Top Master

Wah, hebat banget ini. Sudah “top”, “master” pula. Siapa orangnya?
Ini bukan tentang orang tapi acara TV swasta nasional kita. Yang namanya acara televisi di Indonesia, kalau ada satu yang sukses maka stasiun yang lain suka mengekor dengan acara serupa.

Tersebutlah acara Master Chef Indonesia di salah satu stasiun TV. Acara ini bisa dibilang sukses karena mampu berulang hingga session 3 di tahun 2013. Setelah itu tiba2 di stasiun lainnya ada acara serupa dengan titel Top Chef Indonesia.

Lucunya adalah gaya dan penampilan juri maupun pesertanya nyaris tiada beda. Saya tak tau pasti, apakah dua acara tersebut diproduseri orang yang sama atau yang satu menjiplak lainnya.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal membuat saya tak habis pikir, mengapa mereka begitu mudah menggunakan kata “top” dan “master“. Menurut saya, dua istilah tersebut terlalu berlebihan apabila dipakai untuk lomba semacam itu. Masih banyak istilah lain yang lebih pas.

Acara yang juga pakai kata master adalah The Master. Ini lomba “sulap2an”. Yang berlebihan adalah julukan untuk jurinya. Mereka tidak malu dijuluki (atau menjuluki) dirinya sendiri dengan sebutan master. Ada Master Deddy, ada Master Romy. Benarkah mereka master?

top-master

Dalam dunia catur juga dikenal gelar Master dan Grandmaster, tetapi melalui persyaratan yang amat ketat dan butuh waktu bertahun-tahun. Pengakuannya dilakukan oleh Federasi Catur Internasional. Grandmaster atau master harus memiliki rating (peringkat dalam catur) tertentu.

Di Indonesia terlalu mudah dapatkan gelar master, tapi master-masteran.

23 thoughts on “Top Master

  1. Setuju dengan qoute njenengan pak

    Di Indonesia terlalu mudah dapatkan gelar master, tapi master-masteran.

    Betttuuulllll 😀

    Termasuk Master SEO-SEOan

    [Reply]

  2. Iya pak, terlalu gampang memperoleh gelar master. padahal, melihat komposisi penduduk indonesia, seharusnya yang gampang itu mbakter. tapi ya sudahlah….

    Hahahahaha…
    Mbakturbasi jugahahahahahaha

    [Reply]

  3. mbahKung diakui sebagai master anti biasa setelah melalui sekian tahun ngeblog dan mengolah html.

    sebutan master digunakan acara tv tentu untuk menarik penonton, klo judulnya “Lomba Memasak” entar yang nonton cuman eMak aquwh dowank. 😛

    Analisismu mantep Ngai…
    Sudut pandang kamu makin tajam ajah 😀

    [Reply]

  4. Mungkin maksudnya mister akli Pak. kan orang Indonesia demennya bahasa plesetan, jadi disebutnya “master” he,,, he,,, he,,,

    Hahahaha
    Bener Pak. Dan saking seringnya plesetan, akhirnya jadi sesuatu yang biasa

    [Reply]

  5. There is no business like show business …

    (kita tidak akan pernah mengerti bagaimana jalan fikiran dan cara berfikir orang bisnis pertunjukan)

    Salam saya Pak Mars

    Iya Om…
    Yang agak parah itu iklan yang saling serang. Ada banyak contoh. Selain iklan operator selular, juga ada iklan pengusir masuk angin.
    Yang satu merasa pinter, lainnya merasa bejo

    [Reply]

  6. Saya merasa lebih aneh lagi jika mendengar nama salah satu brand, namanya Top Super Jumbo pak Mars

    Nah yang itu dobel2 jadinya malah berlebihan

    [Reply]

  7. masterisasi di nusantara memang memperkeruh kontroveris hati yang labil harmonisasi

    Kesannya seperti dipaksakan Mas 😀

    [Reply]

    khusna khairunnisa Reply:

    hehehe…sekarang istilah dari Mas Vicky banyak dipinjam ya…

    Banyak juga politisi dan pakar SEO yang bahasanya lebih parah dari Vicky lho Mbak

    [Reply]

  8. kalau master chef acaranya dibeli dari TV luar negeri Pak, saya sering nonton Master Chef Australi…memang format acaranya sama, tapi yang versi luar negeri lebih terlihat profesionalnya, peserta dan jurinya juga hebat beneran, kalau yang versi indonesia, lebih banyak hiperbolanya, berlebihan dan kayak sinetron…

    sekarang asal bisa masak ikan di TV udah dibilang chef…padahal menurut pakar kuliner Ibu Sisca Suwitomo, seorang baru bisa dikatakan chef apabila telah mengabdikan hidupnya sekian belas tahun di dunia masak memasak, mengepalai beberapa ahli masak atau koki, dll dll dll…

    Acara bagus dari luar, setelah diadopsi oleh TV kita biasanya berubah total dan kesannya asal tempel asal mirip dan tanpa disesuaikan dengan bahasa atau budaya kita. Makanya jurinya dicari yang ngomongnya ke”bule-bule”an…

    [Reply]

  9. ada satu lagi yang ketinggalan, master catur… hehehe

    Sudah saya tulis Bang… 😀
    Sebagai penggemar permainan catur saya pasti tak ketinggalan memasukkan gelar master maupun grandmaster dalam catur

    [Reply]

  10. Aku ae diceluk guru, master, suhu vector karo wong2 gak jelas. Haha. Padahal aku hanya lihai bermain bezier tool. selain itu aku nol putol.

    Yang ahli vector banyak, tapi yang mectornya pakai “rasa” cuma dikit. Dan dari yang dikit itu, ada nama Pak nDop di situ 😀

    [Reply]

  11. Gak hanya di acara TV pak, sekolahpun demikian. Bapak saya heran sama tetangga yang gak pernah kuliah dan sedikit bermasalah tahu2 mendapat undangan syukuran sekolah master alias S2 he he.

    Saya juga punya kenalan yang titelnya ada 4 Mas…
    Tapi nggak tau kapan kuliahnya

    [Reply]

  12. kl masterchef sm top chef setau sy itu lisensi dr luar. Jd namanya memang sama.

    Tp sy lebih suka acara yg luar. Krn adegan lebaynya lebih sedikit Apalagi yg Junior masterchef. Malah mendidik mnrt sy (terlepas dr tetep ada kata masternya, yg sy juga setuju dg pendapatnya Bu Sisca :D)

    Kita cuma ngadopsi judulnya tanpa diikuti kualitas peserta dan jurinya ya Mbak…
    Tampaknya kurang disiapkan dengan baik…

    [Reply]

  13. Lha kalau saya kira-kira bisa dikasih gelar master apa ya? wong sukaannya cuma makan, Lele, Gurami, Pepaya dan nanas 😀

    Hahahahaha
    Kalau itu pemakan segala alias masterfora 😀

    [Reply]

  14. Master itu sepertinya sedang-sedang saja.
    Kalo yang besar namanya Monster, yang kecil Mister 🙂

    Yang sedeng namanya Mochtar

    [Reply]

  15. Setuju!!!
    Kalau urusan bisnis memang ada istilah ATM (Amati, Tiru< Modifikasi) sah sah saja….
    Tapi soal gelar memang perlu seleksi…
    Lha wong gelar bisa beli gak perlu kuliah..
    Lha tinggal motivasinya cari ilmu (dapat pahala) apa cari gelar (buat naikkan gaji) Mana yang lebih Barokah…

    Banyak gelar yang didapat dengan membeli.
    Tapi saya yakin mereka tak mendapat kepuasan batin

    [Reply]

  16. asyik tuh acaranya. jurinya mungkin glegeken bolak-balik ngincipi makanan
    Salam hangat dari Surabaya

    Hahahahaha
    Iya Dhe…
    Perutnya sampai kemlekaren

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *