Transparansi dan Transplantasi, Teori dan Realita

S

ekali sekala, saya mau nulis tentang habitat saya sebagai pengajar, meskipun saya agak grogi melakukannya. Berawal ketika saya baca tulisan sahabat saya di Math Press yang punya alamat http://aminhers.com. Dari judul blog dan layoutnya, aroma keseriusan dan kemapanan langsung tercium, sangat bertolak belakang dengan saya dan blog saya. Terang aja, beliau jadi guru di Bangkok, Bahasa Inggrisnya nglothok dan gajinya seonggok

Dulu saya bingung dan pernah menanyakan via Plurk pada yang empunya, kenapa kok pakai nama Aminhers, padahal beliau ini kan bukan female. Knapa bukan Aminhim atau Aminkuncung. Beliaunya cuman ketawa, karena tak pernah menduga akan dapat pertanyaan senorak dan seberani itu.

Kita lupakan itu, karena memang tidak di situ topik yang akan saya tulis ini.
Dalam salah satu tulisannya, beliau mengulas tentang pentingnya transparansi nilai buat siswa, karena bisa dipakai untuk

  1. mengetahui kemampuan dirinya,
  2. memperbaiki cara belajarnya,
  3. menumbuhkan motivasi dalam belajarnya.

Lihatlah betapa telitinya tulisan beliau, nomor 1 dan 2 berakhir dengan tanda koma, lalu pada nomor 3 berakhir dengan titik. Kalau di tempat saya, cuman tukang rental yang bisa dan biasa melakukannya.
Apa yang ditulis Mas Amin itu benar secara teori, tapi susah untuk saya laksanakan. Ini fakta, ini realita. Di sana mungkin bisa, tapi di sekitar tempat saya, belum 100%. Transparansi dilakukan, tapi transplantasi juga terjadi. Di sekitar tempat saya, nilai bisa dicangkok dengan segala cara agar tumbuh dan mencapai kriteria ketuntasan minimal atau KKM.

Pendapat saya, transparansi itu teorinya, tapi realitanya masih banyak transplantasi.
Bukan tanpa fakta, lihatlah Ujian Nasional sebentar lagi. Beranikah Depdiknas transparansi dalam penentuan Nilai UN?. Kalau berani, saya akan telanjang
Permisi, saya mau mandi, mau mengajar dan mau melakukan transplantasi…

Hormat saya
Photobucket
ahli transplantasi

48 thoughts on “Transparansi dan Transplantasi, Teori dan Realita

  1. Sebetulnya Pak Dhe saya cuma mengingatkan diri saya sendiri, bahwa nilai bagi anak adalah sebuah karya (siswa) yg harus kita (Guru/ortu)hargai.Kita belajar menghargai jerih payahnya, minimal memberitahukan ,jangan sampai mereka tidak tahu. Masalah TRANSPLANTASI itu tergantung mental.hahhaa….
    makasih Pak Dhe.

    Depdiknas nyontohi ndak baik Mas Amin. Dari pelaksanaan sampai nilai keluar, prosesnya demikian panjang, giliran keluar nilainya, munculnya kadang aneh.
    Ini sudah berlangsung bertahun2 tanpa transparansi.
    Layak diduga, Depdiknaspun lakukan transplantasi

    [Reply]

  2. Makanya Pak Dhe,Transplantasi nilai itu tergantung “Mental = Menteri transplantasi” 😀

    Menterine Mas Amin Wae yo…

    [Reply]

  3. Wa..kalo yang ini saia agak gak mudheng

    Aku asline yo gak mudheng Mas.
    Di Dheng2ke wae…

    [Reply]

  4. sebenarnya nggak cuman dinas pendidikan yang tak tranparansi namun ….. pak Mar pernah chating itu juga (pemerintah dlsbg )

    Mas Totok kok kelingan…

    [Reply]

  5. Masih adakah transparansi ? apalagi di dinas2 itu… duhh

    Transparansi masih ada, cuman kadarnya belum 100%

    [Reply]

  6. Eh, signature-nya Ahli Transplantasi, berarti Pak Mars juga sering nyangkok ya?
    Uh, kecewa aku. (highfive)

    (dance)

    Kalau malam saya sering nyangkok dan nytek…

    [Reply]

  7. selama ini institusi pendidikan selalu dn selalu saja tdk pernah mau transparan.
    lembaga pendidikan seolah adalah sebuah menara gading yang sangat mahsyur dan sulit dijamah orang2 selain “akademisi”…
    semua yang berlegitimasi pendidikan maka selalu saaja menjadi hal yang menjadi acuan bagi pihak lain..
    padahal ? permasalah pendidikan kita juga sangat kompleks…
    pak mars yang lebih paham-lah…
    😀 😀

    Lembaga Pendidikan sulit dijamah orang selain akademisi?.
    Kayaknya justru saat ini banyak yang njamah.
    Mulai LSM2an, Anggota Dewan yg punya kepentingan, Wartawan dan orang2 beruang…

    [Reply]

  8. kalau tulisan serius gini, saya tidak berani komentar.

    Nulis model gombal terus takut kelangan pamor…
    Sekali2 nulis sing medeni uwong!

    [Reply]

  9. wuts… ahli transplantasi, ekslusif 6 bulan loh pak mars..

    saya lebih suka penilaian tidak dikonvert dengan angka atau huruf, tapi diuraikan saja, misalnya si A bisa berhitung sampe 100, si B baru benar sampai total 90 gitu, tapi yah… memang musimnya disini lain ya…

    Format Raport yang sekarang sudah begitu, cuman SDM nya ndak siap.
    Ada format tentang ketercapaian. Tapi sebagian guru ndak paham mendeskripsikan.
    Dari TK juga sudah…

    [Reply]

  10. Maaf pak oot. Unsud kena gludug pak. Sedih nggak bisa berkunjung ke blog para sahabat. Mas ali mungkin juga nggak bisa akses internet.

    Smoga cepet diperbaiki…

    [Reply]

  11. Susah ngetik pakai hp. Sekarang komentar serius. Sesuatu yang transparan memang menggairahkan pak. Jika transparan tentu lebih semangat menaikan anu… nilai maksudnya. Beda dengan yang tertutup rapat.

    HP nya ditancepi keboard kan biso…

    [Reply]

  12. transparansi nilai un? saya kira kalau pihak diknas mau reformasi, mestinya nilai un tdk ditransplantasi (atau lebih cocoknya istilah manipulasi pak?). kalau sudah gitu baru tahu, bgm mutu pendidikan sebenarnya.

    Yang jadi persoalan adalah Diknas ndak pernah mau transparan Mas Zul…
    Saya gunakan istilah transplantasi semata buat ngimbangi transparansi…
    Manipulasi iya, tapi yang sering dilakukan adalah konversi, tanpa jelas itungannya pakai cara apa…

    [Reply]

  13. transparan dlm nilai ujian itu maksudnya gimana pak? apa seperti menghitung jumlah suara pd saat pemilu, yakni di depan para saksi2 yg terdiri dr masyarakat…?

    Maksudnya siswa tau, benar berapa salah berapa, lalu pedoman penskoran nilainya bagaimana.
    Selama ini ndak ada kejelasan. Tau2 keluar nilainya.
    Beberapa tahun yang lalu, nilai itu malah dikonversi.
    Contoh sederhana Matematika.
    Dengan 30 soal pilihan ganda, logikanya tiap benar skorenya 100/30 atau 3,33 sehingga nilai ujian haruslah kelipatan 3,33. Misalnya benar 20 nilainya 66,67.
    Kenyataannya tidak demikian.
    Ada anak yang nilainya 65,00. Itu benar berapa??.
    Aneh!!

    [Reply]

  14. Setelah harga BBM turun, pemerintah memaksa tarip transplantasi umum turun 500 perak. Hidup Pemerintah!!! Merdeka!!!

    Transparansi ke Sumatra atau Kalimantan saja Mas…

    [Reply]

  15. saya suka yang transparan-transparan…plastik, kaca, rok..opo meneh ya??

    Yang transparan bisa buat ngganti lensa…

    [Reply]

  16. wah pak mar kok berani mau telanjang, opora medeni bocah pak

    Kan wis tak etung Mas. Telanjang gak asal telanjang.
    Itu hanya terjadi untuk hal yang hampir2 tak mungkin terjadi…

    [Reply]

  17. jik nggumun mbi tanda tangane njenengan pak…:D

    Kuwi dudu tandatangan Mas, tapi cap jempol…

    [Reply]

  18. Saya kehilangan comment seorang sahabat yang ngaku Cah Blora.
    Saat saya edit, malah commentnya bablas…

    [Reply]

  19. jangan sampe bugil bugil ah mas, nda enak
    ntar kena UU ITE 😛

    Selama Depdiknas masih seperti sekarang, dijamin saya ndak akan bugil Mbak….

    [Reply]

  20. djap djempol koe bisa kya gitu nda yah,wkwkwkwkwkwk
    sama mas di tempatku malah ada yng dengan bangga bilang lihat anak didiku lulus 100% eeh setelah di selidiki ternyata di kasih bocoran kunci jawaban pie ki

    banyak sekolah yg menghalalkan segala cara, termasuk nyuap pengawas ujiane…
    Ini realita!

    [Reply]

  21. jangan pe telanjang ah pak nanti banyak yang lari ( lari mendekat gitu penasaran ko bisa yah wkwkwkwkwkwkwk

    Kan saya telanjangnya nunggu Depdiknas Transparan. Dan itu kayaknya ndak bakal terjadi!

    [Reply]

  22. walah, senengange pak mar kok miyak wadi, kekeke …. yang pasti, pelan tapi pasti teori itu jangan sampai sebatas teori pak mar. *duh, nuwun sewu, ko jadi sok idealis, saya, hiks*

    Tampaknya kita musti samakan persepsi, mana wadi mana borok Pak…
    Kalau borok, makin ditutupi akan makin mambu!

    [Reply]

  23. keiknya sampeyan perlu membuat perkumpulan blogger guru deh pak de…

    Malah rak seneng mas, karena jenuh, kayak makan nasi lauk lontong.
    Dengan nyampur kemana2, saya jadi merasa nyaman dan nambah wawasan…
    Saya tidak suka blogger ekseklusif

    [Reply]

  24. kalau masalah itu ma jangan di bilang lagi smua kagak da yang jujur……
    mkin termasuk aq sendiri….

    Kalau semua lelaki jujur, banyak perempuan yang jantungan…

    [Reply]

  25. hmm.. Mendingan yang transparant total aja.

    transparan total juga ndak mungkin mas, karena transparan ndak sama dengan telanjang bulat…

    [Reply]

  26. wekekekkekekek pak maaaar jangan telanjang pliis cupliis…dooh ini nih penyebab katarak…

    hmmm UN , gimana baeknya Pak?
    jaman saya dulu yg masih seabreg mata pelajaran yg diujiankan yho nyante ae, untunglah diriku jadi manusia juga akhirnya (loh bukan e sek dadi cebong)

    UN jaman saiki didramatisir. Mulai Pemda nganti Kepala Dinas, Aparat Kepolisian kabeh siaga koyo meh perang!

    [Reply]

  27. lha tesih wonten nilai katrolan mboten nggih pak?

    Bentuknya masih, cuman ganti nama dowang Mas…

    [Reply]

  28. nggak kebayang kalau Pak Mar telanjang…., kayaknya kepala diknasnya akan lari kebirit-birit Pak (kepala dinasnya kan perempuan yaaahhh?) 🙂

    [Reply]

  29. sing paling penting cahbocah digawe pinter pakdhe…

    selamat bertransplantasi,
    lha pancen kahanane kados ngaten njih pak njih???

    [Reply]

  30. Transparansi, transplantasi dan transimigrasi. Harus ada keterbukaan alias jujur, hasil mengecewakan? Cangkok sajah. Tidak bisa dicangkok, pindahkan sajah alias di-transimigrasi-kan ke papua misalnya… 🙂

    *saya kok yang norak akhirnya*

    [Reply]

  31. orang indonesia terlalu banyak yang disembunyikan, makanya tidak mau transparansi… 🙂

    [Reply]

  32. kalau sang pengajar mendidik hanya untuk mendapatkan penghasilan, mutu pendidikan indonesia tidak bakalan maju-maju. mestinya mengajar adalah panggilan hati nurani, bukan tuntutan perut

    [Reply]

  33. Makasih buat semua yang sudah mengapresiasi tulisan tentang tulisan saya ini.
    Salam Hangat dari saya!

    [Reply]

  34. salam kenal.
    kasus seperti ini hampir terjadi di semua instansi, baik milik pemerintah maupu swasta. terlalu banyak penakut, orang bodoh dan orang pinter yang malah membodohi (mengambil untung pribadi) di negeri ini. maka seperti inilah jadinya.
    wacana² ideal seperti ini juga banyak, artinya masih banyak orang pinter yang pengen orang² menjadi pinter juga lalu mbangun bangsa ini. masalahnya masih banyak orang yang takut untuk menjadi lebih baik, yang dibayangkan kegagalannya.
    bangsa ini berisi banyak orang pinter lho sebenernya…kalo ada masalah, pinter mencari akar permasalahannya, menjabarkan akibat²nya, menjelaskan kronologisnya…tapi belum sempat memikirkan solusinya, eee sudah ada masalah yang lain…

    [Reply]

  35. sambungan…
    nah contohnya saya…komen saya di atas kan juga begitu…bla…bla…bla…menjelaskan apa yang dihadapi bangsa ini dan sedikit menyentil permasalahan bangsa…tapi ngga ada solusinya sama sekali…hahahahahaaa…

    [Reply]

  36. Beranikah Depdiknas transparansi dalam penentuan Nilai UN?. Kalau berani, saya akan telanjang…

    saya ndak berani membayangkan…

    [Reply]

  37. Pingback: metaMARSphose » Azas Praduga Bersalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *