]

  9. September 3rd, 2013 at 09:37 | #9

    wahh saya malah senang banget kerang kang heheh.. di jogja sego kucing masih ada yg murah.. saya kemaren makan 2 bungkus + 2 usus + 2 gorengan + 1 es teh cukup 5.500 😀

    Saya kenal sega kucing juga saat di Jogja Mas…
    Saat itu @ Rp. 500
    Susu Murni juga masih 500 rupiah segelas besar

    [Reply]

  10. September 3rd, 2013 at 12:30 | #10


    satu lagi kodenya …
    karet satu biasa …
    karet dua … pedes …

    (itukan gado-gado Om …)

    Hahaha

    Salam saya

    Ada lagi yang bungkusnya dirobek dikit = yang pedes Om…
    Ini biasanya yg nggak pakai karet tapi pakai steples

    [Reply]

  11. September 4th, 2013 at 14:23 | #11

    aku belum pernah makan sego kucing….

    Kalau sega kuning pasti pernah 😀

    [Reply]

  12. September 4th, 2013 at 16:12 | #12

    saya kenal nasi kucing di Jogja. tapi saya lebih suka nasi kuning. apalagi kalau lauknya lengkap, nasinya masih anget… 🙂

    Saya kenal pertama kali juga di Jogja, dan di kota lain belum ada. Tapi saat ini dimana-mana ada

    [Reply]

  13. September 4th, 2013 at 20:28 | #13

    Tombol C dan N hanya selang huruf VB Pak, berpeluang ketukar.
    Lah koding ternyata berlaku pula untuk nasi kucing, mau pasang barcode terlalu mahal, Pak.

    Weh, iya.
    Ternyata posisi tombol itu deket ya Bu

    [Reply]

  14. September 5th, 2013 at 09:24 | #14

    Saya suka makan nasi kucing dan gak bakal ketinggalan jika berkunjung ke Solo. Di solo ada wedangan hik yang kerap menyediakan nasi ini.
    Jadi kangen ke Solo neh 😀

    Awal mula nasi kucing memang di daerah Jogja dan Solo Mas

    [Reply]

  15. September 7th, 2013 at 06:06 | #15

    Au yo gak doyan pak. Biyen tau njajal kerang, jarene konco sih enak. Trus aku kemlethe njumuk kerang uwakeh telung sendok irus. Pas bar mangan, langsung wetengku munek2 ditambah nggliyeng telungndino.

    Pasti munek2 dan nggak ilang2

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~