Home > Realita > Antara Aku, Alex Dan Liang Mien

Antara Aku, Alex Dan Liang Mien

September 17th, 2011 Leave a comment Go to comments

Saya yakin, bahkan sampai haqqul yaqin, diantara kita pernah mengalami suasana seolah-olah kembali pada beberapa waktu silam. Ini bukan khayalan tentang sebuah alat bernama Mesin Waktu. Beberapa hal yang membuat kita bisa “kembali” pada waktu silam karena faktor kejadian yang tak bisa dihapus dari data base ingatan kita.

Bagi saya lagu-lagu yang pernah berjaya pada masanya menjadi media untuk mengantarkan kembali pada waktu lampau. Taruhlah lagu berjudul Spending My Time yang dinyanyikan oleh duo dari Swedia, Roxette. Bahkan pernah saat di jalan tol, pada kecepatan 110 km/jam, saat saya memacu mobil di jalan bebas hambatan itu, radio yang saya tune-in memutarkan lagu tersebut. Ingatan saya langsung berkejaran dengan laju mobil, iya…, kembali pada jaman es em pe.

Pasti juga pernah terjadi pada Anda. Ketika berjalan-jalan di mall, tiba-tiba tercium aroma bunga chamomile. Anda tidak tahu siapa orang yang memakai parfum itu, namun seketika ingatan langsung tertuju pada mantan kekasih.

Hal yang sama juga sempat terjadi pada diri saya. Saat malam Minggu lalu, untuk menghabiskan waktu saya pergi ke sebuah pasar malam dekat rumah saya. Banyak hal-hal istimewa yang ada di dalam pasar malam ini. Shilin Night Market, jika memasukkan kata kunci tersebut di laman Google, banyak sekali link menuju kesana. Pasar malam ini begitu terkenal hingga ada pameo,” belum ke Taiwan kalau tak mampir ke Pasar Malam Shilin.”

Liang Mien
Shilin Night Market terdapat lebih dari 700 toko makanan, 300 toko pakaian dan tak ratusan lapak bongkar pasang untuk aksesoris. Menjangkau tempat ini pun sangat mudah. Dari Taipei Main Station ada beberapa jalur bus yang berhenti di sini, bahkan tak jauh darinya ada stasiun MRT Jiantan. Tidak kurang tiga ribuan orang berlalu lalang setiap malamnya. Jumlah ini menjadi dua kali lipat pada akhir pecan dan hari libur. Saya sering bertemu dengan orang bertampang kurang lebih sama dengan saya yang njawani banget. Mendengar percakapan dari pemandu wisata, benar saja mereka datang dari Tanah Air.

Jujugan saya sesudah keluar dari subway adalah kedai makanan. Tak ada yang saya nomor satukan ketika ke pasar malam selain wisata kuliner. Warung mie, bukan mie ayam, mie goreng atau mie rebus. Liang Mien (mie dingin), orang Taiwan menyebutnya demikian karena mie ini disajikan dalam keadaan dingin keluar dari freezer.

Meski ruangan terbuka namun AC juga ikut-ikutan dibuka

Dengan menebus NT45 ( sekitar 12 ribu rupiah ) semangkuk mie tersaji di meja. Penampilannya biasa saja, tak ada sesuatu yang menarik kecuali cacahan mentimun dan sedikit wortel. Namun begitu sausnya kita campur rata dan siap untuk ditelan, hemmmmm… tunggu dulu. Icipilah dulu sausnya, ahhh….. kalau pinjam istilah dari Pak Bondan Winarno, “TOP MARKOTOB…!!!”

Saya sebut saus itu dengan bahasa saya, sambal. Memang mak nyoes tenan Dari pencarian resep makanan, baru ngeh kalau sambal ini dibuat dari tepung kacang tanah yang disangrai, ditambah beberapa rempah khas Taiwan dan minyak zaitun. Pantesan…., enaaaaaak banget. Saat itulah saya teringat Alex, dia tak lain adalah yang melayani anak-anak SMA Negeri Kendal di sebelah parkir sebelah SMEA saat istirahat dan kelaparan.

Ingatan itu juga merembet pada es degan, gorengan dan seluruh atmosfer yang pernah ada sepanjang tiga tahun saat saya sekolah di sana. Termasuk juga pada seorang adik kelas tapi tidak satu sekolahan di SMA. Jaman itu belum kenal yang namanya keypad, ringtone, apalagi pulsa. Karena pagar tembok SMAN Kendal dan SMEA lumayan tinggi, saat itulah, karena adik kelas itu kepingin jajanan yang tidak ada di sekolahannya maka dengan semangat luar biasa bersedia rela memanjat tembok itu.

Kini, adik kelas tersebut menjadi istri saya. Tetangga sekolah dan tetangga rumah yang (maaf…) hanya terpaut tiga rumah saja. Ha… ha… ha…., gara-gara mienya Alex pula yang menjadi media saya kembali mengenang kisah cinta di SMA. Hingga kini saat sedang menikmati Liang Mien, saya kembali pada waktu tersebut. Hanya beberapa teman saja yang tahu kisah ini, Pak Marsudiyanto apalagi, sama sekali tidak tahu kalau saya tidak menuliskan untuk beliau.

Kucing-Kucingan Dengan Polisi
Hal yang paling menarik dari Shilin Night Market adalah kelakuan para pedagangnya. Di tengah-tengah jalan di pasar malam ini, para pedangang layaknya main petak umpet dengan aparat keamanan. Di Taiwan tidak ada semacam Polisi Pamong Praja, tugas ketertiban lingkungan diemban oleh polisi juga.

Pedagang yang berjualan itu tidak pernah kapok setiap hari, setiap setengah jam harus bongkar pasang lapak karena polisi lewat di jalan sepanjang 800 meter tersebut. Pada umumnya mereka berjualan pakaian, topi, aksesori, ikat pinggang, kaos kaki dan dagangan lain yang bukan makanan.

Foto A

Foto B

Bisa dimaklumi, mereka yang tidak mendapat atau tidak mampu menyewa kios harus “bermain” ala Tom Jerry. Shilin Night Market dalam lima jam bisa berputar uang sekira tiga juta en ti, atau hampir satu milyar rupiah. Mereka menggelar dagangan di tengah-tengah jalan, yang memang menganggu pejalan kaki. Saya juga ikut mengamati aktifitas ini. Di ujung jalan saat polisi hendak berpatroli ada “intel” yang selalu stand by dengan pesawat walky talkie. Semua pedangang memasang earphone yang seragam merk Motorola. Intel tersebut bakal memberikan perintah untuj menyingkir sementara bila polisi berjalan ke ujung jalan yang lain.

Yang kebangetan sebetulnya polisinya, kalau mau merapikan ya segera ditindak. Polisi yang bertugas di sini hanya seorang diri untuk mengawasi sekira tiga ratus pedagang “bongkar pasang” ini. Dari penuturan seorang teman asli Taiwan menjelaskan kalau pedagang-pedagang itu ada yang mengkoordinir dan menyerahkan uang keamanan. Tebakan saya juga demikian. Jika seorang pedagang ada yang kena razia, maka bandarnya bakal menyelesaikan dengan polisi.

Seperti tampak pada foto, kejadian ini berselang hanya lima belas menit. Bisa dibandingkan foto A dengan foto B. Saya mengambil foto ini di tempat yang sama. Dalam foto A para pedagang dengan leluasa berjualan di tengah jalan. Dan pada foto B ketika polisi melakukan patroli para pedagang itu pergi, yang ada hanya pejalan kaki.

Sesungguhnya saya juga merasa nelongso dengan pedagang-pedagang itu. Harus sigap melayani pembeli yang hanya menawar-nawar saja tak jadi beli, kemudian siaga dengan perintah “intel’ untuk menyingkir. Mulai dari jam enam petang hingga sebelas malam setidaknya mereka harus main petak umpet sebanyak dua belas kali. Namun itulah salah satu daya tarik diantara hiruk-pikuk Shilin Night Market. Yang jelas tidak bakal ada pedagang yang dibawa pakai mobil patroli, atau aksi kekerasan antara pedangan dengan polisi.

Jika Anda berkesempatan berwisata ke Taiwan, Pasar Malam Shilin harus masuk daftar tujuan. Anda bakal menyaksikan langsung drama satu babak antara pedagang dengan polisi.
Salam…

Catatan :
Tulisan dan foto yang ada dipostingan ini kembali dikirim oleh Wishnu Aang, alumni SMA 1 Kendal yang sekarang bekerja di Taiwan. Kalau dalam tulisan ini ada nama Alex, dia adalah salah satu pemilik kantin yang menjadi idola murid2. Penggemar warungnya Alex ini saya namakan AFC (Alex Fans Club).

~ Grazie ~
Categories: Realita
  1. September 17th, 2011 at 16:54 | #1

    mantan murid penuh kenangan ki mesthi!


    Kenangane murid Mas…

    [Reply]

  2. September 17th, 2011 at 17:13 | #2

    hii salam kenal iya dari vira .. 🙂
    jangan lupa mapir keweb vira iya di http://www.rumahkiat.com/ vira mau berbagi pengalaman nih.:)
    wah bagus juga iya blog ka2 … ^_^ good luck iya…..

    [Reply]

  3. September 17th, 2011 at 17:17 | #3

    hehe… saya jd inget, waktu ijin ke PMI untuk donor darah… mumpung sepi, akhirnya mampir dulu makan diwarung alex… 😀

    [Reply]

  4. Sriyono
    September 18th, 2011 at 01:20 | #4

    Begitu postingannya panjang, langsung ada feeling ini bukan tulisannya pak Mars… 😀

    [Reply]

  5. niQue
    September 18th, 2011 at 07:09 | #5

    tapi kapan ya bisa berangkat ke Taiwan dan menyaksikan kejadian di t ulisan ini 😀

    mbok bikin giveaway terus hadiahnya tiket PP gitu? xixixi *pagi2 kena virus giveaway* hahaha

    [Reply]

  6. September 18th, 2011 at 08:41 | #6

    kl pas transaksi,pas ada patroli,kembaliannya suruh nunggu 15 menit lagi? 😀

    [Reply]

  7. September 18th, 2011 at 16:36 | #7

    saya kira bukan guest post, pantas tdi heran bukan main… Spending my time lagu pak mars masa SMP. ah mosok sih??? :mrgreen:

    setelah beres baca, oalah Guest Post tha *Keren² 😀

    [Reply]

  8. September 19th, 2011 at 00:17 | #8

    Wow… omsetnya 1 milyaran ya…
    Banyak banget ya orang yang belanja disitu 😀
    Tetep, gak di Indonesia gak di luar negri, Satpol PP-nya juga garang2 :mrgreen:

    [Reply]

  9. September 19th, 2011 at 08:40 | #9

    Oke, ingatkan saya nanti untuk ke Taiwan. :mrgreen:

    [Reply]

  10. September 20th, 2011 at 11:10 | #10

    duh, jadi pengin bisa jalan-jalan ke taiwan.. (kapan ya….)

    [Reply]

  11. September 20th, 2011 at 20:14 | #11

    Ulasanmu bisa jadi referensi untuk melangkah lebih jauh lagi dari sekedar transit semalam di hotel airport di taiwan… seneng udah bisa mampir kesini… salam hangat dari Iraq…

    [Reply]

  12. September 21st, 2011 at 11:08 | #12

    setuju banget , kalau ke taiwan kudu, harus dan wajib utk mampir ke shilin market ini, banyak wisata kuliner yg maknyusss………. 🙂
    dan, untuk barang2 lain juga harganya cukup murah, tdk harus merogoh kocek terlalu dalam 🙂
    salam

    [Reply]

  13. katils
    September 23rd, 2011 at 08:21 | #13

    malah g mudeng aku kang hehe

    [Reply]

  14. chocoVanilla
    September 24th, 2011 at 07:16 | #14

    Tak pilikir Liang Mien itu nama cewek 😳

    [Reply]

  15. September 30th, 2011 at 11:01 | #15

    Wah, muridnya masih ingat sama Pak Guru, pasti ada sesuatu yang spesial. Hihihi…

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~