Home > Realita > Transparansi dan Transplantasi, Teori dan Realita

Transparansi dan Transplantasi, Teori dan Realita

February 2nd, 2009 Leave a comment Go to comments

S

ekali sekala, saya mau nulis tentang habitat saya sebagai pengajar, meskipun saya agak grogi melakukannya. Berawal ketika saya baca tulisan sahabat saya di Math Press yang punya alamat http://aminhers.com. Dari judul blog dan layoutnya, aroma keseriusan dan kemapanan langsung tercium, sangat bertolak belakang dengan saya dan blog saya. Terang aja, beliau jadi guru di Bangkok, Bahasa Inggrisnya nglothok dan gajinya seonggok

Dulu saya bingung dan pernah menanyakan via Plurk pada yang empunya, kenapa kok pakai nama Aminhers, padahal beliau ini kan bukan female. Knapa bukan Aminhim atau Aminkuncung. Beliaunya cuman ketawa, karena tak pernah menduga akan dapat pertanyaan senorak dan seberani itu.

Kita lupakan itu, karena memang tidak di situ topik yang akan saya tulis ini.
Dalam salah satu tulisannya, beliau mengulas tentang pentingnya transparansi nilai buat siswa, karena bisa dipakai untuk

  1. mengetahui kemampuan dirinya,
  2. memperbaiki cara belajarnya,
  3. menumbuhkan motivasi dalam belajarnya.

Lihatlah betapa telitinya tulisan beliau, nomor 1 dan 2 berakhir dengan tanda koma, lalu pada nomor 3 berakhir dengan titik. Kalau di tempat saya, cuman tukang rental yang bisa dan biasa melakukannya.
Apa yang ditulis Mas Amin itu benar secara teori, tapi susah untuk saya laksanakan. Ini fakta, ini realita. Di sana mungkin bisa, tapi di sekitar tempat saya, belum 100%. Transparansi dilakukan, tapi transplantasi juga terjadi. Di sekitar tempat saya, nilai bisa dicangkok dengan segala cara agar tumbuh dan mencapai kriteria ketuntasan minimal atau KKM.

Pendapat saya, transparansi itu teorinya, tapi realitanya masih banyak transplantasi.
Bukan tanpa fakta, lihatlah Ujian Nasional sebentar lagi. Beranikah Depdiknas transparansi dalam penentuan Nilai UN?. Kalau berani, saya akan telanjang
Permisi, saya mau mandi, mau mengajar dan mau melakukan transplantasi…

Hormat saya
Photobucket
ahli transplantasi

~ Grazie ~
Categories: Realita
  1. aminhers
    February 2nd, 2009 at 21:29 | #1

    Sebetulnya Pak Dhe saya cuma mengingatkan diri saya sendiri, bahwa nilai bagi anak adalah sebuah karya (siswa) yg harus kita (Guru/ortu)hargai.Kita belajar menghargai jerih payahnya, minimal memberitahukan ,jangan sampai mereka tidak tahu. Masalah TRANSPLANTASI itu tergantung mental.hahhaa….
    makasih Pak Dhe.

    Depdiknas nyontohi ndak baik Mas Amin. Dari pelaksanaan sampai nilai keluar, prosesnya demikian panjang, giliran keluar nilainya, munculnya kadang aneh.
    Ini sudah berlangsung bertahun2 tanpa transparansi.
    Layak diduga, Depdiknaspun lakukan transplantasi

    [Reply]

  2. aminhers
    February 2nd, 2009 at 22:06 | #2

    Makanya Pak Dhe,Transplantasi nilai itu tergantung “Mental = Menteri transplantasi” 😀

    Menterine Mas Amin Wae yo…

    [Reply]

  3. gajah_pesing
    February 2nd, 2009 at 22:17 | #3

    Wa..kalo yang ini saia agak gak mudheng

    Aku asline yo gak mudheng Mas.
    Di Dheng2ke wae…

    [Reply]

  4. genthokelir
    February 2nd, 2009 at 22:22 | #4

    sebenarnya nggak cuman dinas pendidikan yang tak tranparansi namun ….. pak Mar pernah chating itu juga (pemerintah dlsbg )

    Mas Totok kok kelingan…

    [Reply]

  5. Novianto
    February 2nd, 2009 at 22:33 | #5

    Masih adakah transparansi ? apalagi di dinas2 itu… duhh

    Transparansi masih ada, cuman kadarnya belum 100%

    [Reply]

  6. denologis
    February 2nd, 2009 at 22:33 | #6

    Eh, signature-nya Ahli Transplantasi, berarti Pak Mars juga sering nyangkok ya?
    Uh, kecewa aku. (highfive)

    (dance)

    Kalau malam saya sering nyangkok dan nytek…

    [Reply]

  7. February 2nd, 2009 at 22:36 | #7

    selama ini institusi pendidikan selalu dn selalu saja tdk pernah mau transparan.
    lembaga pendidikan seolah adalah sebuah menara gading yang sangat mahsyur dan sulit dijamah orang2 selain “akademisi”…
    semua yang berlegitimasi pendidikan maka selalu saaja menjadi hal yang menjadi acuan bagi pihak lain..
    padahal ? permasalah pendidikan kita juga sangat kompleks…
    pak mars yang lebih paham-lah…
    😀 😀

    Lembaga Pendidikan sulit dijamah orang selain akademisi?.
    Kayaknya justru saat ini banyak yang njamah.
    Mulai LSM2an, Anggota Dewan yg punya kepentingan, Wartawan dan orang2 beruang…

    [Reply]

  8. February 2nd, 2009 at 22:54 | #8

    kalau tulisan serius gini, saya tidak berani komentar.

    Nulis model gombal terus takut kelangan pamor…
    Sekali2 nulis sing medeni uwong!

    [Reply]

  9. February 2nd, 2009 at 22:55 | #9

    wuts… ahli transplantasi, ekslusif 6 bulan loh pak mars..

    saya lebih suka penilaian tidak dikonvert dengan angka atau huruf, tapi diuraikan saja, misalnya si A bisa berhitung sampe 100, si B baru benar sampai total 90 gitu, tapi yah… memang musimnya disini lain ya…

    Format Raport yang sekarang sudah begitu, cuman SDM nya ndak siap.
    Ada format tentang ketercapaian. Tapi sebagian guru ndak paham mendeskripsikan.
    Dari TK juga sudah…

    [Reply]

  10. Endar
    February 3rd, 2009 at 03:39 | #10

    Maaf pak oot. Unsud kena gludug pak. Sedih nggak bisa berkunjung ke blog para sahabat. Mas ali mungkin juga nggak bisa akses internet.

    Smoga cepet diperbaiki…

    [Reply]

  11. Endar
    February 3rd, 2009 at 04:36 | #11

    Susah ngetik pakai hp. Sekarang komentar serius. Sesuatu yang transparan memang menggairahkan pak. Jika transparan tentu lebih semangat menaikan anu… nilai maksudnya. Beda dengan yang tertutup rapat.

    HP nya ditancepi keboard kan biso…

    [Reply]

  12. February 3rd, 2009 at 04:54 | #12

    transparansi nilai un? saya kira kalau pihak diknas mau reformasi, mestinya nilai un tdk ditransplantasi (atau lebih cocoknya istilah manipulasi pak?). kalau sudah gitu baru tahu, bgm mutu pendidikan sebenarnya.

    Yang jadi persoalan adalah Diknas ndak pernah mau transparan Mas Zul…
    Saya gunakan istilah transplantasi semata buat ngimbangi transparansi…
    Manipulasi iya, tapi yang sering dilakukan adalah konversi, tanpa jelas itungannya pakai cara apa…

    [Reply]

  13. nita
    February 3rd, 2009 at 08:41 | #13

    transparan dlm nilai ujian itu maksudnya gimana pak? apa seperti menghitung jumlah suara pd saat pemilu, yakni di depan para saksi2 yg terdiri dr masyarakat…?

    Maksudnya siswa tau, benar berapa salah berapa, lalu pedoman penskoran nilainya bagaimana.
    Selama ini ndak ada kejelasan. Tau2 keluar nilainya.
    Beberapa tahun yang lalu, nilai itu malah dikonversi.
    Contoh sederhana Matematika.
    Dengan 30 soal pilihan ganda, logikanya tiap benar skorenya 100/30 atau 3,33 sehingga nilai ujian haruslah kelipatan 3,33. Misalnya benar 20 nilainya 66,67.
    Kenyataannya tidak demikian.
    Ada anak yang nilainya 65,00. Itu benar berapa??.
    Aneh!!

    [Reply]

  14. suwung
    February 3rd, 2009 at 09:45 | #14

    baru tau kalo ngak jujur

    Blogger ndak jujur aja banyak kok, opomaneh instansi…

    [Reply]

  15. Bawor
    February 3rd, 2009 at 13:31 | #15

    Setelah harga BBM turun, pemerintah memaksa tarip transplantasi umum turun 500 perak. Hidup Pemerintah!!! Merdeka!!!

    Transparansi ke Sumatra atau Kalimantan saja Mas…

    [Reply]

  16. tukang nggunem
    February 3rd, 2009 at 14:38 | #16

    saya suka yang transparan-transparan…plastik, kaca, rok..opo meneh ya??

    Yang transparan bisa buat ngganti lensa…

    [Reply]

  17. February 3rd, 2009 at 15:32 | #17

    wah pak mar kok berani mau telanjang, opora medeni bocah pak

    Kan wis tak etung Mas. Telanjang gak asal telanjang.
    Itu hanya terjadi untuk hal yang hampir2 tak mungkin terjadi…

    [Reply]

  18. cah baguzzz
    February 3rd, 2009 at 16:19 | #18

    jik nggumun mbi tanda tangane njenengan pak…:D

    Kuwi dudu tandatangan Mas, tapi cap jempol…

    [Reply]

  19. mars
    February 3rd, 2009 at 18:19 | #19

    Saya kehilangan comment seorang sahabat yang ngaku Cah Blora.
    Saat saya edit, malah commentnya bablas…

    [Reply]

  20. harianku
    February 3rd, 2009 at 18:36 | #20

    jangan sampe bugil bugil ah mas, nda enak
    ntar kena UU ITE 😛

    Selama Depdiknas masih seperti sekarang, dijamin saya ndak akan bugil Mbak….

    [Reply]

  21. awie
    February 3rd, 2009 at 21:25 | #21

    djap djempol koe bisa kya gitu nda yah,wkwkwkwkwkwk
    sama mas di tempatku malah ada yng dengan bangga bilang lihat anak didiku lulus 100% eeh setelah di selidiki ternyata di kasih bocoran kunci jawaban pie ki

    banyak sekolah yg menghalalkan segala cara, termasuk nyuap pengawas ujiane…
    Ini realita!

    [Reply]

  22. awie
    February 3rd, 2009 at 21:27 | #22

    jangan pe telanjang ah pak nanti banyak yang lari ( lari mendekat gitu penasaran ko bisa yah wkwkwkwkwkwkwk

    Kan saya telanjangnya nunggu Depdiknas Transparan. Dan itu kayaknya ndak bakal terjadi!

    [Reply]

  23. February 3rd, 2009 at 21:31 | #23

    walah, senengange pak mar kok miyak wadi, kekeke …. yang pasti, pelan tapi pasti teori itu jangan sampai sebatas teori pak mar. *duh, nuwun sewu, ko jadi sok idealis, saya, hiks*

    Tampaknya kita musti samakan persepsi, mana wadi mana borok Pak…
    Kalau borok, makin ditutupi akan makin mambu!

    [Reply]

  24. February 3rd, 2009 at 21:46 | #24

    duduk manis baca dan nelaah,..!!!

    Paskibra kok duduk manis. harusnya kan posisi siap?

    [Reply]

  25. ndop
    February 3rd, 2009 at 22:43 | #25

    keiknya sampeyan perlu membuat perkumpulan blogger guru deh pak de…

    Malah rak seneng mas, karena jenuh, kayak makan nasi lauk lontong.
    Dengan nyampur kemana2, saya jadi merasa nyaman dan nambah wawasan…
    Saya tidak suka blogger ekseklusif

    [Reply]

  26. February 3rd, 2009 at 23:10 | #26

    kalau masalah itu ma jangan di bilang lagi smua kagak da yang jujur……
    mkin termasuk aq sendiri….

    Kalau semua lelaki jujur, banyak perempuan yang jantungan…

    [Reply]

  27. Rian Xavier
    February 3rd, 2009 at 23:12 | #27

    hmm.. Mendingan yang transparant total aja.

    transparan total juga ndak mungkin mas, karena transparan ndak sama dengan telanjang bulat…

    [Reply]

  28. February 4th, 2009 at 04:34 | #28

    wekekekkekekek pak maaaar jangan telanjang pliis cupliis…dooh ini nih penyebab katarak…

    hmmm UN , gimana baeknya Pak?
    jaman saya dulu yg masih seabreg mata pelajaran yg diujiankan yho nyante ae, untunglah diriku jadi manusia juga akhirnya (loh bukan e sek dadi cebong)

    UN jaman saiki didramatisir. Mulai Pemda nganti Kepala Dinas, Aparat Kepolisian kabeh siaga koyo meh perang!

    [Reply]

  29. February 4th, 2009 at 04:35 | #29

    mampir subuh2 subuh pak marsud

    Diampiri wong bar Subuhan rasane adem…

    [Reply]

  30. aprie
    February 4th, 2009 at 10:40 | #30

    lha tesih wonten nilai katrolan mboten nggih pak?

    Bentuknya masih, cuman ganti nama dowang Mas…

    [Reply]

  31. hamka
    February 4th, 2009 at 12:07 | #31

    <<< nunggu mas marsud telanjang 😛

    [Reply]

  32. meylya
    February 4th, 2009 at 14:39 | #32

    Weaduh kok pak mars mao telanjang
    kabur ah….

    [Reply]

  33. February 4th, 2009 at 14:40 | #33

    hahahahha jangan telanjang pak…ntar kena anti pornografi

    [Reply]

  34. February 4th, 2009 at 16:06 | #34

    aku ga’ mudeng…

    [Reply]

  35. February 4th, 2009 at 16:07 | #35

    aslii aku ga’ mudeng pakdee…

    sumprriiitt!!! iki oop to maksude postingane…

    [Reply]

  36. munawar am
    February 4th, 2009 at 17:04 | #36

    nggak kebayang kalau Pak Mar telanjang…., kayaknya kepala diknasnya akan lari kebirit-birit Pak (kepala dinasnya kan perempuan yaaahhh?) 🙂

    [Reply]

  37. February 4th, 2009 at 18:33 | #37

    ada pameo tuh..boleh telanjang mas…asal jangan bugill

    [Reply]

  38. grubik
    February 4th, 2009 at 20:03 | #38

    sing paling penting cahbocah digawe pinter pakdhe…

    selamat bertransplantasi,
    lha pancen kahanane kados ngaten njih pak njih???

    [Reply]

  39. Khairuddin Syach
    February 4th, 2009 at 21:33 | #39

    Transparansi, transplantasi dan transimigrasi. Harus ada keterbukaan alias jujur, hasil mengecewakan? Cangkok sajah. Tidak bisa dicangkok, pindahkan sajah alias di-transimigrasi-kan ke papua misalnya… 🙂

    *saya kok yang norak akhirnya*

    [Reply]

  40. February 4th, 2009 at 23:08 | #40

    Mang biasanya ada manipulasi ya pak??

    [Reply]

  41. Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
    February 5th, 2009 at 06:12 | #41

    orang indonesia terlalu banyak yang disembunyikan, makanya tidak mau transparansi… 🙂

    [Reply]

  42. February 5th, 2009 at 20:57 | #42

    memang enak kalo semua transparan ya, jadi engga usah repot melihatnya.

    [Reply]

  43. freeware download
    February 7th, 2009 at 22:00 | #43

    kalau sang pengajar mendidik hanya untuk mendapatkan penghasilan, mutu pendidikan indonesia tidak bakalan maju-maju. mestinya mengajar adalah panggilan hati nurani, bukan tuntutan perut

    [Reply]

  44. mars
    February 8th, 2009 at 10:38 | #44

    Makasih buat semua yang sudah mengapresiasi tulisan tentang tulisan saya ini.
    Salam Hangat dari saya!

    [Reply]

  45. February 9th, 2009 at 21:36 | #45

    salam kenal.
    kasus seperti ini hampir terjadi di semua instansi, baik milik pemerintah maupu swasta. terlalu banyak penakut, orang bodoh dan orang pinter yang malah membodohi (mengambil untung pribadi) di negeri ini. maka seperti inilah jadinya.
    wacana² ideal seperti ini juga banyak, artinya masih banyak orang pinter yang pengen orang² menjadi pinter juga lalu mbangun bangsa ini. masalahnya masih banyak orang yang takut untuk menjadi lebih baik, yang dibayangkan kegagalannya.
    bangsa ini berisi banyak orang pinter lho sebenernya…kalo ada masalah, pinter mencari akar permasalahannya, menjabarkan akibat²nya, menjelaskan kronologisnya…tapi belum sempat memikirkan solusinya, eee sudah ada masalah yang lain…

    [Reply]

  46. February 9th, 2009 at 21:40 | #46

    sambungan…
    nah contohnya saya…komen saya di atas kan juga begitu…bla…bla…bla…menjelaskan apa yang dihadapi bangsa ini dan sedikit menyentil permasalahan bangsa…tapi ngga ada solusinya sama sekali…hahahahahaaa…

    [Reply]

  47. abdee
    February 10th, 2009 at 15:49 | #47

    Beranikah Depdiknas transparansi dalam penentuan Nilai UN?. Kalau berani, saya akan telanjang…

    saya ndak berani membayangkan…

    [Reply]

  1. May 24th, 2009 at 15:51 | #1

silakan buka katalog untuk melihat postingan lainnya
~ terima kasih ~