Waktu

B

ukan penelitian, tapi ini sekedar pendapat dari pengamatan sehari2 terhadap apa yang ada di sekitar saya.

Semua tau setiap kita memiliki jumlah waktu yang sama, sehari = 24 jam. Tapi dalam implementasinya, jatah yang sama itu terobrak-abrik oleh kita sendiri.

Saya ambil contoh paling simpel. Sekolah kami masuk jam 07.00. Tiap hari pasti ada yang datang terlambat, ya muridnya ya gurunya (termasuk saya juga). Lalu suatu ketika sekolah kami masuk siang, jam 13.30. Ternyata ada yang terlambat. Ekstra kurikuler dimulai jam 15.00, masih ada yang terlambat juga.

Fenomena tersebut tak jauh beda terjadi juga di lingkungan RT saya. Undangan Rapat RT jam 19.30. Saat acara dimulai, yang datang belum ada separo. Besoknya, sesuai rapat disepakati kerja bakti mulai jam 06.00 pagi, banyak yang terlambat. Siangnya jam 11.00 janjian kumpul mau nengok tetangga yang opname di rumah sakit, ada juga yang terlambat datang.

Ternyata tak ada waktu yang pas, kapan bisa ditepati. Nggak pagi, nggak siang atau malam, waktu demikian gampang dilanggar.

Bukan waktunya yang salah, tapi kitalah yang selalu menyalahkan.
Bagaimana Anda menggunakan waktu yang ada?

39 thoughts on “Waktu

  1. wah itu sih budayanya pak guru..budaya telat..gak usah frustasi dengan itu lebih baik di kira kira aja kapan tenggang telatnya..30 menit, 45 menit..heee..kalo saya karena bekerja di profesional, gak bisa njalanin kayak gitu kecuali di pesta kawinan..iso di pecat engko..

    [Reply]

  2. sorry pak..mau nambahin kalo sekolah yah di kasi insentif aja..misalnya hukuman ngepel WC, ngepel kantin, supaya malu gitu loh..insentif moral namanya..

    [Reply]

  3. Tepat waktu memang sulit tapi kalau kita berusaha pastilah akan bisa, biasakan kita lebihbaik menunggu daripada ditunggu

    [Reply]

  4. Wah sama aja pak Mar… Saya kadang juga jam karet, maklum dah merupakan tradisi bangsa Kita mungkin ya…

    [Reply]

  5. Itu karena sudah jadi kebiasaan, jangan-jangan bahkan sudah jadi budaya. Meski demikian, saat ini mereka yang sering lalai waktu akan dihukum oleh alam, dan tersingkir dari peta persaingan yang kian hari kian ketat.

    [Reply]

  6. Bangsa kita gak cocok dengan sistem waktu 24 jam dalam sehari, kita selalu kekurangan waktu sangking banyak yang harus dikerjakan. Sampai – sampai kerja bhakti saja kita datang terlambat, karena ada urusan lain yang harus juga diselesaikan.

    Mungkin, usul saja, bagaimana kalau di Indonesia mengembangkan aturan waktu sendiri misalnya 30 jam atau sekalian 50 jam dalam sehari??

    [Reply]

  7. Satu-satunya yg bisa saya banggakan, saya bukan orang pengguna jam karet.

    Selalu tepat…haha, sebuah rencana selalu diperhitungkan waktunya, sehingga selalu tepat waktu, kecuali dapet musibah baru waktupun ikut mancla mencle

    [Reply]

  8. gini aja pak,
    kalo mo janjian jam 11 misalnya tanyain balik..
    jam 11-nya siapa?
    jam 11-mu sama jam 11-ku kan beda.
    hahahahaha….

    [Reply]

  9. wah… pak guru matematika ini selayaknya jadi ustadz saja… ini bahasannya erat sekali dengan surat Al Asr…
    Demi Waktu…. sesungguhnya….

    [Reply]

  10. Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi. Merugi karena menyia-nyiakan waktu…
    Bannernya nambah satu lagi diside bar, sis brencia… | ikutan ah..

    [Reply]

  11. ada yang tidak molor pakdhe…

    kalo dapat undangan resepri nikah prasmanan… pada tepat waktu datangnya.

    [Reply]

  12. jam karet apapun (karet gelang, karet pentil, karet ban) bukan sebuah budaya. tapi ia merupakan penyakit, seperti panu, kadas, kurap dll.
    semua kembali kepada kita. apakah kita ingin sembuh, atau malah bangga dengan panu, kadas, kurap yang menghias muka kita.
    terlambat, merupakan bukti ketidakmampuan kita dalam mengatur waktu, juga bukti bahwa kita tidak amanah menggunakan waktu.

    [Reply]

  13. jam saya selalu saya cepetin 5 menit lebih awal pak. jadi kemanapun saya punya janji saya biasanya 5 menit lebih cepat. selambat-lambatnya ya tepat waktu hehehe….. efektif tuh..

    oh ya pak maaf kalau rantainya kembali ke sini lagi. kali aja ada yang pernah nibanin pak marsu dengan duren award.. hehe. nama bapak tak sebut tuh di blog saya.. ehhee

    [Reply]

  14. Aku jengkel juga sama orang-orang Indonesia di sini. Udah dibilang aku bakal datang sekitar 5 menit lagi. Maksud dari telponku: supaya mereka segera pakai jaket, keluar appartement dan nunggu aku di trotoar. Eh … masih juga aku harus nunggu 10-15 menit di parkiran!

    Waktu mo nganterin 2 anak yg mo pulang ke Indonesia minggu kemarin: kereta TGVnya jam 13.44, maka aku janji jemput jam 12.44. Maksudku jika mereka telat turun dari apartement 10 menit, yeah masih ada spare waktu…jika ada macet di jalan juga …
    Pas hari H nya aku sengaja datang jam 11 dan bilang kami bakal cabut 30menit lagi karna aku ada acara lagi! Enggak tahu apa yang mereka lakukan … gara-gara aku … mereka buru-buru … tahu ngak kami berangkat jam berapa? Jam 12.50

    Bisa dibanyangin jika aku jemput mereka jam 12.44, mungkin kami berangkat jam 13.44!!!

    [Reply]

  15. Pingback: metaMARSphose » Coblos jadi Contreng itu Milyaran lho…
  16. kalau waktu memang banyak yang kurang perhatian tapi kalo NAKTU pasti sangat diperhatikan…

    [Reply]

  17. Pingback: metaMARSphose » Plus Minusnya Toleransi
  18. Pingback: metaMARSphose » Dua Waktu
  19. Pingback: metaMARSphose » Undangan Dari Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *