Home > Kabar > Tegangan 110 Volt

Tegangan 110 Volt

September 30th, 2011 Leave a comment Go to comments

Voltase listrik di negera maju umumnya 100-110 Volt. Karena listrik yang digunakan di negara kita bertegangan 220 volt, itu maknanya Indonesia belum bisa dikategorikan negara maju. Saya termasuk sedikit orang yang mengalami jaman dimana voltase listrik kita 110 Volt.

Saat itu, saat dimana tegangan listrik kita masih pakai yang 110 Volt, pembayarannya sistem flat dan nggak pakai alat pencatat pemakaian seperti sekarang. Untuk membatasi pemakaian, dipasang alat yang akan bergetar dan mengeluarkan bunyi manakala kelebihan beban. Nyala lampu akan kedip2

Keunikan saat lisrik masih bertegangan 110 Volt adalah banyak yang mensiasati cara pasang lampu. Banyak rumah yang memasang 1 lampu untuk 2 kamar. Caranya, dinding pembatasnya dilobangi dan disitulah lampu dipasang.

Menurut para ahli, tegangan 110 Volt jauh lebih aman ketimbang yang 220 Volt. Penggunaan arde juga nggak diperlukan. Tapi kenapa Indonesia nggak mempertahankannya?. Konon semua itu adalah atas tekanan Amerika saat itu, sebagai kompensasi atas dolar yang dipinjamkannya. Sialan!

Majalah Tempo 07 Okt 1972 :
“Satu di antara rencana pengembangan perlistrikan di Indonesia oleh PLN adalah merubah tegangan 110 volt sekarang menjadi 220 volt. Rencana perubahan ini konon juga termasuk dalam syarat-syarat kegunaan kredit 15 juta dollar AS dari Bank Dunia yang ditandatangani bulan Juni tahun 1970 yang lalu Kota-pertama yang menjadi sasaran rencana itu tentu saja Jakarta. Tapi itupun untuk tahap pertama baru dilakukan di daerah-daerah yang baru dimasuki jaringan listrik. “Untuk daerah-daerah baru ini memang tidak ada kesulitan, sebab kita memang membangun instalasi baru yang disesuaikan untuk tegangan 20 volt”, kata Ir Abdul Kadir Direktur Utama PLN kepada TEMPO.

“Tapi untuk daerah-daerah lama yang memang sudah ada jaringan listrik, memang agak sulit”, katanya pula Karena itu perubahan tegangan ini harus dilakukan secara bertahap. Kota Bangkok misalnya, bisa menyelesaikan perubahan dari 110 ke 220 volt itu selama 5 tahun yaitu dari tahun 1961 dan selesai tahun 1966. Untuk Jakarta, menurut Abdul Kadir, diperkirakan akan memakan waktu antara 5 sampai 10 tahun tergantung dari biaya yang tersedia. Sampai akhir 1972 daerah Kota dan Glodok diharapkan sudah akan mendapat tegangan 220 volt seluruhnja. Menurut Ir Abdul Kadir pula, sesudah Jakarta giliran berikutnya, adalah Semarang dan kemudian disusul dengan Medan. Tapi mengapa tegangan harus dirobah dari 110 menjadi 220 volt? Ada alasan penting yang terdapat di belakang usaha ini. Pertama, untuk jangka panjang perubahan ini akan merupakan penghematan atau dalam bahasa yang dipakai Ir Abdul Kadir saving investemen.

Dijelaskan secara tehnis, maka dengan pergantian besarnya kawat jaringan jumlah arus (watt) yang bisa dialirkan melalui kawat tersebut akan jauh lebih besar. Hal ini agaknya memang tidak akan terasa keuntungannya dalam waktu singkat, lebih-lebih dalam masa masih terbatasnya persediaan tenaga listrik yang bisa didistribusikan seperti sekarang. Tapi penambahan tenaga listrik di masa depan pasti akan terjadi juga mengingatakan kian meningkatnya kebutuhan listrik. Di tahun 1965 yang lalu, seperti dijelaskan Menteri PUTL Ir Sutami kepada TEMPO minggu lalu. kenaikan distribusi listrik baru mencapai 3%. Tahun 1968 sudah meningkat menjadi 5% sedang di tahun 1971 yang lalu telah dicapai kenaikan sampai 12% meskipun diakui Sutami dari jumlah listrik yang didistribusikan PLN sekarang komposisinya baru 30%, untuk keperluan yang produktif sedang 70%, masih untuk keperluan yang nonproduktif.

Alasan kedua untuk perobahan tegangan ini adalah karena kondisi kota yang kian lama akan kian padat dan menjadi sempit sehingga akan sulit untuk mencari tempat memasang gardu-gardu baru. Dengan tegangan 220 volt jumlah gardu yang diperlukan bisa diperkecil separuh dari jumlah gardu yang diperlukan jika tegangan 110 volt. Tentu saja perubahan ini akan berpengaruh pula pada pemakaian alat-alat rumah tangga yang menggunakan tenaga listrik.

~ Grazie ~
Categories: Kabar
  1. Djangan Pakies
    September 30th, 2011 at 22:50 | #1

    dulu waktu kecil saya di lereng semeru dan PLN belum masuk karena masuknya sekitar tahun 90-an, masyarakat menggunakan kincir air dengan voltase 110 dan memang gitu hasilnya suka byar pet ngedip-ngedip. Begitu PLN masuk, lampu-lampu dop diganti semua dan seterikaan yang super gedhe tur berat jadi ndak kepake


    Kalau byarpetnya yg menggunakan kincir air itu bukan karena voltase Pak, tapi karena sistem yg dipakai disitu.
    Mau voltase 110 volt kalau perangkatnya bagus ya bagus…

    [Reply]

  2. Reza Saputra
    September 30th, 2011 at 22:52 | #2

    Setia banget sih indonesia sama amerika,, doh


    Sebagian besar keputusan diambil bukan karena kebutuhan tapi lebih karena tekanan

    [Reply]

  3. Imelda
    September 30th, 2011 at 23:17 | #3

    ternyata banyak yang masih ngalamin volt 110 ya? Kusangka cuma di kompleks rumahku saja. Tapi kami ada dua voltage, bisa pilih mau yang 110 atau 220. Kalau ada stop kontak 2 yang kiri 110, yang kanan 220, tinggal disesuaikan dengan peralatan listriknya


    Jakarta memang menjadi uji coba pertama Bu…
    Setelah itu menyusul Semarang kemudian Medan

    [Reply]

    Kaget Reply:

    Saya baru tau Pakdhe, kalau Medan nantinya baka menyusul.
    Artinya ngga takut mati kesetrum, gtu ya Pakdhe? πŸ˜›


    Bukan mau nyusul Mas, tapi sudah nyusul…
    Apa yg saya tulis itu justru kilas balik knapa kita pakai tegangan 220

    [Reply]

  4. September 30th, 2011 at 23:41 | #4

    Saya kok tidak mengalami ya


    Banyak yang nggak ngalami Mas…
    Uji cobanya aja pada taun 74-75….

    [Reply]

  5. October 1st, 2011 at 00:02 | #5

    saya pernah tahu, tegangan 110v lebih aman dari sengatan listrik
    negeri kita kan masih berkembang pak mars

    salam dari pamekasan madura


    Berkembang tanpa batas waktu

    [Reply]

  6. October 1st, 2011 at 02:41 | #6

    memang dasar Amerika, setiap ada perkembangan yang dapat merugikan negaranya pasti bakal tidak dibiarkan….
    makanya Cina sangat tidak menyukai Cina, dan lebih memilih untuk berdiri sendiri..

    Tapi Indonesxx apa..?

    Harusnya pemerintahnya lebih memperhatikan keutamaan masyrakatnya..
    sampai kapan perkembangan kita diatur ma Amerika..


    Kebanyakan utang jadi nggak bebas ambil keputusan Mas

    [Reply]

  7. October 1st, 2011 at 05:45 | #7

    Saya juga sempat menangin dengan listrik 110 volt, malah banyak peralatan listrik di rumah dulu dual voltage. Kalau listrik 220 volt itu untuk memenuhi pesanan amerika, saya tidak tahu pak. Maklum saja dulu tidak seberapa ngeh dengan masalah begituan.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan


    Saya baca di koran tempo terbitan taun 72… πŸ˜€

    [Reply]

  8. October 1st, 2011 at 06:24 | #8

    biasanya colokannya bentuknya pipih


    Kaki2nya ya Mas…

    [Reply]

  9. papap
    October 1st, 2011 at 09:05 | #9

    hahahaha bener banget pakde..papap juga pernah ngalami masa itu πŸ˜€ masa dimana lampu satu dipake dua kamar dan temboknya dibolongin πŸ˜€


    Xixixixi…
    Temboknya dilobangi…
    Itupun cuman dipasang lampu pijar 10 watt…

    [Reply]

  10. October 1st, 2011 at 09:23 | #10

    Hmmm…baru tau kalau kita manut sama Amrik,,


    Saat itu jadi polemik dimasyarakat lho Mas.
    Kejadiannya sekitar tahun 75

    [Reply]

  11. October 1st, 2011 at 09:24 | #11

    kayanya sempet ngalamin juga deh… πŸ˜€

    walah ada si Amerik yg ikut campur.. kckckc


    Mungkin jarang yg ngalami, karena terjadinya sekitar tahun 75… πŸ˜€

    [Reply]

  12. October 1st, 2011 at 10:12 | #12

    secara teknis ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. tegangan 110 volt bisa jadi lebih aman, bila tersentuh tidak seberbahaya listrik 220v, tegangan kejut bila arde tidak baik juga lebih minimal.

    kekurangannya:

    perlu kabel-kabel dan terminal yang jauh lebih mahal untuk listrik 110 volt, untuk menghantarkan daya yang sama, diperlukan diameter kawat lebih dari 2 kali lipat yang diperlukan dibanding pada tegangan 220 v, tiap sambungan kabel juga harus diperhatikan benar πŸ™‚


    Benar Mas. Namun ketika pertimbangan ekonomis lebih dikedepankan ketimbang safety, maka rakyatlah yg menjadi korban.
    Ibarat mbikin jembatan, menurut saya lebih baik habiskan banyak material asal keselamatan terjamin.

    cmiiw

    [Reply]

    Imelda Reply:

    betul sekali… biayanya jauh lebih mahal 110. Dan pemerintah Jepang sayang warganya sehingga mereka bukan lagi 110 volt tapi 100 volt πŸ˜€ Yah dia punya duit sih


    Pemerintah Jepang lebih mengedepankan keamanan warganya ya Bu, meski harus menanam infestasi yang lebih besar. Seperti itulah seharusnya.

    [Reply]

  13. October 1st, 2011 at 13:41 | #13

    sama mas saya juga mengalaminya. kadang menmgalami kesulitan jika beli alat elektronik karena mereka pake 220.
    salam hangat dari Surabaya


    Pakai step up Dhe…

    [Reply]

  14. fitrimelinda
    October 1st, 2011 at 14:30 | #14

    apa karena itu di indonesia srg terjadi korsletinglistrik ya pak..


    Kalau yang ini lebih karena jaringan yg dipakai itu beli bekas Mbak…
    Konon katanya, komponen yg dipakai adalah bekas dari negara Singapura atau Thailand…
    Termasuk jaringan telekomunikasi juga katanya bekas…

    [Reply]

    wyono Reply:

    korsleting atau dalam Bahasa Belanda, karena istilah itu peninggalan Belanda adalah korsluiting atau dalam bahasa Inggris : short circuit. yang sering dikenal dengan korsleting atau hubungan pendek/hubungan singkat. Tidak tergantung berapa tegangan yang digunakan baik 110 V maupun 220 V.
    Dalam listrik ada yang disebut fase/kadang disebut juga ground dan netral. Kemudian ada sistem 3 fase untuk daya yang besar dan sistem 1 fase.
    Hubung singkat dapat terjadi :
    1. fase ke netral.
    2. fase ke fase.
    3. antar 3 fase.
    Diantara ketiganya yang paling sering terjadi adalah fase ke netral.
    tetapi araus hubung singkat yang paling besar saat hubung singkat antar 3 fase.

    untuk sistem 1 fase: antara 220 V dan 110 V m, arus yang mengalir untuk 110 lebih besar dengan daya (P) yang sama, maka arus hubung singkatnya lebih besar, arus hubung singakat dari 1,5-6 kali arus nominalnya.

    Hubung singkat terjadi karena;
    1. Isolasi minyak pada trafo sudah berkurang kemampuannya, bocor minyanya.
    2. Sambungan yang kurang bagus.
    3. Isolasi pada kabel ada yang rusak/terkelupas jika berua kabel.
    4. Untuk penghatar yang bukan kabel/ bare/tanpa isolasi bisa karena faktor eksternal sperti burung, ular, tikus, kelelawar yang hinggap dan merambat pada penghantar.

    Semoga bermanfaat.
    Hanya mengapi maalah teknis kelistrikan. bukan politis ataupun filsuf.
    pemerhati dan praktisi kelistrikan.

    Matur nuwun.

    [Reply]

  15. achmad sholeh
    October 1st, 2011 at 22:10 | #15

    ternyata urusan listrik juga kita dalam tekanan apalagi yang lainnya


    220 Volt hanya unggul soal ekonomisnya, tapi dari segi yg lain nggak baik semua

    [Reply]

    wyono Reply:

    Berbagi informasi.
    Suatu proyek baru/sistem baru dalam hal kelayakannya dilhat dari minimal :
    1. Kajian Kelayakan Teknis operasional, secara teknik bisa dan memngkinkan untuk dapat diwujudkan dan dilaksanakan dengan standar dan spesifikasi yang telah ditentukan.
    2. Kajian kelayakan finansia//ekonomis, suatu proyek bukan hanya secara operasional dapat dilaksanakan tetapi juga secara ekonomis layak , mampu dialksanakan dengan dana yang ada, terus berkelanjutan dan apabila memngkinkan menguntungkan profit, minimal ada saving/penghematan dari kondisi sbelumnya.
    3, Kajian Manajemen Resiko, dilakukan kajian kajian potensi resiko yang akan terjadi dari sisi adminstrasi, perencanan, desain, pengadaan baranga, konstruksi, dan operasi dan pemeliharaan dan uapaya yang disiapakan untuk melakukan mitigasi/pengurangan dan pengendalian atas resiko tersebut.

    Untuk proyeks skala besar dan luas yang punya dampak lingkungan . dilakukan:
    4. Kajiana Kelayakan Lingkungan kita kenal dengan AMDAL/Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan UKL/UPL, Uapaya Pemamntauan dan Pengelolaan Lingkungan.

    Untuk proyel yang punya pengaruh sangat besar sekali, bsa juga tetapi sangat jarang
    5. Kajian kelayakan Sosial,

    Kalau mau lebih lagi bisa juga

    6. Kajian Secara Politik dan Budaya, tetapi sangat sangat jarang.

    Point 5 dan 6 bersifat Non Eksak dan bisa debatable dan sangat jarang digunakan untuk sbuah proyek.

    Hanya membahas masalah teknis, bukan sosiolog, filsuf ataupun politikus.
    Pemerhati dan praktisi kelistrikan.

    matur nuwun.

    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas tambahan informasinya.
    Matur Nuwun juga πŸ˜€

    [Reply]

  16. eko mukminto
    October 2nd, 2011 at 03:58 | #16

    Konon….katanya…..– “konon” nya ga di highlite pak Mar?


    Sudah saya edit Mas… πŸ˜€

    [Reply]

  17. fendik
    October 2nd, 2011 at 08:37 | #17

    Benar pak.. seperti Jepang, Jerman, kata temen saya tegangan listriknya pake 110 Volt.. Dan katanya lagi, Barang elektronik yang bagus itu yg bisa dipake di tegangan 110 volt. Brarti di indonesia barang elektroniknya jelek2 donk.. ehehehe…


    Saat diputuskan pindah ke 220 volt, belum banyak LSM dan masyarakat yg memasalahkan.
    Saat itu masih manut apa kata pemimpin yg diatas…

    [Reply]

    wyono Reply:

    Sebagai iformasi untuk diketahui. Untuk Pernyatann dan 2 kesimpulan diatas berikut komentar saya.
    Jepang menggunakan tegangan 100 V bukan 110 V dengan frekuensi 50 Hz dan 60 Hz , kedua sistem terhubungkan melalui jaringan DC Link.
    Amerika Serikat menggunakan tegangan 110 V dengan frekuensi 60 Hz.
    Jerman menggunakan tenagan 230 V (masuk dalam kelompok ini adalah tegangan 220 V, 230 V dan 240 V) nilai yang sering digunakan 230 V. Jadi jika anda pergi ke Eropa khususnya Jerman, Barang elektronik dari Indonesia bisa anda gunakan, yang perlu disiapkan adalah perbedaan tipe Soket apad Stop Kontak yang masing masing negara. Dapat digunakan Universal Stop Kontak yang akan dapat menyesuaikan stop kontak pada berbagai negara.
    Barang elektronik bagus tidak terkait dengan tegangan yang digunakan tetapi tergantung produk yang digunakan, merk, kualitas dan spesifikasi barang elektrokinik.
    Salah satau indikator adalah harga dan kualitas, harga premium maka kulaitas juga premium sebaliknya harga yang cukup murah rasional maka kualitas disesuaikan. Semua ada segemen pasar masing masing termasuk pada berbagai merk.

    Sebagi contoh. Produsen Elektronik misalkan Jepang dan Korea menghasilkan barang elektroknik yang dipasarkan ke Eropa, Amerika dan juga di Indonesia, produksnya akan menyesuaiakn dengan lokasi pemasarannya. Jika ada yang menggunakan tegangan yang berbeda tinggal menambahkan adaptor yang akan dpat memilih tegangan 110 V atau 220 V. Untuk Frekuensi saat ini produksnya sudah banyak yang bisa digunakan pada frekuensi 50 Hz maupun 60 Hz.
    Indonesia pada masa transisi dual tegangan, pada produk elektronik disiapakan pilihan tegangan di belakang, tersembunyi suapaya tidak semabrang mengubahnya, biasanya dari toko atau penjualkan akan mnsetting sesuai tegangan yang digunakan pada daerah tersebut, suapaya pembeli tidak salah mensetting dan akan berakibat kompalin kepada penjualnya.
    Semoga bermanfaat. Salam super.

    [Reply]

  18. October 2nd, 2011 at 08:51 | #18

    Pakdhe Om apa kabar?

    Indonesia emang fans setia Amrik ya…no comment dech….


    Kabar baik Mbak Dik…
    Indonesia Amrik kayaknya soulmate…

    [Reply]

  19. Sriyono
    October 2nd, 2011 at 18:07 | #19

    yo wis yo dukke meneh… πŸ˜€


    Proyek maneh…

    [Reply]

  20. October 3rd, 2011 at 06:02 | #20

    Saya sempat juga mengalami tegangan listrik 110 V itu


    Banyak nilai positifnya yg 110Volt ketimbang yg 220Volt Mbak…

    [Reply]

    wyono Reply:

    Itu adalah sebuah pilihan dan penentuan standar sistem suatu negara dan kesepakatan suatau negara.
    Semua ada kelebihan dan kekurangannya.
    Dengan pilihan standar yang digunakan, maka produsen alata elektronik, produsen alat listrik dan produsen alat pengaman listrik akan menyesuaiakn sesuai dengan standar yang digunakan.
    Semoga bermanfaat.

    dari pemerhati dan praktisi kelistrikan.
    Matur nuwun.

    [Reply]

  21. yuniarinukti
    October 3rd, 2011 at 13:51 | #21

    Zaman saya TK dulu, saya ingat, Bapak saya pernah merusakkan Tape rumah yg masih pke kaset pita karena lupa belum merubah tegangan, jadilah tape itu langsung mati pet!


    Jaman peralihan, alat elektronik masih dual voltage…
    Jadinya musti teliti

    [Reply]

  22. yuniarinukti
    October 3rd, 2011 at 13:53 | #22

    Oya Pak Mars.. ternyata tegangan 220 itu bikin rese ya, dulu kan gembar-gembornya biar listrik irit ato apalah judulnya, saya lupa.. lah zaman itu saya masih kecil.. baru tau klo tegangan 110 itu justru yg lebih irit..
    Nah ini nih tugas beratnya Pak Dahlan Iskan hihi..


    Di negara maju nggak ada yg 220 volt Mbak…
    Di Jepang malah 100 volt

    [Reply]

    wyono Reply:

    Saya mau berbagi informasi. Semoga bermanfaat.
    Negara negara Eropa (tentu masuk negara maju) menggunakan standar 220/230/240 V dengan frekuensi 50 Hz.
    Negara Amerika Serikat (Negara maju juga) dan Negara Amerika latin banyak menggunakan 110/115/120 V frekuensinya 60 Hz.
    Kalau Jepang (masuk negara maju juga) menggunakan tegangan 100 V dengan frekuensi 50 Hz dan 60 Hz. Kedua sistem terhubung memalui Jaringan DC Link.

    Frekuensi Sistem 50 Hz Tegangan Nominal 110 V 110 V/220 V 220 V
    Negara pengguna/% Total 1/0,5% 4/1,9% 168/77,8%
    50 Hz/60 Hz Tegangan Nominal 100 V
    Negara pengguna/%total 1/0,5%
    60 Hz Tegangan Nominal 110 V 110 V/220 V 220 V
    Negara pengguna/%total 29/13,4% 5/2,3% 8/3,7%
    Tegangan Nominal 110 V 110 V/220 V 220 V/230 V/240 V

    Jadi kalau diprosentase lebih banyak yang menggunakan 220 V.
    Penggantian tegangan 110 V menjadi 220 V merupakan salah satu item dalam pinjaman World Bank. World Bank berpusat di USA, tetapi sistem tegangannya tidak mengikuti USA, karena USA menggunakan tegangan 110 V.
    Penggunaan tegangan 110 V ataupun 220 V tidak langsung terkait dengan negara maju atau bukan karena negara Eropa termasuk Jerman dan Perancis sebagai motor Uni Eropa pun menggunakan 220 V. tetapi kaitanya dengan produksi peralatan , peralatan pengamannya dan untuk kapasatas besar dan skala nasional maka penggunaan tegangan yang lebih tinggi lebih bagus. Kabel yang digunakan lebih kecil, fusenya lebih kecil, gardunya juga lebih kecil. Pengggunaan lahan dan lokasi juga lebih sedikit. Untuk jangka panjang perubahan ini merupakan penghematan yang bisa disebut Investment Saving .

    Terima kasih…

    [Reply]

    wyono Reply:

    Terima kasih atas informasi kutipan dari Majalah TEMPO, Matur nuwun Pak.

    [Reply]

  23. Diah
    October 3rd, 2011 at 21:31 | #23

    Betul sekali kang,Semua tak lain dan tak salah karena UUD ,


    Yg paling menikmati kalau ada proyek baru pastinya pengusaha dan pejabat saat itu

    [Reply]

  24. October 4th, 2011 at 09:20 | #24

    Indonesia itu negara gengsi tapi tak mau maju untuk kemajuan negaranya, bisanya cuma tampil bagus dan bisanya yang diandalkan dengan kata beli dan beli…. kapan mau maju kalo kayak gini apa kata duni?
    salam kenal gan saya asli Ponorogo kota Reyog, nama saya Aziz biasa dipanggil zendun, jadi mana blognya zendun

    [Reply]

  25. October 4th, 2011 at 13:45 | #25

    saya jadi mikir rumus fisika nya voltase apa ya pak?ngaitin voltase dengan perlu banyaknya gardu


    Xixixi
    Lupa saya Mbak.
    Kayaknya selain gardu juga kabel dan travo

    [Reply]

    wyono Reply:

    Rumus Fisikanya. Daya (P) adalah Tegangan (V) dikali Arus (I).
    Pada Daya tetap ,jika tegangan di naikkan maka arus akan turun, sebaliknya jika tegangan diturunkan maka arus akan naik.
    Apa yang terjadi :
    1. Pada Daya yang sma maka, arus yang mengalir lebih besar, diameter kabel lebih besar karena arus lebih besar, proteksinya karena araus makin besar tentu lebih besar fuse/pengaman yang digunakan. Dengan makin besar arus makan Trafo Dsitribusi yang terdapat di Gardu Distribusi 20 kV/220 V/110 V dimensinya akan lebih besar, tentu tak bisa dipasang lebih tinggi dan membutuhkan space yang lebih besar. Jika tegangan diturunkan setengahnya maka sebaliknya arus akan naik 2 kali lipat dibanding dengan 220 V.
    2. Jika ingin mengembangkan ke Daya lebih besar terbatas karena keterbatasan dari kemampuan kabel dan keterbatasan dimensi/diameter kabel.
    3. Dengan adanya arus yang makin besar misalna jadi 2 kalinya maka Losses/rui rugi panas akan meningkat menjadi 4 kalinya dibanding dengan sebelumnya karena Losses merupakan fungsi dari I dikudratkan dikali dengan Resisntansinya (R dalam stuan Ohm).
    Semoga bermanfaat.

    Terima kasih atas tambahan infonya Mas

    [Reply]

  26. October 4th, 2011 at 16:49 | #26

    baru sadar ternyata pak mars orang jadul xixixi…


    Jadul Polll… πŸ˜€

    [Reply]

  27. agen xamthone plus batam
    October 5th, 2011 at 09:01 | #27

    mantap juga nie sangat bagus dan sangat menarik nie……….

    [Reply]

  28. October 5th, 2011 at 12:43 | #28

    kulo nembe ngertos niki pakdhe


    Ini terjadi puluhan taun lalu Mas

    [Reply]

  29. rahman
    October 6th, 2011 at 04:34 | #29

    Wah, padahal udah bener dulu ya pak, sekarang aja tegangan sering turun…..

    [Reply]

    wyono Reply:

    Tegangan sering naik turun tidak terkait langsung dengan pilihan tegangan 110 V atau 220 V.
    Dengan daya (P) tetap dan kabel yang sama antara menggunakan tegangan 110 V dan 220 v , dengan menggunakan tegangan 110 V arus (I) yang mengalir apada Kabel lebih besar 2 kali dinading jika menggunakan 220 V. Dengan arus yang lebih besar maka drop tegangan lebih besar artinya selisih tegangan di sumber/trafo dan pelanggan paling ujung lebih besar.
    Variasi tegangan/ naik turunnya tegangan dipengaruhi oleh :
    1. Tap Changer Trafo Distribusi yang dipilih /mengatur lilitan primer trafo.
    2. Panjang Kabel penghantar tegangan rendah Jaringan Tegangan Rendah sampai ujung.
    3. Diameter kabel penghantar.
    4. Beban pada trafo tersebut9jumlah pelanggan yang harus dilayani).
    5. Kemampuan Trafo untuk dibebani.
    6. Kualitas sambungan pada tiap tiap sambungan pelanggan.

    Hari kemarin adalah kenangan , hari ini adalah anugerah, hari esok adalah masa depan. Maka tataplah dan songsong masa depan itu.

    Semoga bermanfaat. Salam sukses.
    dari pemerhati da praktisi kelistrikan.
    Matur nuwun.

    [Reply]

  30. Purwanto
    October 9th, 2011 at 23:07 | #30

    saya ndak sempat ngonangi jaman 110 pak… waktu listrik masuk desa saya sewaktu masih SD listriknya sudah 220 V. Ternyata ada cerita dibalik tegangan listrik Indonesia


    Jaman taun 75nan Mas

    [Reply]

  31. bramantio
    May 24th, 2013 at 13:11 | #31

    kalau kami perlu stop kontak model 110 Volt ala amerika ada di mana ya….. yg dekat dengan surabaya

    [Reply]

  32. Q-TINK
    May 25th, 2013 at 15:35 | #32

    BAGAIMANA KALAU KITA BERHEMAT MENGGUNAKAN 2 TRAVO (DOWN DARI 220 KE 110 TERUS DINAIKAN LAGI DARI 110 KE 220 BRO SEKALIAN, BISA NGGAK PLUS DIBANTU NIH SEKALIAN

    [Reply]

    wyono Reply:

    Berbgai informasi.
    Trafo/Tranformator tidak terkait dan tidak digunakan dlam rangka penghematan. Tetapi dalam rangka penyesuaian Kapasitas Daya VA yang akan trnsfer , Tegangan (V) dan Arus (I) yang akan digunkan oleh perlatan, penggunaan trafo secara berurutan/seri justru makin memperbesar losses/rugirgi/susut karena merupakan penjumalahn kedua trafo.
    Pada setiap trafo akan menhasilkan rugirugi pada trafo itu sednri secara fisik tampak dari panas yang dikeluarkan, makanya digunakanlah minyak tarfo bertujuan untuk mendinginkan pans tersebut dan sebagai media isolasi terhadap listrik. Rugi yang ada pada rugi primer, sekunder, inti dan rugi rugi angin. Semoga benmanfaat.

    Terima kasih atas tambahan informasinya.
    Semoga bermanfaat.

    [Reply]

  33. habibie
    July 4th, 2013 at 21:42 | #33

    lah rencana pembuatan pesawat pak habibie juga gak jadi karena tekanan IMF atas dolar yang dipinjamkannya ke indonesia kan? emang gitu negara adidaya.. kita gak bisa protes, belum bisa…

    IMF merusak tatanan Mas

    [Reply]

  34. ilham
    September 20th, 2015 at 09:33 | #34

    lebih hemat pakai 220.. dari segi instalasi lebih hemat.. tau sendiri harga kabel tembaga sangat mahal… 110 sangat berbahaya bila menggunakan kabel kecil 220.karena arus yang di alirkan oleh 110 nilainya 2x arus dr 220… kemungkinan resiko kebakaran karena kabel panas lebih tinggi bila kabel tidak benar2 besar

    [Reply]

  35. dimas
    April 4th, 2016 at 20:13 | #35

    alkhamdulillah saya sudah menemukan jawaban atas tugas saya makasih ya pak Wyono

    [Reply]

  36. rudi
    May 30th, 2017 at 17:38 | #36

    pak, teman saya punya setrikaan volt 240 dan watt 1000 , bagaimana caranya agar bisa dipakai? karena voltase listriknya cuma 220 volt. trims

    [Reply]

  1. October 21st, 2013 at 12:16 | #1

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~